GELIAT EKONOMI BERTAJUK RAKYAT

Digital, Gerbang Optimalisasi Produk UMKM

Pemanfaatan teknologi sangat berpengaruh pada pertumbuhan dunia usaha

  • Salah satu percontohan UMKM di kawasan Blok S, Jakarta Selatan, Jumat (20/4). Validnews/Fuad Rizky
    Salah satu percontohan UMKM di kawasan Blok S, Jakarta Selatan, Jumat (20/4). Validnews/Fuad Rizky

    JAKARTAPresiden Joko Widodo (Jokowi) pada Kongres Ekonomi Umat Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada tahun 2017 lalu memaparkan pemberdayaan usaha mikro, kecil, menengah (UMKM) merupakan prioritas gerakan Kewirausahaan Nasional. UMKM dipercaya menjadi indikator vital dalam memajukan pertumbuhan ekonomi bangsa.

    Untuk mengembangkan usaha UMKM, kemitraan disebut-sebut Jokowi menjadi kunci utama keberhasilan. Selain itu, ada peran penting lainnya bagi para pelaku UMKM agar dapat berkembang di Indonesia, yakni peningkatan kemampuan dalam hal inovasi dan teknologi.

    Di era milenial seperti saat ini, teknologi dan inovasi tak dapat disangkal menjadi hal yang patut diperhatikan oleh UMKM untuk bersaing, bahkan di level internasional. Ini sejalan dengan visi pemerintah di tahun 2020 yang ingin menjadikan Indonesia sebagai negara ekonomi digital terbesar di kawasan Asia Tenggara.

    Pada praktiknya, penggunaan teknologi dan internet dalam dunia bisnis memang tumbuh pesat di era milenial ini. Internet dan dunia bisnis seolah menjadi sebuah satu kesatuan yang saling mendukung.

    Teknologi internet, jika diamati seolah memang muncul layaknya gerbang baru dalam lanskap dunia perbisnisan. Kemajuan teknologi telah mendorong banyak pelaku usaha untuk beralih dari pola yang konvensional ke digital. Di era seperti ini, seseorang cukup menggunakan telepon seluler (ponsel) ataupun laptop mereka untuk melihat, mempertimbangkan atau membeli sebuah produk.

    Perubahan ini bukan hanya menguntungkan konsumen dan pelaku bisnis. Selain itu, kecanggihan ini juga telah menjadi sebuah embrio untuk meminimalisir volume pengangguran yang ada di Tanah Air dan juga meningkatkan kemunculan pengusaha-pengusaha muda.

    Berdasarkan data belakangan ini, kontribusi sektor UMKM terhadap produk domestik bruto (PDB) pun turut meningkat. Dalam rentan waktu lima tahun hingga tahun 2016, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop dan UKM) ada mencatat lonjakan dari 57,84% menjadi 60,34%. Kemudian kontribusi UMKM terhadap PDB di tahun 2017 mencapai 61%, yang terdiri dari usaha mikro 30,3%, usaha kecil 12,8%, dan usaha menengah 14,5%.

    Dampak Signifikan
    Saat ini kecanggihan teknologi sangat berpengaruh untuk berbisnis. Maka dari itu banyak masyarakat yang memilih transaksi online untuk memenuhi kebutuhannya. Salah satu pelaku usaha yang berhasil melihat kesempatan itu adalah Dewi Irawati Hendrawan (23).

    Pengusaha muda ini telah berhasil memajukan usahanya yang terhitung baru karena bantuan teknologi. Ira—begitu panggilannya—, pada awalnya membangun usaha Pisang Nugget Jakarta lantaran ingin membantu ibu dan abangnya di rumah. Baru memulai usaha pada bulan Mei 2017, Ira tak menyangka usahanya dengan cepat berkembang.

    “Jadi awalnya itu saya sebenarnya ngantor, nah tiba-tiba kaki kakak saya patah. Jadi saya niat bikin usaha ini awalnya cuma pre-order, enggak serius. Karena ingin membantu mamah sama kakak saja di rumah,” cerita Ira kepada Validnews, Kamis (19/4).

