LIMBUNG BERDAULAT DI DUNIA MAYA

EQUAL LEVEL OF PLAYING FIELD DI ERA EKONOMI BARU

Setiap pemerintah, di mana berbagai usaha yang mengandalkan sharing economy berkembang, perlu memiliki regulasi untuk menciptakan pasar yang adil

  •  Ilustrasi airbnb. (pixabay)
    Ilustrasi airbnb. (pixabay)

    Oleh: Sita Wardhani S, SE, MSc*

    AirBnB merupakan platform penyewaan properti dengan tujuan menghubungkan para pemilik properti yang memiliki ruangan tidak terpakai dengan konsumen yang membutuhkan penginapan sementara. Para calon penyewa ini dapat menyewa ruangannya baik harian, mingguan, bahkan bulanan.

    AirBnB dipandang sebagai sebuah alternatif selain hotel bagi para pelancong yang membutuhkan tempat sementara untuk tinggal. AirBnB berdiri sejak tahun 2008 dan hingga saat ini sudah terdapat di lebih dari 191 negara. Khusus untuk Indonesia, AirBnB hadir sejak tahun 2012, dimulai di destinasi utama global di Indonesia, Bali.

     

    Dapat dikatakan, AirBnB merupakan sebuah inovasi, sebab ia mampu mengubah industri perhotelan dengan menyediakan alternatif penginapan yang lebih murah. AirBnB merupakan salah satu bentuk disrupsi ekonomi yang diakibatkan oleh sistem sharing economy. Selain itu, platform ini juga menyediakan asuransi hingga US$1 juta untuk kerusakan properti yang diakibatkan oleh konsumen yang melakukan reservasi melalui aplikasinya.

    Baca juga: Era Ekonomi Baru 

    Ternyata, seperti juga Gojek di Indonesia, dan kasus Uber di negara-negara lainnya, AirBnB banyak mendapatkan tentangan dari industri perhotelan yang merasa terancam. AirBnb mampu menawarkan harga yang lebih murah namun tidak terkena regulasi sama sekali, baik itu pajak ataupun regulasi lainnya yang biasa dikenakan kepada industri perhotelan, di antaranya aturan zonasi, keamanan bangunan, serta penyediaan fasilitas bagi kaum difabel.

    Para pengusaha hotel mengklaim bahwa terdapat biaya terhadap usaha untuk memenuhi aturan pemerintah yang diwajibkan bagi pengusaha hotel. Hal ini mengakibatkan inefisiensi. Di sisi lain, ketiadaan regulasi bagi AirBnb dan platform persewaan properti lainnya menyebabkan AirBnb menjadi ancaman bagi dunia perhotelan, sebab mereka tidak harus menanggung biaya pemenuhan regulasi.

    AirBnB dan Persaingan Usaha
    AirBnB dapat menawarkan harga yang lebih murah, sebab dari sisi produsen, pemilik properti memanfaatkan ruangan yang menganggur. Biaya marginal adalah nol. Dengan kata lain, jika AirBnb butuh menaikkan supply properti yang disewakan, AirBnb dapat dengan mudah menambahkan properti yang terdaftar, tanpa biaya. Hal ini terjadi, sebab penambahan supply terjadi dari penambahan properti yang memang sudah ada.

    Bandingkan dengan hotel. Untuk menambahkan properti, mereka harus membangun ruangan baru/gedung baru. Di sini, akan timbul biaya investasi. Selain itu, harus mengajukan izin administrasi yang akan menimbulkan tambahan biaya, tidak hanya biaya membangun, tetapi juga biaya administrasi.

    Faktor lainnya, biaya tenaga kerja jauh lebih rendah, sebab tidak perlu ada pembagian staf seperti hotel pada umumnya. Tenaga kerja yang dibutuhkan untuk melayani tamu kemungkinan besar adalah pemilik rumah, jikalaupun ada asisten, hanya satu sampai dua orang saja, tergantung pada besar dan banyaknya ruangan yang disewakan.

