Fluktuasi Mereda, Rupiah Berpotensi Terus menguat

Fluktuasi yang terjadi saat ini merupakan yang terendah sejak 16 tahun terakhir.

  • Seorang petugas menyusun tumpukan uang rupiah di sebuah Bank BUMN di Jakarta. Validnews/Don Peter
    Seorang petugas menyusun tumpukan uang rupiah di sebuah Bank BUMN di Jakarta. Validnews/Don Peter

    JAKARTA- Sejumlah pihak meyakini nilai tukar rupiah ke depannya bakal terus menguat terhadap mata uang utama dunia. Tanda-tanda kurs Rupiah bakal membaik ke depannya sudah terlihat dari terapresiasinya rupiah yang dibarengi dengan fuktuasi yang mulai mereda belakangan ini.

    Badan Pusat Statistik (BPS) melansir, nilai tukar rupiah terapresiasi terhadap dua kurs utama dunia, Dolar As dan Yen Jepang sepanjang Juni 2017. Menurut catatan BPS, rupiah sempat terapresiasi hingga 0,21% terhadap dolar AS.

    Kepala BPS Suhariyanto, mengatakan nilai tukar rupiah pada Juni 2017 sempat mencapai sebesar Rp13.278,69 per dolar AS, atau menguat sebesar 0,21%. Level tertinggi rata-rata kurs tengah eceran rupiah terhadap Dolar AS terjadi di minggu kedua Juni, tatkala Rupiah mencapai sebesar Rp13.273,45 per dolar AS. Level tertinggi juga terjadi di Bali yang mencapai Rp13.101,88 per dolar AS pada minggu keempat Juni tahun 2017.

    “Pada minggu keempat Juni ini dibanding minggu kelima Mei rupiah terapresiasi 0,21% terhadap Dolar AS," ucap Suhariyanto di Jakarta, Senin (17/7),

    Ia merinci, pada minggu terakhir Juni 2017, rata-rata nasional nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat 28,02 poin atau 0,21% dibanding kurs pada minggu terakhir Mei 2017. Untuk diketahui, BPS mendasarkan perhitunganya dari aktivitas pertukaran uang asing di money changer yang dilakukan di 24 provinsi.

    Adapun apresiasi rupiah terhadap yen Jepang tercatat mencapai 0,52% menjadi sebesar Rp118,75. Level tersebut menjadi yang tertinggi secara rata-rata nasional kurs tengah eceran rupiah terhadap yen Jepang jatuh pada minggu keempat Juni 2017. Level tertinggi terjadi di NTT yang mencapai Rp112,50 per yen Jepang di minggu ketiga Juni tahun ini.

    Namun, rupiah terekam mengalami depresiasi terhadap euro sebesar 1,06% pada Juni ini mencapai Rp14.996,62. Nilai tersebut menjadi yang terendah secara rata-rata kurs nasional yang jatuh pada minggu keempat Juni 2017.

    "Level terendah kurs tengah terjadi di Nusa Tenggara Timur yang mencapai Rp15.216,45 pada minggu keempat Juni 2017," ujarnya.

    Selain terhadap Dolar AS, pelemahan rupiah juga terjadi terhadap dolar Australia sebesar 2,06% dengan nilai Rp10.112,91. Nilai tersebut menjadi level terendah rata-rata nasional kurs tengah yang jatuh tempo pada minggu keempat Juni 2017. Level terendah kurs tengah ini terjadi di Sulawesi Tengah yang mencapai Rp10.306,68 per dolar Australia pada minggu keempat Juni tahun 2017.

    Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada menuturkan, The Fed yang tidak akan agresif dalam menaikkan suku bunganya membuat aset berdenominasi mata uang berkembang seperti rupiah mengalami apresiasi.

    "Inflasi Amerika Serikat yang melambat memperkuat pandangan bahwa The Fed (bank sentral AS) tidak akan agresif menaikkan suku bunga acuan dalam waktu cepat sehingga berimbas pada kurs rupiah," katanya seperti dikutip dari Antara (17/7).

    Chief Economist PT Bank CIMB Niaga Tbk Adrian Panggabean dalam acara Diskusi Media Bersama Chief Economist CIMB Niaga: Meraih Pertumbuhan Ekonomi Nasional” di Graha CIMB Niaga, Jakarta, Senin (17/7) menuturkan, Secara year-to-date, rupiah terapresiasi sekitar 0,8% dibandingkan tahun lalu.

    Menurutnya, sejak akhir tahun 2016 hingga akhir semester I 2017, kurs rupiah memang cenderung stabil di level Rp13.300 hingga Rp13.400. Hal ini pun dibarengi dengan flutuasi nilai tukar rupiah yang menurun. Adrian bilang, dalam tiga tahun terakhir, apresiasi rupiah berada di kisaran 2% sampai 4%.

    Bahkan, ia menyebut, fluktuasi yang terjadi saat ini merupakan yang terendah sejak 16 tahun terakhir. ia mengungkapkan, sejak Oktober 2016 fluktuasi Rupiah terlihat flat dan terus turun ke level terendah sejak tahun 2001. "Itu berarti terendah selama 16 tahun terakhir," serunya.

    Nilai tukar rupiah cenderung stabil, inflasi meningkat namun tidak terjadi secara berlebihan dan mengkhawatirkan, disimpulkannya sebagai bukti perbaikan fundamenta ekonomi Indonesia terjadi secara riil.

    Kata Adrian, di pasar keuangan sendiri, arus masuk modal tercatat lebih tinggi sebesar Rp 79,1 triliun per April 2017 dibandingkan periode yang sama tahun 2016 yang hanya mencapai Rp 57,6 triliun. (Faisal Rachman)