    Menurut Ira, awal pertama kali ia mengenalkan produknya tersebut hanya menggunakan fitur Instagram seperti Insta Stories. Di fiitur ini, ia mengiklankan produk pisang nugget-nya dengan konsep pre-order. Akan tetapi, tidak disangka produk yang ia tawarkan di media sosial itu mendapat sambutan manis dari rekan-rekan.

    “Selam tiga hari di awal bahkan full pre-order. Begitu pun seterusnya,” tambahnya.

    Melihat pesanan semakin banyak, Ira beserta keluarga pada akhirnya merasa membutuhkan bantuan sumber daya manusia (SDM) lagi. Karena itulah, dia pun akhirnya mengajak cucu dari tukang pisang langganannya, yang saat itu kebetulan masih menganggur, untuk membantu Ira dan ibunya di dapur.

    “Nah karena full terus akhirnya aku cari karyawan. Pas udah dapat karyawan, kita mulai daftar GrabFood, nah terus merambah juga ke Go-Food. Nah setelah mulai berjalan pesan antar tersebut, enggak sangka produk Pisang Nugget saya makin booming,” kata Ira.

    Kepalang tanggung, melihat perkembangan ini Ira pun pada akhirnya memilih fokus dalam mengoptimalkan usahanya. Ira kerap mengikuti bazar-bazar di berbagai tempat.

    “Saya pernah mengikuti bazar, misalnya di Mall Gandaria City dan waktu itu juga pernah di acara Habibie Expo yang diselenggarakan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf),” papar Ira.

    Seiring berjalannya waktu, Pisang Nugget Jakarta miliknya pun perlahan jadi makanan yang digandrungi banyak orang. Alumni Universitas Bina Nusantara (Binus) itu memang mengutamakan produk pisang nugget yang benar-benar beda dibanding yang lain.

    Perlu diketahui, Pisang Nugget Jakarta buatan Ira ini merupakan pisang nugget pertama kali yang menggunakan metode kukus, sebelum akhirnya muncul produk-produk pisang nugget dengan metode serupa. Dulu dia sampai sempat melakukan riset kecil sebelum merealisasikan usaha ini.

    “Sebenarnya waktu saya belum jualan tuh sudah ada penjual pisang nugget. Tapi produk awal mereka saat itu cuma jualan pisang goreng dikasih tepung roti. Maka dari itu, saya berpikir untuk membuat pisang dengan cara dikukus biar bisa tahan seminggu. Siapa tahu bisa dijadikan oleh-oleh juga,” terangnya.

    Karena dikukus, produk milik Ira memang lebih tahan lama sehingga cocok dijadikan sebagai alternatif oleh-oleh, terlebih pembelian secara online memudahkan konsumen. Sebagai contoh kasus, ia menceritakan bahwa ada orang Indonesia yang bertempat tinggal di Australia rela memesan produk Pisang Nugget Jakarta tanpa mempedulikan ongkos kirim yang nyatanya cukup mahal. Pemesanan bahkan dilakukan orang itu sebulan sekali.

    Sekarang Pisang Nugget Jakarta telah memiliki gerai, tepatnya di halaman rumah Ira sendiri. Selain itu Ira juga telah melakukan pemasaran barunya dengan cara meng-endorse berbagai artis dan food blogger  untuk memberikan testimoni mereka.

    Bermodal inovasi dan teknologi, saat ini, untuk diketahui, Pisang Nugget Jakarta milik Ira itu dapat menuai omzet kurang lebih 100 juta/bulan. Ira juga sudah memiliki 8 karyawan untuk membantu gerai yang berada di rumahnya tersebut.

    Satu hal lagi yang membanggakan buat Ira, Pisang Nuget Jakarta disebutnya jadi satu-satunya produk Pisang Nuget yang diajak kerja sama oleh Gojek dalam bentuk campaign. Selain itu, produknya tersebut juga pernah dipesan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Bank BRI, Warda dan sebagainya.

    “Sekarang Pisang Nugget Jakarta punya 23 rasa. Paling terbaru Choco Mint. Selain Instagram, kami juga telah menggunakan Google Business,” tutupnya.

