RISALAH PERGANTIAN TAHUN

Ekonomi Merekah, Pasar Modal Sumringah

Selain membukukan rekor penutupan IHSG tertinggi di level 6.355,64, Bursa Efek Indonesia juga sukses membukukan rekor kapitalisasi pasar tertinggi sepanjang sejarah, Rp7.052 triliun

  • Penutupan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta,  Jumat (29/12). dok OJK
    Penutupan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (29/12). dok OJK

    JAKARTA- Tahun 2017 telah berakhir. Sepanjang tahun itu, Bursa Efek Indonesia telah mencapai berbagai pencapaian rekor dalam sejarah pasar modal Indonesia. Para investor, BEI, regulator dan semua pemangku kepentingan pun sumringah, sembari berharap pencapaian-pencapaian tersebut turut membantu perekonomian Indonesia secara keseluruhan.

    “Dengan mengucap Bismillahirahmanirahim maka perdagangan Bursa Efek Indonesia tahun 2017 secara resmi ditutup,” kata Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, di Main Hall BEI, Jumat (29/12).

    Semua mata hadirin pun tertuju kepada layar yang menunjukkan angka penutupan IHSG yang menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah, 6.355,64.

    “Ini angka yang di luar perkiraan kita semuanya. Dulu banyak yang menyampaikan, bisa 6.000 saja kita sudah untung, sudah senang, nah kalau sekarang 6.355, gimana?,” kata Jokowi disambut gelak tawa para hadirin.

    Wajar saja apabila semua pemangku kepentingan gembira. Pasalnya, sepanjang tahun ini, perekonomian Indonesia sempat diterpa berbagai kekhawatiran, baik itu yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri.

    Dari dalam negeri misalnya, panasnya situasi Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta sempat membuat para analis menyarankan investor untuk wait and see. Dari luar negeri, kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Sentral Amerika, The Fed, dikhawatirkan membuat mata uang negara lain rontok.

    Lalu isu-isu politik terkait pemilihan presiden dan legistatif di Eropa, Brexit, hingga proteksionisme akibat perang dagang yang bakal menganggu stabilitas ekonomi Indonesia, menjadi kekhawatiran lainnya.

    Setahun berlalu, ternyata Indonesia mampu melalui semua kegalauan itu dengan baik. Pasar modal pun tumbuh merekah. Ditandai dengan IHSG yang sepanjang tahun 2017 sukses tumbuh 19,99%. Secara nilai, IHSG tumbuh empat digit, tepatnya 1.058,94 poin dari level penutupan 2016 di level 5.296,71.

    “Jadi kalau kita jual semua saham kita di awal tahun (2017) karena khawatir, atau supaya aman pegang cash, ya itulah keuntungan yang gagal kita dapat. Hilang, hilang deh,” ujar Jokowi. Presiden pun berpesan, agar investor tidak takut untuk berinvestasi. Risiko selalu ada, tapi kata Jokowi justru disitulah peluangnya.

    Asal tau saja, sepanjang tahun ini, nilai kapitalisasi pasar semua saham-saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia adalah sebesar Rp7.052 triliun. Angka tersebut tumbuh Rp1.298 triliun dari nilai kapitalisasi pasar setahun sebelumnya, atau tumbuh 22,56%. Lagi-lagi, nilai kapitalisasi pasar tersebut merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah pasar modal Indonesia.

    Adapun untuk rata-rata volume transaksi harian juga membukukan rekor tertinggi, yakni 11,953 miliar lembar saham, dengan nilai transaksi Rp7,603 triliun per hari. Rata-rata frekuensi transaksi harian juga membukukan rekor tertinggi sebesar 312.485 kali.

    “Di kawasan Asia Tenggara, frekuensi kita sudah empat kalinya Singapura dan dua kali Malaysia. Likuiditas perdagangan saham BEI lebih likuid di antara bursa-bursa lainnya di kawasan regional Asia,” kata Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Tito Sulistio.

    Terkait dengan perbandingan dengan bursa-bursa di negara lain, pertumbuhan IHSG sukses menjadi salah satu yang terbaik di kawasan Asia Tenggara, Asia, hingga dunia. Pada level Asia Tenggara, pertumbuhan IHSG sebesar 19,99% sukses mengalahkan pertumbuhan Bursa Singapura (18,13%), Thailand (13,66%) dan Malaysia (9,45%). IHSG hanya kalah dari Bursa Filipina yang mengalami pertumbuhan 25,11%.

