Donald Pandiangan Mengubur Cita-Cita Demi Melesatkan Kesuksesan Atlet Lain

  • Donald Pandiangan. Ist
    Donald Pandiangan. Ist

    JAKARTA — Olahraga panahan Indonesia mencatat tokoh berprestasi dalam sejarah. Nama Donald Djatunas Pandiangan menjadi pilihan utama dari sekian atlet panahan di Indonesia.

    Piawai membidik. Penuh konsentrasi saat menarik tali busur panah.  Tak ragu melesatkan anak panah untuk mencapai sasaran sekaligus mencetak prestasi, itulah Donald Pandiangan. Berhasil pula dalam hidup pria kelahiran Sidikalang pada 12 Desember 1945, mencetak tiga srikandi peraih emas dalam cabang yang sama di Olimpiade 1988.

    Berawal pada 1945, lahir seorang bayi laki-laki dari pasangan suami-istri petani Henok Pandiangan di Sidikalang, Kabupaten Dairi, Sumatra Utara. Anak kesepuluh dari 11 bersaudara itu diberi nama Donald Djatunas Pandiangan.

    Pasangan suami istri dan kesebelas anak mereka hidup dari hasil pertanian. Kebanyakan dari penduduk Sidikalang memang hidup dari pertanian. Lokasi Sidikalang berada di daerah perbukitan dan memiliki kondisi tanah yang subur. Tanaman sayuran maupun tanaman lain, tumbuh dengan subur.

    Salah satu andalan hasil tanaman Sidikalang adalah kopi. Kopi asal daerah ini terkenal oleh jagat penyuka kopi dalam negeri maupun luar negeri. Berbagai literatur menyebut, kopi Sidikalang terkenal karena memiliki ciri tertentu.

    Ciri khas kopi Sidikalang adalah karena memiliki aroma dan karakter rasa yang khas. Rasa asam kopi Sidikalang pun lebih rendah ketimbang kopi yang ditanam di daerah lain. Juga punya rasa yang cukup lama bertahan saat diminum penikmat kopi.

    Ketiga ciri khas kopi Sidikalang itu mampu bersaing dengan kopi terbaik asal negara lain. Kopi Sidikalang sudah mampu bersaing dengan kopi Brazil yaitu salah satu kopi terbaik di dunia.

    Donald hidup serumah dengan kedua orang tua dan sepuluh saudara. Hidup keluarga Donald tak bisa dibilang melebihi keluarga lain yang menjadi tetangga mereka. Prihatin jadi kehidupan sehari-hari keluarga ini.

    Namun, dengan kondisi prihatin, Donald punya cita-cita tinggi. Dia menggantungkan harapan untuk memiliki gelar sarjana teknik. Karena itu dia mulai menapak pendidikan dasar di SDN Laehole dan lulus pada 1959. Selepas itu, dia melanjutkan pendidikan ke jenjang berikut yaitu di SMPN Sidikalang pada 1962.


    Tersendat
    Setelah lulus SMP, Donald dihadapkan pada kenyataan akan kondisi ekonomi keluarga. Kemampuan orang tua untuk membiayai pendidikan ke jenjang berikut sudah mentok. Namun dia tak mau menyerah dan berhenti berharap.

    Beruntung, dia bisa mengenyam pendidikan ke jenjang berikut. Namun, Donald harus berpisah dari orang tua di Sidikalang untuk merantau bersama sang kakak yang  menjadi pendeta di Jakarta. Dia bersyukur kakaknya mau membiayai sekolah sekalipun di sekolah swasta dengan biaya sekolah cukup besar yaitu di SMA Taman Madya di Kemayoran, Jakarta.

    Tapi, harapan Donald tak bisa kompromi dengan keadaan. Niat mencantumkan gelar insinyur teknik di depan namanya harus berhenti lagi-lagi karena tak ada biaya. Busur harapan yang sudah dia tarik, urung dia lepaskan.

    Setelah lulus SMA pada 1965, Donald bekerja untuk membiayai hidup di tanah rantau. Perum Angkasa Pura yang saat itu masih melayani Bandara Kemayoran, menerima dia sebagai pegawai. Posisi staf urusan humas, itulah jabatan dia pertama kali saat bekerja. Hingga pensiun, Donald tetap tercatat sebagai pegawai perusahaan pelat merah itu.

    Karena memiliki lahan yang luas, perusahaan negara itu memiliki klub panahan, ‘Panahputra’. Donald pun mencoba untuk belajar menarik busur dan melesatkan anak panah di papan sasaran. Latihan pertama dia lakukan setelah diberi seperangkat alat panah dari Direktur Perum Angkasa Pura saat itu, Soetardjo Sigit.

    Usia Donald saat berlatih memanah terbilang tidak muda lagi. Saat itu ia berusia usia 25 tahun. Tapi siapa sangka, dia hanya butuh tiga tahun untuk berlatih dan menorehkan prestasi pertama olahraga panahan. Dia menjuarai cabang panahan pada Pekan Olahraga Nasional (PON) VIII 1973 di Jakarta.

    Tak sekadar juara pada ajang nasional olahraga empat tahun sekali itu. Donald juga berhasil memecahkan rekor atas nama pelatihnya, Suharmoto.


    Prestasi Melesat
    Selanjutnya tentu mudah ditebak. Donald terus menekuni dan giat berlatih panahan. Pada saat itu, dia juga rajin berkorespondensi dengan pemanah terkenal Amerika Serikat, Darrel Pace. Nama terakhir adalah atlet pemegang prestasi tertinggi sepanjang masa pada olahraga panahan dunia.