    Di sisi lain, meskipun sekarang bisnis online semakin menjamur, tidak membuat omzet pedagang konvensional tergerus. Mereka rata-rata dapat bertahan dari gempuran pelaku usaha online karena memiliki keunggulan tersendiri, seperti kualitas bahan baku.

    Salah satu pelaku usaha konvensional yang bertahan itu adalah Muhamad Irfan (38). Pria yang biasa dipanggil Ableh ini sudah berdagang siomay dan es teler sejak tahun 2000-an di kawasan Ciragil, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

    Ableh mengatakan, dirinya sempat ditawari untuk bergabung menjadi pedagang binaan Dinas Koperasi dan UMKM Jakarta. Akan tetapi ada beberapa persyaratan administrasi yang tidak bisa dipenuhi.

    “Saya tidak memiliki KTP DKI jadi enggak masuk kriteria untuk pedagang binaan,” katanya kepada Validnews, (Kamis 19/4).

    Meskipun tidak menjadi pedagang binaan dirinya justru tetap percaya diri, lantaran produk yang dijualnya sudah mendapatkan kepercayaan dari para konsumen. Ableh mengklaim produk yang dijualnya ini merupakan 100% produk rumahan yang menggunakan bahan baku terbaik yang ada di pasaran.

    Ableh tidak mempromosikan produk siomay dan es teler melalui online karena satu alasan. Menurutnya berdagang melalui online akan lebih banyak menyita waktu, terutama jika sedang berjualan.

    “Malah keteter nanti. Saya menjalankan usaha ini cuma berdua, takutnya dalam sehari saja bisa hitungan menit kita megang handphone,” ucapnya.

    Lagipula, Ableh menyebut, tanpa berjualan secara online, omzet yang dihasilkan dalam waktu satu hari bisa mencapai Rp3 juta. Meski belum memasarkan produknya secara online, namun dirinya cukup sering menerima permintaan pelanggannya untuk mengirimkan siomay lewat Go-send (salah satu konten dalam aplikasi Go-Jek.red).

    Gap Pengetahuan
    Melihat semakin majunya dunia digital yakni kini erat kaitannya dengan bisnis, menurut Deputi Fasilitasi Hak Kekayaan Intelektual dan Regulasi Bekraf Ari Juliano Gema, merupakan sebuah keniscayaan yang sepatutnya diterima dan dimanfaatkan oleh para pelaku UMKM.

    “Jadi usahanya lebih optimal,” tegasnya kepada Validnews, Kamis (20/4).

    Kendati demikian, diakui Ari perkembangan digital dan bisnis masih memiliki kelebihan dan kelemahan. Misalnya, secara sosial masih terdapat jarak pengetahuan di kalangan masyarakat pelaku UKM dan UMKM. Maksudnya, bagi orang yang tidak mengerti teknologi, mereka akan tertinggal daripada orang yang mengetahui itu.

    Saat ini tantangannya adalah lebih kepada upaya persamaan informasi bagi para pelaku usaha UKM dan UMKM.

    Masalah lainnya, dikatakan oleh Ari, adalah persoalan belum meratanya teknologi jaringan di Indonesia. Mayoritas wilayah Indonesia yang memiliki akses stabil saat ini barulah dirasakan penduduk di Pulau Jawa.

    Sedangkan di daerah lain, misalnya di wilayah Timur, sebagian besar belum terkoneksi dengan jaringan internet yang stabil. Padahal Kementerian Komunikasi dan Informatika telah menyampaikan telah bertekad kalau di tahun 2018 seluruh Indonesia akan distabilkan jaringan internetnya

    “Jadi di sini memang dibutuhkan peran pemerintah untuk memastikan bahwa setiap wilayah di Indonesia itu terhubung dengan jaringan internet,” jelas Ari.

    Dikatakan Ari, dengan menggunakan teknologi, pelaku usaha akan lebih mudah dalam bertransaksi dengan calon pembelinya. Hal itu bisa mendongkrak atau menaikkan pendapatan dan meningkatkan produksi. Pemanfaatan teknologi juga memudahkan dan mengefisienkan pengeluaran para pelaku usaha.

    “Ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi mungkin di dunia,” ujarnya.