    Di level Asia, IHSG juga mengalahkan pertumbuhan Bursa Jepang (19,1%) dan Bursa China (6,56%). Pada level dunia, IHSG sukses mengalahkan pertumbuhan Bursa Inggris (6,9%) dan Australia (7,84%). Selain dengan Filipina dan Korea Selatan, pertumbuhan IHSG hanya kalah dari Hong Kong (35,99%), Amerika Serikat (25,68%) dan India (27,9%).

     

     

    Jumlah Investor
    Selain itu, pencapaian lain pasar modal Indonesia di tahun 2017 adalah meningkatnya jumlah investor. Mengacu jumlah pemilik Single Investor Identification (SID) per 20 Desember 2017, jumlah SID adalah sebanyak 1.119.913 investor. Jumlah itu meningkat 25,24% dari jumlah SID di Desember 2016.

    Hal ini tak terlepas dari kenaikan literasi pasar modal yang berdasarkan survei AC Nielsen meningkat dari 4,3% tahun 2016, menjadi 15% tahun 2017. Tak sekadar jumah, nilai investasi investor domestik juga mengalami kenaikan mencapai Rp307 triliun di sepanjang tahun 2017.

    Berdasarkan data aset di Central Depository and Book Entry Settlement System (C-BEST) Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), hingga 20 Desember 2017 total aset di C-BEST mengalami pertumbuhan sebesar 19,33% menjadi Rp4.269,04 triliun. Jumlah kekayaan investor domestik pun meningkat Rp478,39 triliun, terlihat dari kenaikan aset Investor domestik yang kini mendominasi kepemilikan menjadi 54,59% atau setara Rp2.330,47 triliun.

    Sementara itu, jumlah aset Investor asing pun meningkat Rp213,14 triliun, dari Rp1.725,43 triliun di tahun 2016 menjadi Rp1.938,57 triliun. Padahal sepanjang tahun investor asing telah tercatat membukukan net sell sebesar Rp39,87 triliun. Hal ini bisa terjadi karena meski persentse kepemilikan efek berkurang, nilai nominalnya sudah meningkat dibanding setahun yang lalu.

     “Jadi tidak benar itu bahwa dana asing keluar dari pasar modal Indonesia. Mereka hanya merealisasikan keuntungan sekitar 15% (tepatnya 12,35%-red) dari total kenaikan investasinya,” kata Tito menjelaskan.

    Sepanjang tahun 2017 sendiri, pasokan efek memang bertambah dengan hadirnya 37 emiten baru yang melakukan pencatatan perdana saham (initial public offering) di BEI. Jumlah perusahaan IPO ini merupakan yang tertinggi di BEI sepanjang sejarah, serta yang terbanyak di tahun 2017 di antara negara-negara di kawasan Asia Tenggara lainnya.

    Pada saat yang sama, jumlah dana yang berhasil dihimpun juga mencapai nilai tertinggi sepanjang sejarah, sekitar Rp802 triliun, yang berasal dari IPO, penerbitan penambahan saham baru (rights issue), konversi waran, sekuritisasi aset dan penerbitan obligasi pemerintah, BUMN maupun swasta.

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga mencatat beberapa catatan positif di pasar modal Indonesia sepanjang 2017. Penyaluran pembiayaan melalui instrumen pasar modal mencapai Rp276,5 triliun selama Januari hingga November 2017 atau naik 24,1% dibanding November 2016.

    Angka tersebut juga lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit perbankan yang hingga akhir tahun diperkirakan hanya akan mencapai 7,47%. Instrumen pembiayaan yang paling banyak digunakan di pasar modal adalah obligasi dengan penyerapan dana mencapai Rp162,7 triliun.

    Kemudian instrumen saham sebesar Rp73,8 triliun, juga, utang jangka menengah, sertifikat deposito, dan Promissory Notes yang secara kumulatif sebesar Rp40 triliun.


