LIMBUNG BERDAULAT DI DUNIA MAYA

ERA EKONOMI BARU

Dalam konsep sharing economy terdapat aktivitas berbagi yang memungkinkan seseorang untuk melakukan transaksi ekonomi

  • Ilustrasi pengemudi gojek. Gojek.com
    Ilustrasi pengemudi gojek. Gojek.com

    Oleh: Sita Wardhani S, SE, MSc*

    Informasi menjadi semakin terbuka dengan keberadaan internet. Ketika membutuhkan sesuatu, dengan mudah kita dapat bertanya ke “Mbah” Google, sebagai mesin penelusuran informasi di dunia maya yang paling banyak digunakan saat ini. Selama ada koneksi internet, informasi bisa dengan mudah didapat. Dengan menekan layar atau papan ketik, pertanyaan serta kebutuhan informasi hanya sebatas ujung jari.

    Perkembangan perangkat teknologi seperti telepon seluler pun semakin mendorong ketergantungan kita pada internet. Telepon seluler telah berkembang sedemikian rupa, sehingga tidak hanya berfungsi untuk menerima telepon saja, tetapi juga untuk berbagai keperluan, baik aplikasi yang menggunakan internet maupun kegunaan lain seperti mendengarkan musik atau fotografi. Keragaman kegunaan ini pula yang menyebabkan ponsel kita disebut sebagai ponsel pintar, ponsel serba bisa. Ponsel pintar saat ini bahkan telah menggeser kebiasaan penggunaan komputer desktop sebagai perangkat untuk akses internet. Berdasarkan survei APJII (2016) dan Nielsen (2017), akses internet paling banyak dilakukan melalui ponsel.

    Ketergantungan terhadap ponsel serta informasi yang didapat dari internet membuat aktivitas kita pun seolah tidak lepas dari internet. Sebuah fakta dari Lori Lewis and Chadd Callahan menunjukkan bagaimana aktivitas yang berlangsung di dunia maya dalam satu menit yang dilakukan oleh seluruh penduduk bumi.

     

    Aktivitas yang terjadi di dunia maya tersebut tentunya akan dapat diakses oleh semua orang yang terhubung oleh internet. Internet membuat konektivitas individu dalam skala yang masif dan memiliki potensi ekonomi sehingga memunculkan apa yang disebut sebagai sharing economy.

    Ekonomi Berbagi
    Gojek merupakan salah satu bisnis yang sukses di Indonesia berdasarkan konsep sharing economy. Tanpa harus memiliki armada motor dan mengangkat pegawai, Gojek dapat mendirikan sebuah perusahaan moda transportasi. Sebab, Gojek dijalankan berdasarkan sharing economy, yaitu bekerja sama dengan pemilik motor untuk menjalankan usaha transportasi. Berbeda dengan usaha transportasi biasa, misalnya travel atau taksi, yang harus memiliki armada mobil sendiri serta mengangkat dan menggaji sopir untuk menjalankan armadanya.

    Sharing economy memiliki berbagai istilah, di antaranya adalah collaborative consumption, access based consumption, collaborative economy, dan circular economy.  Tidak ada definisi khusus mengenai sharing economy ini, namun pada dasarnya dalam sharing economy terdapat aktivitas berbagi yang memungkinkan seseorang untuk melakukan transaksi ekonomi.

    Contoh lain dari sharing economy adalah platform jual beli seperti Tokopedia. Tokopedia dapat dianggap sebagai sebuah mal dunia maya, dan para penjual di Tokopedia sebagai pemilik kios. Tokopedia menyediakan tempat untuk berjualan secara gratis.

    Perlengkapan bayi dan balita pun dapat mendatangkan keuntungan bagi pemilik perlengkapan. Perlengkapan bayi dan balita memiliki kegunaan yang pendek. Seiring dengan pertumbuhan bayi, barang pun tidak lagi terpakai. Orang yang memiliki perlengkapan dapat menyewakan ke orangtua lain yang tidak memiliki dana yang cukup untuk membeli perlengkapan tersebut. Terjadilah transaksi yang menguntungkan kedua belah pihak. Pemilik barang dapat menyewakan barang yang sudah tidak terpakai, dan si penyewa bisa mendapatkan kegunaan dari barang tersebut dengan harga yang lebih murah. Interaksi antara kedua belah pihak ini memberikan keuntungan secara ekonomi.