    Di sisi lain, dengan harga yang lebih murah, AirBnB juga menawarkan fitur lain bagi konsumen yang tidak bisa sepenuhnya didapatkan jika menginap di hotel, yaitu pengalaman hidup sebagai masyarakat lokal. Fasilitas tambahan hotel seperti kolam renang dan gym juga terdapat di AirBnB.

    Selain itu, terdapat berbagai studi empiris yang membuktikan bahwa AirBnb memang telah memengaruhi industri perhotelan. Meski sifat studi tersebut tidak dapat digeneralisir, sebab setiap studi hanya mengambil kasus spesifik, secara umum studi menunjukkan bahwa kenaikan penawaran oleh AirBnb benar telah menurunkan tingkat okupansi serta pendapatan hotel (Zervas, Proserpio, & Byers, 2016) dan (Ytreberg, 2016). Di sisi lain, kedua artikel tersebut menghasilkan kesimpulan yang sama terkait hotel yang paling terpengaruh adalah hotel dengan harga yang murah. Sebab, AirBnb memberikan harga yang murah namun dengan fasilitas yang lebih banyak.

    Hal ini jelas menunjukkan bagaimana AirBnB mengancam industi perhotelan.

    Ancaman Persaingan dan Alternatif Regulasi Pemerintah
    Ancaman persaingan yang dihadapi industri perhotelan ini kemudian ditanggapi serius oleh pemerintah di beberapa negara. Bentuk regulasi yang diterapkan pun beragam, dari hukuman denda hingga penetapan kuota izin untuk menyewakan rumah.

    Sebagai contoh, Berlin memberlakukan larangan menyewakan keseluruhan rumah. Larangan ini dikatakan merupakan larangan yang paling keras. Rumah dapat disewakan jika 50% rumah tersebut dihuni. Pelanggaran terhadap ketentuan ini dikenakan denda sebesar US$100 ribu. Peraturan ini berlaku sejak 1 Mei 2016 dan terbukti terdapat penurunan jumlah rumah yang terdaftar. Tetapi, ternyata aturan ini tidak memengaruhi rumah yang digunakan bersama dengan pemiliknya dan disewakan, jumlahnya malah meningkat.

    Lain lagi dengan Barcelona. Untuk menyamakan aturan main (equal level playing field), pemerintahnya menerapkan lisensi. Hanya properti yang memiliki lisensi yang diperbolehkan menyewakan properti. Regulasi ini menguntungkan semua pelaku serta pemerintah. AirBnb ikut teregulasi sehingga menyamakan kedudukan hotel, dan di sisi lain, pemerintah mendapatkan pendapatan dari penerbitan izin.

    Kemudian, untuk San Fransisco sendiri, mereka membuat aturan di mana persewaan properti hanya dapat dilakukan oleh penduduk lokal, properti yang hendak disewakan teregistrasi, pemilik properti harus bayar pajak, serta mendepositokan uang sebesar US$500 ribu dalam hal asuransi. Selain itu, terdapat pembatasan jumlah hari penyewaan hingga maksimum 90 hari, hanya untuk penyewaan rumah. Namun, aturan penetapan kuota hari ini tidak dikenakan untuk penyewaan kamar.

    AirBnb serta berbagai usaha yang mengandalkan sharing economy telah menciptakan efisiensi dan mengancam aturan main bagi industri, terutama terkait pasar yang tidak teregulasi. Oleh sebab itu, peran pemerintah adalah untuk menciptakan ekosistem sehingga tercipta equal level of playing field. Namun, regulasi harus tepat, agar jangan malah menciptakan government failure (kegagalan kebijakan pemerintah).

     

    *Peneliti Utama Visi Teliti Saksama dan Staf Pengajar FEB UI

     

    Referensi:

    Zervas, G., Proserpio, D., & Byers, J. W. (2016). The Rise of the Sharing Economy: Estimating the Impact of Airbnb on the Hotel Industry. http://people.bu.edu/.

    Ytreberg, N. S. (2016). Competitive effects of Airbnb on the Norwegian Hotel MarketOslo. Oslo: University of Bergen