     

    Fundamental Ekonomi
    Lantas apa yang membuat pasar modal Indonesia begitu bergelora di tahun 2017? Saat ditemui Validnews akhir Desember lalu, Tito berpendapat, membaiknya fundamental ekonomi Indonesia menjadi salah satu faktor utama pendorong perkembangan pasar modal.

    “Ekonomi kita dibandingkan tahun-tahun sebelumnya lebih stabil. Selain itu, setelah adanya program tax amnesty, transparansi semakin terbuka. Hal ini meningkatkan keberanian berinvestasi. Tadinya orang takut-takut, sekarang lebih berani, uang gua udah enggak bisa dikemana-manain,” ujar Tito.

    Selain itu, rendahnya tingkat suku bunga acuan dari Bank Indonesia (BI 7-Day Repo Rate) dan terjaganya tingkat inflasi, membuat investor beralih ke pasar modal sebagai tempat menginvestasikan dananya. Berdasarkan data Bank Indonesia, BI telah menurunkan suku bunga acuan BI 7-Day Repo Rate berturut-turut pada Agustus (menjadi 4,5%) dan September 2017 (menjadi 4,25%).

    Sementara itu, besarnya inflasi tahunan secara year on year pada Desember 2017 adalah sebesar 3,61%, di bawah target BI 4% dan asumsi APBN-P 2017 sebesar 4,3%.

    “Ini yang bagi saya sesuatu yang paling relatif membuat menarik. Selisih antara inflasi dan suku bunga tidak sampai 3—4% seperti dulu. Ini sangat positif untuk perkembangan pasar modal,” kata Tito.

    Senada, Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla pun mengungkapkan menurunnya suku bunga deposito membuat masyarakat kini mencari alternatif investasi lain. Salah satunya adalah saham.

    “Kenaikan indeks pasar modal salah satu imbas daripada turunnya suku bunga perbankan, daripada bunga deposito hanya 5%, mending beli saham dia bisa dapat 10%, itu imbasnya,” ucap Jusuf Kalla saat membuka perdagangan perdana di tahun 2018, Selasa (2/1).

    Sekadar informasi, menurut data dari Otoritas Jasa Keuangan, saat ini telah terjadi tren penurunan suku bunga deposito. Per November 2017, rata-rata suku bunga deposito satu bulan adalah 5,72%. Tiga bulan 6,19%, enam bulan 6,6% dan 12 bulan 6,67%.

    Bunga deposito itu sendiri diberikan dengan asumsi per tahun. Artinya, jika dibandingkan dengan return IHSG selama 2017 sebesar 19,99% maka return saham hampir tiga kali lipat bunga deposito selama setahun.

    Analis dari Recapital Sekuritas Indonesia Kiswoyo Adi Joe menilai, perbaikan investment grade Indonesia dari beberapa lembaga pemberi rating internasional juga turut mengerek optimisme pasar. Pada awal tahun 2017, peringkat kredit Indonesia memang ditingkatkan oleh Moody's dari positif menjadi stabil. Berikutnya S&P juga meningkatkan peringkat Indonesia dari BB+ menjadi BBB-.

    Lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings pada Desember juga memperbaiki peringkat utang jangka panjang dalam mata uang asing dan lokal Indonesia, menjadi BBB dengan outlook stabil, dari sebelumnya BBB- dengan outlook positif.

    “Kenaikan rating Indonesia serta kondisi makro Indonesia yang sehat turut meningkatkan optimisme pasar. Jika dilihat dari kenaikan indeks IHSG maka yang mendorong pertumbuhan IHSG tahun ini adalah emiten-emiten perbankan,” ujar Kiswoyo kepada Validnews, akhir tahun lalu.

    Mengacu kepada pertumbuhan indeks sektoral, memang saham-saham sektor keuangan khususnya dari emiten perbankan merupakan penopang utama kenaikan IHSG tahun ini. Ya, sektor keuangan menjadi sektor dengan pertumbuhan indeks tertinggi, yakni 40,52%, diikuti sektor industri dasar dan kimia 28,06% dan barang konsumsi sebesar 23,11%.

    Saham-saham perbankan dengan kapitalisasi pasar tinggi, seperti Bank BRI yang naik 55,9% sepanjang 2017, Bank BCA yang naik 41,3%, Bank BNI yang naik 79,2% dan Bank Danamon yang naik 87,3% menjadi penggerak IHSG alias Leader Mover sepanjang 2017.