    Latihan keras dan menempa konsentrasi terus mengasah anak panah prestasi Donald menancap pada sasaran  prestasi tinggi. Dalam Kejuaraan Dunia di Canberra, Australia pada 1975, Donald sudah masuk dalam 12 pemanah terbaik dunia.

    Pada 1976, Donald masuk peringkat 16 pada Olimpiade Montreal, Kanada. Setahun kemudian Donald berhasil masuk rekor dunia 70 meter ronde FITA dalam PON di Jakarta, sekaligus mencetak rekor dunia. Kemudian periode 1975—1983, dia menjuarai cabang panahan di empat SEA Games berturut-turut.

    Pengalaman paling berkesan bagi Donald adalah saat dia berhasil mengungguli pemanah kaliber dunia dari Jepang, Takayosi Matsushita, pada 1980.


    Kecewa
    Ada satu momentum yang membuat Donald terluka sebagai atlet. Itu terjadi pada menjelang Olimpiade di Moscow, Uni Soviet pada tahun 1980.

    Pria yang lahir dan besar dengan penuh keprihatinan ini dikenal pendiam, namun keras dalam pendirian. Dia menjelang penyelenggaraan Olimpiade Moscow, Donald begitu menggebu untuk ikut bertanding dengan pemanah asal negara peserta Olimpiade.

    Dia begitu yakin akan mencetak prestasi tertinggi bagi Indonesia pada ajang empat tahun sekali itu. Karena prestasi yang dia torehkan kala itu memang tinggi. Namun, situasi politik dunia menjadi penentu Donald tak bisa unjuk prestasi di ajang olahraga dunia itu.

    Berawal dari invasi Uni Soviet ke Afghanistan, beberapa negara yang tergabung dalam Pakta Pertahanan Atlantik Utara (North Atlantic Treaty Organization/NATO) memboikot penyelenggaraan Olimpiade Moscow. Indonesia, sekalipun bukan anggota NATO ikut memboikot dan tidak mengirim satu atlet pun dalam ajang itu.

    Donald, yang mendengar kepastian itu tentu geram, kecewa, sekaligus marah pada pemerintah. Menurut dia, olahraga bukan sarana politik tapi ajang mengukir prestasi tertinggi atlet dari pelbagai bangsa.

    Kecewa akan hal itu, Donald kadung patah arang. Menanti empat tahun lagi, tentu bukan hal mudah mengingat usia tak lagi mumpuni untuk berkompetisi dengan atlet muda berprestasi.

    Namun, Donald tetap berupaya untuk menunggu kesempatan berkompetisi dengan Darrel Pace. Kesempatan Donald untuk bertemu pesaing utama itu pun tiba. Mereka bertemu di Olimpiade Los Angeles 1984, tapi Donald tak mampu bersaing dan pulang tanpa medali yang dia impikan.

    Setelah itu dia memilih mundur jadi atlet. Sempat enggan terlibat di olahraga panahan lantaran kecewa tak berangkat ke Olimpiade Moscow 1980. Tapi, dia akhirnya sadar, tak perlu terus memendam kecewa sebagai atlet, mencetak prestasi atlet pun perlu.

    Donald terpanggil untuk melatih setelah dibujuk Udi Harsono, Sekretaris Jenderal Persatuan Panahan Indonesia (Perpani). Sekalipun Udi, yang pernah melatih Donald juga pernah dia debat lantaran beda prinsip, atlet senior kali ini tunduk untuk melatih tiga atlet panahan wanita, Lilies Handayani, Nurfitriyana Saiman, Kusuma Wardhani.

    Dengan pengalaman dan teknik yang dimiliki semasa jadi atlet, kesemuanya dialihkan Donald pada ketiga srikandi andalan Indonesia. Tempaan yang dilakukan Donald pada ketiga wanita itu membuahkan hasil prestasi tertinggi bagi sejarah olahraga panahan Indonesia. Ketiga atlet tersebut meraih perak dalam nomor beregu putri di Olimpiade Seoul 1988.

    Meski demikian, saat kepulangan ke Jakarta, Donald memilih untuk diam dan menyelinap dari sergapan pemburu berita yang memburu tiga srikandi. Entah, apa sebab dia bersikap seperti itu.

    Donald terus banyak diam dan tak perlu mengumbar prestasi semasa atlet maupun saat melatih tiga srikandi. Meski dalam dua bidang tersebut, dia berhasil menorehkan prestasi tertinggi dalam sejarah olahraga panahan di Indonesia.

    Donald selalu mencintai panahan sebagai olahraga yang mengangkat namanya ke kancah dunia. Pada perayaan hari kemerdekaan tahun 2008, ia masih mengikuti pertandingan penahan.

    Tapi ia hanya mampu melepaskan tiga anak panah, seolah dia melepas tiga atlet wanita panahan meraih emas di Olimpiade Seoul 1988, sebelum jatuh terkulai. Kemudian Donald akhirnya dilarikan ke rumah sakit. Pada 19 Agustus 2008, ia meninggal dunia dalam usia 62 tahun.

    Dia pergi meninggalkan seorang istri dan empat anak. Dua di antara empat anaknya menjadi atlet panahan. Tempat Pemakaman Umum Pondok Rangon, Jakarta Timur menjadi peristirahatan terakhir legenda Robin Hood Indonesia ini. (Annisa Dewi Meifira)