    Menurutnya di tengah kemajuan era teknologi, para pelaku usaha harus mampu membidik peluang secara tepat dalam memanfaatkan teknologi untuk mengembangkan pemasarannya agar menjangkau pasar yang lebih luas, dengan melibatkan marketplace yang telah dianggap cukup berhasil.

    Pentingnya HAKI
    Sebetulnya, ada perbedaan definisi antara UMKM dan startup. Ari mengatakan perbedaan tersebut berdasarkan istilah. Jika UMKM itu istilah hukum, namun startup itu merupakan istilah yang berkembang secara praktik.

    Selama ini pemahaman orang tentang startup, menurutnya masih berbeda-beda. Bekraf sendiri, dikatakan Ari melihat startup adalah sebuah usaha yang didirikan oleh orang per orang. Usaha yang dimaksud itu masih berusia sekitar 2 atau 3 tahun dan memang ditujukan untuk berkembang, misalnya mencari investor atau pemodalan.

    Berdasarkan catatan Bekraf dan Badan Pusat Statistik (BPS), terhitung saat ini ada 8,2 juta startup. Berdasarkan pemetaan wilayah, startup paling banyak terdapat di wilayah Jawa, Sumatra, dan Kalimantan. Akan tetapi, dikatakannya data tersebut merupakan campuran dengan startup yang sudah mapan.

    Ari berharap usaha startup di bidang ekonomi kreatif harus mempersiapkan diri untuk mengembangkan usahanya. Jadi bukan mendirikan usaha tapi tidak memiliki business plan yang jelas. Hal yang paling penting lagi, mereka juga harus paham bahwa para pelaku usaha starup harus mengerti pentingnya melindungi HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual) atas produk-produknya.

    “Karena esensi ekonomi kreatif itu sejatinya adalah HAKI, Itulah kemudian yang harus diperhatikan oleh startup, sehingga nantinya HAKI ini dapat memberikan nilai lebih pada usahanya,” ucap Ari.

    Pemerintah dalam hal ini, dikatakan olehnya selalu berupaya memfasilitasi para pelaku ekonomi kreatif atau UMKM, khususnya startup yang baru berdiri. Hal itu ditujukan agar mereka dapat mudah dalam memudahkan usahanya.

    Selain itu, pemerintah juga telah berkomitmen kuat untuk memudahkan izin perizinan, lalu memudahkan akses permodalannya, lalu membantu mencarikan akses pemasarannya.

    Terpisah, Kementerian Koperasi dan UKM juga siap memfasilitasi startup untuk lebih berkembang. Fasilitas tersebut antara lain berupa hak cipta serta izin usaha gratis.

    Sekretaris Deputi Bidang Pengembangan SDM Kemenkop dan UKM Rulli Nuryanto mengatakan bagi startup yang membutuhkan permodalan, Kemenkop dan UKM dikaui dapat memfasilitasi akses permodalan ke lembaga pembiayan seperti perbankan.

    "Startup itu sebagian besar diisi oleh generasi muda dengan aset di bawah Rp50 juta," katanya kepada Validnews, Rabu (18/4).

    Rulli menyebutkan, startup saat ini merupakan solusi alternatif untuk menekan angka pengangguran karena keterbatasan lapangan pekerjaan, baik itu di pemerintahan, BUMN, maupun swasta. Bagusnya, saat ini mulai ada kecenderungan munculnya masyarakat yang menjatuhkan pilihannya sebagai wirausaha pemula karena tidak mau bekerja di perusahaan. Bisnis yang paling murah dan memungkinkan itu kata Rulli adalah startup.

    Rulli mengatakan perkembangan startup di Indonesia terbilang cukup tertinggal jika dibandingkan beberapa negara Asia lainnya, seperti Singapura dan lainnya. Selain karena masalah daya saing produk, hal ini juga diakibatkan karena belum kelarnya regulasi yang mengatur startup itu.

    "Selain itu, para pemilik startup ini rata-rata anak muda. Jadi mereka masih sulit untuk mendapatkan koneksi ke perusahaan-perusahaan besar," ujarnya.