    Bisa dibilang, kenaikan rating-rating tersebut ‘menyelamatkan’ bank dari larinya dana investor ke pasar modal. Pasalnya secara logika suku bunga bank yang turun membuat pamor bank seharusnya memudar.

    Selain perbankan, emiten barang konsumsi seperti Unilever Indonesia juga naik 44,1%. Kemudian emiten rokok HM Sampoerna dan Gudang Garam yang naik 23,5% dan 31,1%, serta emiten industri kimia Chandra Asri Petrochemical yang naik 48% juga menjadi pendorong IHSG sepanjang 2017.

    Ada yang naik, tentu ada juga yang turun. Sektor agrikultur menjadi sektor yang mengalami penurunan nilai indeks terbesar, setelah turun 13,3%. Satu indeks sektoral lainnya yang juga mengalami penurunan adalah indeks sektor properti, real estat dan konstruksi bangunan yang turun 4,31%.

    Menurunnya harga CPO membuat harga saham emiten sawit seperti Astra Agro Lestari (AALI) juga turun 21,6% secara year on year. Selain itu, belum selesainya beberapa proyek konstruksi membuat emiten-emiten BUMN Karya, seperti Wijaya Karya (WIKA) dan Pembangunan Persero (PTPP) mengalami negative cash flow sehingga harga sahamnya menyusut 34,3% dan 30,7%. Ketiga saham itu masuk dalam 10 besar Laggard Mover alias pemberat IHSG sepanjang 2017.

    Adapun saham-saham yang menjadi top gainer atau yang mengalami pertumbuhan tertinggi sepanjang tahun 2017 adalah saham Wicaksana Overseas (tumbuh 980%), Ancora Indonesia (676%), Indah Kiat Pulp and Paper (465,45%), Bank Ina Perdana (426,46%), dan Destinasi Tirta (423,62%).

    Sementara itu, saham-saham yang menjadi top loser atau yang mengalami penurunan tertinggi sepanjang 2017 adalah Polaris Investama (-87,68%), Capitol Nusantara (-84,60%), Renuka Coalindo (79,76%), Energi Mega Persada (-77,75%) dan Tiga Pilar Sejahtera (-75,53%).

     

     

    Nilai Emisi
    Namun, meski berhasil mencatatkan berbagai torehan positif, masih ada beberapa hal yang perlu ditingkatkan lagi oleh Bursa Efek Indonesia kedepannya. Salah satunya adalah nilai emisi, atau dana yang terhimpun dari proses penawaran perdana (initial public offering atau IPO) saham di Bursa Efek Indonesia.

    Sesuai data statistik pasar modal OJK, meski tahun ini BEI sukses membukukan rekor jumlah emiten yang melakukan IPO, nilai emisi yang berhasil terhimpun hanyalah Rp9,56 triliun.

    Angka Rp9,56 triliun merupakan angka kedua terendah selama periode tujuh tahun terakhir, hanya unggul dari nilai emisi IPO di tahun 2014 sebesar Rp8,3 triliun.

    Menurut Direktur Penilaian Perusahaan BEI Samsul Hidayat, dana yang terhimpun dari IPO tahun ini memang lebih kecil. Hal ini disebabkan karena sebagian besar perusahaan-perusahaan yang melakukan IPO di tahun ini adalah perusahaan berskala kecil dan menengah.

    “Kabar gembiranya perusahaan yang berukuran medium dan kecil itu sudah banyak yang mau dan berani menggunakan alternatif penghimpunan dana dari pasar modal. Kami harap perusahaan besar turut berani mencari alternatif pendanaan dari pasar modal,” ujar Samsul saat ditemui Validnews di Main Hall Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (29/12).

    Masih banyaknya perusahaan berskala menengah dan kecil inilah yang menurut Tito menyebabkan nilai kapitalisasi pasar saham-saham di BEI jomplang. Sebagai gambaran, 50 perusahaan dengan kapitalisasi tertinggi di BEI tahun 2017 menguasai 74,77% kapitalisasi pasar secara keseluruhan.

    Dengan total emiten yang mencatatkan sahamnya di BEI sebanyak 567 emiten, berarti nilai kapitalisasi 517 emiten lainnya hanyalah 25,23% kapitalisasi pasar secara keseluruhan.

