Efek Satu Harga, Papua Minta Stok BBM Ditambah

Dengan uang Rp50 ribu, saat ini dirinya bisa membeli enam ikat sayur. Sebelumnya, ketika harga BBM masih mahal, dengan jumlah uang yang sama hanya dapat satu ikat sayur

  • Warga mengisi bahan bakar di Papua. (pegbintangkab.go.id)
    Warga mengisi bahan bakar di Papua. (pegbintangkab.go.id)

    JAYAPURA - Program pemerintah yang menetapkan harga bahan bakar minyak (BBM) menjadi satu harga, diyakini berhasil meningkatkan kesejahteraan masyarakat Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua. Namun di sisi lain, harga yang turun drastis membuat permintaan akan BBM meningkat.

    Meski belum dipastikan besaran tambahan kebutuhan, Sekretaris Daerah Kabupaten Ilaga Abraham Bisay memastikan murahnya harga BBM semakin meningkatkan kebutuhan BBM di masyarakat. Untuk itu, lanjutnya, diperlukan penambahan pasokan BBM untuk wilayah tersebut.

    "Kebutuhan kami sudah cukup tinggi. Setidaknya penambahan pasokan untuk menghindari penjualan BBM di kios sebesar Rp50 ribu per liter dan menghindari penimbunan BBM pada bulan Desember nanti," ujarnya seperti dikutip Antara, Rabu (15/11).

    Berdasarkan data dari BPH Migas, kebutuhan premium untuk Papua pada tahun 2017 sesuai kuota APBN 2017 adalah 267.828.000 liter. Adapun realisasinya hingga Juli 2017 adalah sebesar 107.912.000. Sementara itu, kebutuhan solar sesuai kuota APBN 2017 adalah 160.257.000, dimana realisasinya hingga Juli 2017 adalah sebesar 61.251.831 liter.

    Angka kuota premium dan solar Papua pada tahun ini meningkat dari tahun sebelumnya. Sesuai APBN 2016, alokasi kuota premium Papua sebesar 253.468.000, dimana realisasinya adalah sebesar 229.880.000. Sementara itu, alokasi kuota solar  tercatat sebesar 144.784.000 dengan realisasinya sebesar 107.182.943.

    Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus menyatakan, program BBM satu harga ini memang bisa meningkatkan daya beli masyarakat. Hal ini menjadi langkah yang sangat baik sangat baik, mengingat adanya gejala penurunan daya beli masyarakat di Indonesia secara nasional.

    “Dengan program BBM satu harga dan subsidi lainnya, biaya-biaya bisa ditekan. Pendapatan riil masyarakat juga meningkat. Maksudnya, dengan pendapatan yang sama, masyarakat kini bisa membeli barang lebih banyak meskipun pendapatan nominalnya mungkin tidak naik,” ujar Heri kepada Validnews, Senin (13/11).

    Seperti dirangkum Antara, masyarakat setempat mengakui, sejak harga BBM turun taraf hidup dan perekonomian juga bergerak naik. Sebelum diberlakukannya program ini, harga BBM di daerahnya bisa mencapai Rp50 ribu per liter mengingat tingginya biaya pengangkutan ke lokasi.

    Bayangkan saja, untuk menuju daerah yang berada pada ketinggian 7.500 kaki itu, BBM harus diangkut dengan pesawat Air Tractor, dengan kapasitas 4 KL per sekali angkut. Melalui program BBM satu harga, tingginya biaya pengangkutan BBM pun menjadi tanggungan PT Pertamina.

    Kini, harga premium yang dijual Pertamina adalah Rp6.450 per liter dan solar Rp5.150 per liter, atau sama dengan di Jakarta. Akibatnya, pengeluaran masyarakat untuk kebutuhan BBM bisa ditekan.

    "Pengeluaran bisa ditekan, kesejahteraan tentu saja meningkat," kata Murni Wagai, seorang warga Ilaga, Jayapura, Rabu (15/11).

    Penurunan harga BBM juga berimbas ke penurunan harga bahan pokok lainnya, misalnya sayuran. Hal ini disebabkan karena proses pengangkutan sayur selama ini dilakukan menggunakan ojek dari daerah perbukitan menuju Pasar Ilaga. Murahnya harga BBM alhasil bisa memangkas biaya transportasi dan membuat harga barang menurun.

    Murni mengatakan dengan uang Rp50 ribu, saat ini dirinya bisa membeli enam ikat sayur. Sebelumnya, ketika harga BBM masih mahal, dengan jumlah uang yang sama, dia hanya bisa membeli satu ikat sayur. "Harga sayur kini turun karena ongkos ojek sudah tidak mahal," ujarnya.

    Dampak positif BBM satu harga juga dirasakan oleh Miati Ridwan, warga Ilaga lainnya. Dampak positif dari BBM satu harga ini juga berimbas kepada pendidikan anak-anak. Pasalnya, selama ini masyarakat memerlukan genset untuk kebutuhan penerangan di malam hari, seperti untuk penerangan belajar anak-anak.

    "Ilaga belum dialiri listrik. Semua rumah mempergunakan genset untuk penerangan. Dulu, anak-anak tidak bisa belajar setiap malam, karena kami harus mengumpulkan uang terlebih dahulu untuk bisa membeli BBM. Tetapi sekarang, anak-anak bisa belajar setiap hari. Semoga mereka bisa makin pintar," ujar Miati.

    Meskipun begitu, pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia Faisal Basri menilai, program BBM satu harga harus diberlakukan secara cermat. Pasalnya, lantaran biaya ditanggung Pertamina, akibatnya pendapatan Pertamina terus merosot bahkan merugi.

    “Untuk Papua saja sudah rugi Rp800 miliar. Semua ditanggung Pertamina, Pertamina untungnya melorot, akhirnya pajak perusahaan dan kontribusi ke negara melorot,” ujar Faisal dalam acara Reformasi Perpajakan beberapa waktu lalu.

    “Basis pendapatan negara dari sektor pajak justru dikerdilkan oleh negara. Akibatnya, realisasi pajak sulit mencapai target. Dengan ambisi belanja yang terlalu menggebu sementara pendapatannya dikerdilkan, sebaiknya pemerintah mengerem belanjanya,” ucap Faisal. (Rizal)