Di Sumbar, BI Musnahkan Rp2,5 Triliun Uang Tak Layak Edar

Besarnya jumlah uang tidak layak edar yang harus dimusnahkan, mengindikasikan masyarakat masih senang menggunakan uang tunai dalam bertransaksi. Hal ini membuat uang kertas menjadi cepat lusuh

  • Petugas Bank Indonesia menunjukkan uang Rupiah yang telah dihancurkan dan diubah menjadi briket di Gedung C Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (26/7). ANTARA FOTO/Widodo S Jusuf/foc/17.
    Petugas Bank Indonesia menunjukkan uang Rupiah yang telah dihancurkan dan diubah menjadi briket di Gedung C Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (26/7). ANTARA FOTO/Widodo S Jusuf/foc/17.

    PADANG- Bank Indonesia perwakilan Sumatera Barat (Sumbar) memusnahkan uang tidak layak edar sebesar Rp2,5 triliun. Uang-uang tersebut ditarik dari masyarakat pada triwulan III 2017.

    "Jumlah tersebut meningkat hingga 44 persen pada periode yang sama dibandingkan triwulan III 2016," kata Kepala BI perwakilan Sumbar Endy Dwi Tjahjono di Padang, Selasa (19/12) seperti dikutip Antara

    Menurutnya uang tidak layak edar itu diperoleh dari hasil setoran bank setiap hari. Setelah dilakukan penyeleksian menggunakan mesin khusus dan yang tidak layak ditarik untuk diganti dengan yang baru. "Uang yang tidak layak edar tersebut telah dimusnahkan menggunakan mesin," serunya.

    Ia menjelaskan BI diberikan kewenangan untuk mencetak uang, mengedarkan, merawat hingga memusnahkan sesuai aturan yang berlaku. Menurutnya, besarnya jumlah uang tidak layak edar yang harus dimusnahkan, mengindikasikan masyarakat masih senang menggunakan uang tunai dalam bertransaksi. Hal ini membuat uang kertas menjadi cepat lusuh.

    "Bisa juga uang yang dimiliki kurang dirawat dan diperlakukan dengan baik," imbuhnya.

    Ia berharap masyarakat dapat memperlakukan uang dengan baik karena biaya mencetaknya mahal bahkan untuk mencetak uang kertas Rp2 ribu biayanya lebih mahal daripada nilainya. Karena itu BI butuh dukungan agar memperlakukan uang dengan baik serta mengenali ciri-ciri keaslian rupiah serta meningkatkan transaksi nontunai.

    Endy menambahkan, BI juga melayani penukaran uang baik melalui mobil kas keliling serta bekerja sama dengan perbankan yang ada di Sumbar.

    Sebelumnya Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno menyerukan kepada masyarakat untuk menggunakan alat pembayaran nontunai dalam transaksi keuangan karena lebih praktis dan efisien. "Keuntungannya menggunakan alat pembayaran nontunai masyarakat tidak perlu antre dan lebih efisien dari segi waktu," ucapnya.

    Diakuinya, sejauh ini memang belum semua orang suka dan terbiasa dengan pembayaran nontunai, karena belum terbiasa dengan teknologi. Menurutnya, ada orang yang kalau tidak memegang uang di tangan tidak nyaman, padahal kini semua transaksi cukup menggunakan kartu. “Untuk mengubah kebiasaan memang berat namun kalau dicoba pasti bisa," serunya. (Faisal Rachman)