    “Secara frekuensi dan volume perdagangan, kita memang tinggi. Tapi secara uang kecil sekali karena saham kita murah-murah,” kata pria yang pernah menjabat sebagai Komisaris Bursa Efek Surabaya, 1995—1998 itu.

    Menurut Tito, indeks harga saham gabungan (IHSG) sebenarnya bukan target dari bursa. Tugas bursa adalah membagikan informasi secara berkesinambungan, menyediakan infrastruktur dan menyediakan produk.

    “Nah, itu dilihat dari besarnya market caps karena itu market caps menjadi salah satu ujung tombak keberhasilan bursa,” ujar Tito.

    BEI pun menargetkan pada tahun 2020, kapitalisasi pasar BEI sudah mencapai Rp10.000 triliun. Untuk itu BEI saat ini sedang menargetkan beberapa emiten besar untuk bisa mencatatkan sahamnya di BEI.

    Salah satunya adalah sembilan anak BUMN yang rencananya akan melantai di tahun 2018. Sebelumnya, BEI sempat menargetkan induk BUMN yang melakukan IPO. Hanya saja, target tersebut sedikit sulit terealisasi lantaran terganjal UU No 19 tahun 2003.

    “Ada 13 pasal di UU tersebut yang menghambat BUMN untuk melakukan IPO. Ada 25 langkah yang harus ditempuh BUMN apabila mau IPO, prosesnya perlu dua hingga empat tahun. Tapi anak perusahaan BUMN lebih mudah. Kita harapkan sembilan anak BUMN bisa melantai tahun 2018,” kata Tito.

    Selain itu, BEI juga memasukkan 20 konglomerasi serta 124 perusahaan yang meminjam dari bank lebih dari Rp1 triliun ke dalam radar IPO. BEI juga menilai, terdapat beberapa perusahaan asing yang meraih pendapatan dari Indonesia juga diharapkan bisa segera go public.

    “Ada lebih dari 40 perusahaan yang pendapatannya lebih dari 30% atau asetnya lebih dari 30% ada di Indonesia, atau bahkan asetnya ada yang 100% dari Indonesia. Mereka listed-nya di luar negeri. Itu kan tidak elok. Ini kita lagi kejar 40 perusahaan itu, market caps nya hampir Rp400 triliun lebih,” ujar Tito.

    Salah satu dari perusahaan itu adalah Freeport Indonesia. Wacana tersebut sebenarnya sudah dimulai sejak pertengahan 2017 lalu, kala Presiden berkunjung ke BEI.

    “Freeport itu kami kejar terus karena pak Presiden sudah menginstruksikannya sejak pertengahan 2017 lalu. Saya sudah berbicara dengan para Menteri, Pak Airlangga, Pak Darmin, Bu Ani, Pak Luhut mereka siap bantu,” ujar Tito.

    Menurut Tito, sebenarnya tidak ada kesulitan atau kendala bagi Freeport untuk bisa melantai di lantai Bursa Efek Indonesia. Tinggal bagaimana kemauan mereka untuk bisa memberi kesempatan kepada publik Indonesia untuk memiliki saham Freeport.

    No reason. Freeport kalau mereka sayang Indonesia, pendapatan mereka dari Indonesia, mereka listed di Indonesia dong,” ujar Tito.

    Jika target kapitalisasi Rp10.000 triliun terwujud maka BEI yakin pasar modal dapat membantu perekonomian Indonesia secara keseluruhan, khususnya dalam memobilisasi penghimpunan dana dalam jangka Panjang.

    “Singapura itu kapitalisasi pasarnya di atas 200% nilai PDB mereka, Malaysia di atas 120%, Amerika Serikat di atas 120%, Thailand 70%. Kalau kita mencapai Rp10.000 triliun itu baru 65% GDP di tahun 2020. Jadi sebenarnya kita sedang bermimpi mengejar ketertinggalan,” ucap Tito.

    Menteri Keuangan Sri Mulyani juga mendorong semakin banyaknya perusahaan untuk masuk bursa. Menurutnya, dengan nilai kapitalisasi yang meningkat, perusahaan yang tercatat akan ekspansi dan pertumbuhan ekonomi bisa dipacu lebih baik. Hal ini diharapkan bisa memberikan kontribusi kepada kinerja pertumbuhan ekonomi nasional secara jangka panjang.