    Keberadaan internet memunculkan potensi pemanfaatan sebuah barang yang semula menganggur atau tidak bernilai ekonomis menjadi memiliki nilai ekonomis, dengan menghubungkan si pemilik barang/jasa dengan orang yang membutuhkan barang atau jasa tersebut. Hal inilah yang disebut dengan sharing economy.

    Ekonomi Berbagi dan Efisiensi
    Kemampuan internet untuk menghubungkan individu atau organisasi membuat beberapa kegiatan operasional dapat berkurang biayanya, sehingga bisnis menjadi lebih efisien. Untuk kasus Gojek misalnya, efisiensi timbul dari tidak adanya kebutuhan untuk investasi armada, pengadaan lahan untuk pool kendaraan, serta pemeliharaan kendaraan.

    Contoh lain yang juga sedang menjadi perhatian pemerintah adalah kehadiran aplikasi Airbnb, sebuah platform yang menghubungkan pemilik properti dengan konsumen yang membutuhkan kamar untuk disewakan sementara. Kehadiran Airbnb dinilai dapat mengancam bisnis hotel dan penginapan.

    Seperti Gojek, keluhan yang disampaikan oleh pelaku bisnis di bidang perhotelan berkaitan dengan regulasi yang dikenakan terhadap bisnis mereka. Dibandingkan Gojek dan Airbnb, bisnis transportasi konvensional dan bisnis hotel harus membayar pajak dan mengikuti aturan-aturan pemerintah, di mana aturan tersebut memengaruhi biaya operasional perusahaan.

    Di satu sisi, sharing economy menimbulkan efisiensi. Efisiensi mendorong harga turun. Pelaku bisnis tetap menghasilkan profit dan konsumen pun senang karena mendapatkan harga yang rendah. Tetapi, sharing economy pun tidak berarti nirbiaya bagi produsen maupun konsumennya. Bagi produsen, misalnya pengemudi Gojek, tetap harus membeli bahan bakar dan melakukan pemeliharaan. Bagi penyedia kamar untuk Airbnb, mereka tetap harus memberikan pelayanan seperti hotel. Kemudian, agar pelaku usaha dapat mudah ditemukan di mesin pencari (search engine), kadangkala mereka harus mengeluarkan dana tambahan untuk beriklan.

    Bagi konsumen, terdapat biaya dari harga rendah yang didapatkan dari barang/jasa yang didapatkan secara online, yaitu ketidakpastian kualitas barang/jasa. Selain itu, terdapat risiko pemalsuan atau penipuan. Meski hal ini masih dapat diatasi dengan pencarian informasi mengenai kredibilitas penyedia barang/jasa, hal ini berarti juga ada opportunity cost berupa waktu yang dibutuhkan untuk mencari informasi tambahan terkait barang/jasa yang akan dibelinya ini.

    Internet telah menciptakan peluang baru, tidak hanya bagaimana kita membagi informasi, tetapi juga dalam berbisnis. Efisiensi yang ditimbulkan oleh internet seperti yang telah dijelaskan di atas tidak berarti nirbiaya. Biaya yang timbul cenderung bersifat tidak langsung.

    Peran pemerintah tetap diperlukan ketika bisnis menyebabkan salah satu pihak terancam kesejahteraannya. Namun, peran pemerintah dalam mengatur dan meregulasi bisnis pun tidak lagi sama dengan bagaimana regulasi dalam bisnis konvensional. Pemerintah perlu memahami ekosistem bisnis yang berbasis internet ini dengan bisnis konvensional sehingga regulasi pemerintah nantinya tidak menciptakan kegagalan (regulasi) pemerintah.

    *Peneliti Utama Visi Teliti Saksama dan Staf Pengajar FEB UI