Fitch Kerek Peringkat Utang Indonesia ke BBB

Indonesia dinilai mampu menjaga ketahanan terhadap guncangan eksternal atau faktor global dalam beberapa tahun terakhir. Kebijakan moneter Indonesia pun dianggap mampu membatasi dampak dari aliran dana investor asing yang keluar dari Indonesia

  • Ilustrasi Fitch Ratings. nineoclock.ro
    Ilustrasi Fitch Ratings. nineoclock.ro

    JAKARTA- Lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings memperbaiki peringkat utang jangka panjang dalam mata uang asing dan lokal Indonesia, menjadi BBB dengan outlook stabil, dari sebelumnya BBB- dengan Outlook Positif. Sebelumnya, pada awal tahun ini, peringkat kredit Indonesia juga ditingkatkan oleh Moody's dari positif menjadi stabil dan S&P dari BB+ menjadi BBB-.

    Fitch sebelumnya mengafirmasi peringkat Indonesia pada level BBB- atau Outlook Positif pada 20 Juli 2017 lalu. Bank Indonesia (BI) pun menilai kenaikan peringkat Indonesia ini merupakan cermin dari pencapaian Indonesia dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

    "Pencapaian ini merupakan cerminan dari keberhasilan Indonesia dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan yang menjadi landasan bagi pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan," kata Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo di Jakarta, Kamis (21/12) seperti dilansir Antara.

    Agus menyambut baik perubahan peringkat Indonesia tersebut karena kenaikan BBB- atau Outlook Positif menjadi BBB dengan Outlook Stabil merupakan pencapaian tertinggi peringkat utang yang pernah dicapai Indonesia sejak 1995.

    Untuk itu, Agus memastikan komitmen Bank Indonesia guna menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat, berkelanjutan, seimbang dan inklusif.

    Mengutip dari Bloomberg, Fitch menaikkan peringkat utang Indonesia setelah Indonesia dinilai tahan terhadap guncangan eksternal atau faktor global dalam beberapa tahun terakhir.

    Hal ini sejalan dengan konsistensi kebijakan makro ekonomi untuk menjaga stabilitas nilai tukar yang lebih fleksibel sejak pertengahan 2013. Selain itu, Indonesia juga dinilai mampu menjaga cadangan devisa Indonesia dengan baik.

    Sesuai data dari Bank Indonesia, posisi cadangan devisa Indonesia akhir November 2017 tercatat US$125,97 miliar. Posisi cadangan devisa pada akhir November 2017 tersebut cukup untuk membiayai 8,4 bulan impor atau 8,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

    Indonesia dinilai secara disiplin mampu menjaga kebijakan moneternya dalam membatasi dampak aliran dana investor asing yang keluar dari Indonesia . Langkah Indonesia dalam menjaga batas utang luar negeri terutama perusahaan serta pendalaman pasar keuangan juga membantu stabilitas pasar lebih baik.

    Fitch memperkirakan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia tahun depan masih kuat, dengan prediksi naik menjadi 5,4% pada 2018 dan 5,5% pada 2019. Sekadar informasi, pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga kuartal III tahun 2017 menurut data BPS adalah  dari 5,06%. Adapun target pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2018 sesuai APBN 2018 adalah sama dengan prediksi Fitch, 5,4%.

    Fitch juga menilai rencana belanja infrastruktur publik lebih tinggi, biaya pinjaman lebih rendah dan pelaksanaan reformasi struktural membuat Indonesia lebih kuat. Beban utang pemerintah sebesar 28,5% dari PDB pada 2017 sesuai yang diharapkan Fitch.

    Fitch yakin kenaikan defisit cenderung stabil di 2,7% dan bertahan di batas maksimum 3%. Ini menjadi katalis positif yang membantu meningkatkan kepercayaan investor di Indonesia.

    Kedepannya, tantangan eksternal yang kemungkinan dihadapi Indonesia adalah tekanan pasar terhadap kebijakan pengetatan moneter oleh bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (The Fed). Selain itu, ketergantungan Indonesia terhadap harga komoditas juga masih relatif tinggi.

    Sementara dari dalam negeri, tantangan yang akan dihadapi Indonesia adalah tahun politik, yakni Pilkada Serentak 2018 dan persiapan menuju Pilpres 2019. Hal ini menjadi sentimen domestik yang dapat mengganggu pasar.

    Sentimen Positif
    Kenaikan peringkat Indonesia ini menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan Indonesia. Hal ini terlihat dari kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang dibuka positif di level 6.129,53 pada pembukaan perdagangan Kamis (21/12) atau naik 20,53 poin (0,33%) dari level penutupan perdagangan sehari sebelumnya.

    Hingga penutupan Sesi I Kamis, IHSG ditutup di level 6.171,72 atau naik 62,34 poin (1,02%) dari level penutupan sehari sebelumnya. IHSG pun bergerak pada rentang 6.126,79- 6.175,06.

    Sekadar informasi, pada penutupan Rabu (20/12), IHSG ditutup pada zona merah, setelah sebelumnya sukses memecahkan rekor tertinggi selama empat hari beruntun. Rekor penutupan tertinggi IHSG kini menjadi 6.167,67 yang dibukukan pada Selasa (19/12), sementara rekor intraday tertinggi IHSG adalah 6.176,45 yang dibukukan pada Rabu (20/12).

    Menurut analis Recapital Sekuritas Indonesia Kiswoyo Adi Joe, IHSG berpotensi kembali membukukan rekor berikutnya hingga akhir tahun 2017 ini. “Dengan adanya kenaikan rating ini, IHSG berpotensi ke 6.250,” ucap Kiswoyo kepada Validnews, Kamis (21/12).

    Sementara itu, analis dari Kresna Graha Sekurindo William Mamudi menilai IHSG masih berpotensi naik memanfaatkan momen window dressing di akhir tahun ini. “Kenaikan IHSG secara teknikal sudah mencapai target tahun ini. Ada sedikit peluang hingga minggu depan, dengan prediksi pergerakan IHSG pada rentang 6.050-6.200,” ujar William.

    Beberapa saham yang menurut William layak dicermati secara teknikal antara lain adalah UNTR dan ADRO. “Pola candlestick UNTR sudah membentuk pola morning star di support 32.000 menuju 34.000. Sementara ADRO sudah membentuk pola bullish marubozu dengan rentang pergerakan 1.700-1.900,” imbuh William.

    Adapun menurut analis dari Reliance Sekuritas Lanjar Nafi secara teknikal pergerakan saham TINS dan AKRA layak untuk dicermati. “Harga saham TINS mencoba menembus batas MA20 dengan indikasi penguatan lebih lanjut hingga menguji MA50. Indikator stochastic bergerak positif mendekati area jenuh beli dengan momentum bullish yang cukup optimis,” ujar Lanjar dalam laporannya yang diterima Validnews.

    Lanjar menilai target price TINS di posisi 835-840, dengan batasan stop loss jika menembus batas support 790. Adapun untuk AKRA, indikator stochastic bergerak terkonsolidasi dengan momentum RSI yang cenderung mendatar pada level oversold oscillator. Secara teknikal, AKRA berpotensi menembus target price di rentang 6.300-6.650, stop loss jika menembus 5.950. (Rizal, Faisal Rachman)