    "PDB kita Rp13.500 triliun, jadi dengan kapitalisasi Rp7.000 triliun, kita masih punya ruang cukup banyak. Syaratnya makin banyak perusahaan yang tercatat dan makin banyak investor dalam negeri yang sadar untuk menabung saham," ujar Sri Mulyani.

    Adapun Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution berharap, pertumbuhan pasar modal ini juga bisa mendorong sektor riil.

    "Jika IHSG yang naik, tapi perusahaan yang melakukan IPO tidak naik, berarti hanya harga saham yang naik. Tapi tahun ini IHSG naik, jumlah IPO juga naik maka sektor riil bisa ikut menikmati perkembangan dari pasar modal," kata Darmin.

    Pembiayaan Infrastruktur
    Sebagai salah satu alternatif tempat penghimpunan dana, kehadiran pasar modal juga diharapkan menjadi alternatif pembiayaan infrastruktur, investasi swasta maupun pembiayaan program-program strategis pemerintah lainnya.

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selaku regulator kegiatan keuangan di Indonesia mengaku siap mengoptimalkan peran pasar modal dalam pembangunan nasional.

    “Kami memiliki komitmen besar melalui berbagai kebijakan penyempurnaan dan perluasan instrumen pasar modal, serta tentunya dengan dukungan perbaikan fundamental ekonomi melalui berbagai kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia,” ujar Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santos, Selasa (2/1).

    OJK sendiri sudah memulai beberapa program strategis, misalnya regulasi terkait pembiayaan infrastruktur melalui pasar modal. Beberapa contoh pembiayaan infrastruktur melalui pasar modal sepanjang tahun 2017 ini dapat terlihat dari tercatatnya 20 emiten sektor infrastruktur yang melakukan penghimpunan dana melalui pasar modal, dengan total nilai emisi Rp38,9 triliun.

    Selain itu, OJK juga memberikan izin untuk dua Kontrak Investasi Kolektif-Efek Beragun Aset (KIK-EBA) terkait infrastruktur, dengan nilai sekuritisasi Rp6 triliun. OJK juga telah meluncurkan pembiayaan Efek Beragun Aset-Surat Partisipasi (EBA-SP) di mana hingga November 2017, telah diterbitkan 4 izin EBA-SP dengan total nilai Rp2,36 triliun.

    Menurut Wimboh, tahun ini sendiri pasar modal sudah menjadi alternatif pembiayaan yang lebih besar dibanding perbankan. Tren pembiayaan di pasar modal tahun depan berpeluang kembali meningkat.

    “Di pasar modal ini, surat utang yang dikeluarkan sudah tidak ada risiko suku bunga, khususnya bila suku bunganya tetap. Hal ini berbeda dengan kredit perbankan,” ujar Wimboh.

    Sementara itu, Tito sendiri optimistis kedepannya pasar modal bakal menjadi alternatif pembiayaan utama. “Suka tidak suka. arahnya seperti itu. Dengan keterbatasan dana di perbankan, tingkat loan to deposit, pasar modal menjadi satu-satunya cara untuk memobilisasi dana jangka panjang di tahun-tahun depan,” ujar Tito.

     

     

    Tahun Politik
    Perdagangan di tahun 2018 sudah dimulai sejak Selasa (2/1). Tahun ini sendiri dianggap sebagai tahun yang penuh tantangan. Salah satunya dari isu politik. Adanya pemilihan kepala daerah serentak setahun sebelum pemilihan umum legistatif dan presiden 2019, disinyalir membuat kondisi politik Indonesia kembali memanas.

    Meski demikian, Wapres JK menilai masyarakat Indonesia saat ini sudah semakin dewasa dalam berpolitik. “Tidak ada bukti, selama tiga kali tahun politik tidak ada kerusuhan. Karena kampanye sudah berbeda, dulu mengumpulkan masa di jalan, sekarang di dunia maya. Tidak ada benturan-benturan, Insyaallah,” ujar JK.