    Kemenkop dan UKM sendiri telah menyiapkan dana sebesar Rp26,1 miliar untuk permodalan awal usaha (startup capital) bagi wirausaha pemula di tahun 2018 ini. Target yang ingin dicapai Kemenkop dan UKM pada tahun ini yakni sebanyak 1.800 wirausaha pemula.

    Rulli mengatakan pembiayaan wirausaha pemula tersebut merupakan program prioritas nasional di bidang pembiayaan tahun anggaran 2018—2019. Rencananya, kata dia, tahun 2019 Kemenkop UKM akan meningkatkan target sebanyak 16.292 wirausaha pemula.

    "Dengan nilai Rp325,84 miliar," katanya.

    Selain itu, Kemenkop dan UKM juga akan melakukan program prioritas lain yakni meningkatkan akses permodalan 15 ribu usaha mikro melalui KUR dengan target anggaran sebesar Rp8 miliar. Termasuk program bantuan sertifikasi Hak Atas Tanah bagi usaha mikro.

    "Itu rencananya diusulkan Rp5,36 miliar dengan melibatkan sebanyak 10 ribu UKM," ucapnya.

    Rulli mengatakan hingga saat ini jumlah pelaku UMKM yang sudah go online sebanyak 8 juta unit.

    Pembenahan UKM
    Selain mendorong startup, Kemenkop dan UKM juga mengapresiasi program pembiayaan usaha mikro melalui kerja sama dengan Pusat Investasi Pemerintah. Hal itu bertujuan memberikan fasilitas pembiayaan yang mudah dan murah bagi usaha mikro, sehingga jumlah wirausahawan baru bertambah.

    Selain memberdayakan UKM, gerakan ini akan membantu memberikan akses keuangan pada wirausaha. Kemenkop UKM akan membantu memastikan produk yang dihasilkan UMKM layak bersaing dan kapasitasnya cukup sehingga mendapatkan kepercayaan dari sumber pendanaan.

    “Dalam rangka memasuki bisnis online ini, kami perlahan membenahi UKM-UKM kita dengan membenahi kualitas produk dan standarisasi produk mereka. Kita bantu peningkatan SDM dan akses terhadap sumber-sumber pembiayaan,” tegasnya

    Dirinya berharap, ke depan kolaborasi antara pemerintah dan e-commerce akan berlanjut dan mampu merealisasikan visi bersama menjadikan Indonesia sebagai Digital Energy of Asia pada 2020 mendatang.

    Ia menambahkan, Kemenkop dan UKM memiliki beberapa program menuju digital economy, antara lain pendaftaran badan hukum secara online. Pelatihan SDM KUKM (koperasi dan usaha kecil menengah) dan mahasiswa (vocational training) sebagai technopreuner.

    "Kami juga memiliki program financial technology untuk para startup business dan pendaftaran UMKM sebagai merchant di marketplace SMESCO. Serta kerja sama dengan berbagai marketplace lainnya," katanya.

    Peneliti Senior Lembaga Riset Visi Teliti Saksama Sita Wardhani mengatakan, jumlah UMKM terbilang sangat besar. Selain itu, potensi bisnisnya mereka cukup menjanjikan dan nantinya dapat berkontribusi positif terhadap perekonomian Indonesia.

    “Dengan perkembangan teknologi sekarang sangat membantu para UMKM untuk memasarkan produknya secara murah,” terangnya.

    Dikatakan olehnya, apalagi sekarang juga tumbuh berbagai platform yang dapat menunjang kelangsungan usaha-usaha para pelaku itu. Misalnya Facebook, Instagram, Twitter, atau pun marketplace.

    Namun sayangnya, jumlah besar dan potensi bisnis yang menggiurkan itu belum memberikan kontribusi signifikan terhadap dunia perekonomian. Sebab, ia menambahkan daya beli masyarakat atau konsumsi dan tingkat investasi baik Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) maupun Penanaman Modal Asing (PMA) masih menjadi dua mesin utama laju pertumbuhan ekonomi.

    “Kelemahannya para pelaku biasanya adalah networking. Mereka yang cakap dalam berpresentasi pasti lebih unggul dibandingkan yang tidak memiliki kemampuan itu,” tambahnya. (Fuad Rizki, Fadli Mubarok)