    Presiden Jokowi juga mengingatkan kepada para pembuat kebijakan untuk tetap fokus membangun ekonomi Indonesia di tahun politik ini. “Sudahlah. Yang politik silakan politik, yang ekonomi kita garap bersama-sama urusan ekonomi,” ujar Jokowi.

    Sementara itu, Kiswoyo Adi Joe menilai tahun politik memang membuat pasar modal Indonesia penuh dengan risiko dan tantangan. Di lain sisi, terdapat peluang yang layak dicermati.

    “Peluangnya adalah setiap kali Indonesia mengadakan pemilu entah itu pilkada atau pilpres, putaran uang di masyarakat akan bergerak lebih banyak dari pada biasanya. Secara otomatis roda ekonomi akan berputar lebih cepat dari biasanya,” ucap Kiswoyo.

    Efek positifnya pada Bursa saham Indonesia ada di saham-saham sektor konsumsi dan media yang akan terkena dampak positif secara langsung. Sedangkan saham perbankan menurut Kiswoyo juga akan terkena dampak tidak langsung, mengingat peran perbankan sebagai penyokong kegiatan ekonomi.

    “Saham konsumsi yang layak dicermati adalah UNVR, INDF, ICBP dan ROTI. Saham media yang menarik adalah MNCN dan SCMA, sedangkan saham perbankan yang masih menarik adalah BBCA, BBRI, BMRI, BBNI,” ucap Kiswoyo.

    Menurutnya, pilkada yang dekat dengan pilpres akan membuat pilkada kali ini juga memiliki aroma pilpres. Dengan demikian, akan banyak investor yang membeli saham di semester I dan menjualnya ketika harganya sudah naik cukup tinggi sebelum semester II berakhir.

    “IHSG di tahun 2018 bisa membuat rekor tertinggi baru menembus 6.500. Tetapi IHSG di akhir tahun 2018 akan berada di rentang 6.200—6.300, dengan batas support di level 5.800,” ujar Kiswoyo.

    Sementara itu, Tito Sulistio menganggap sepanjang sejarahnya, pasar modal Indonesia tidak rentan terhadap situasi politik. Terbukti, pada tahun 2009 lalu (Pemilihan Legistatif dan Presiden), IHSG malah tumbuh 86,98% sepanjang tahun.

    Lalu tahun 2012 lalu (Pilkada DKI), IHSG juga tumbuh 12,94%. Ketika ada Pileg dan Pilpres 2014, IHSG juga mampu kokoh tumbuh 22.29%, sedangkan panasnya Pilkada DKI tahun lalu tak membuat IHSG rontok dan tetap mampu tumbuh 19,99%.

    Tantangan yang ada menurut Tito justru dari global. Mulai pulihnya ekonomi global, membuat Indonesia akan mendapat persaingan dari negara-negara lainnya.

    “Arab Saudi mulai bergerak, China dan Vietnam mulai membuka diri, lalu Filipina tahun lalu menjadi pasar modal dengan pertumbuhan tertinggi. Ini sangat menantang,” ujar Tito.

    China dikabarkan akan membuka bursa seri A di Shanghai dan Beijing. Hal ini berpotensi mengurangi bobot saham-saham Indonesia dari indeks Morgan Stanley Capital International atau MSCI. Indeks ini dianggap sebagai salah satu tolak ukur bagi investor asing maupun manajer investasi untuk menempatkan dananya di pasar saham suatu negara.

    Sementara itu, adanya Pilkada Serentak, Asian Games, dan persiapan Pilpres 2019 menurut Tito akan membuat adanya penarikan dana yang cukup besar. Hal ini bisa memengaruhi pergerakan IHSG di tiga bulan perdana.

    “Penarikan dana sekaligus, pembayaran pajak di bulan Maret, Asian Games, persiapan Pilpres, itu bisa memengaruhi. Jadi bukan karena hiruk-pikuk politiknya karena dalam sejarahnya IHSG tidak terpengaruh dengan isu politik,” ujar Tito.

    Sekadar informasi tambahan, pada penutupan perdagangan Rabu (3/1) IHSG berada pada level 6.251,48 atau turun 1,63% dari level penutupan 2017. Penurunan ini disinyalir sebagai fase cooling down, setelah IHSG mengalami penguatan signifikan dalam pekan terakhir 2017. (Rizal)