HITAM PUTIH HIBURAN MALAM

Di Balik Senyum Manis LC Karaoke

Pekerja hiburan malam memperoleh penghasilan menggiurkan yang berbanding lurus dengan risiko pekerjaan yang tak kalah besar

  • ilustrasi razia klub malam. (ANTARAFOTO)
    ilustrasi razia klub malam. (ANTARAFOTO)

    JAKARTA – Belasan perempuan muda berpenampilan menarik berdiri berjejer di dalam sebuah ruangan di salah satu karaoke di bilangan Jakarta Selatan. Pakaiannya bervariasi, namun satu yang seragam adalah semuanya serba ketat, sengaja memperlihatkan kesintalan dan lekuk tubuh. Beberapa bahkan tak malu menonjolkan bagian vital tubuhnya sebagai daya tarik buat tamunya.

    Seorang perempuan yang terlihat lebih tua dan memakai blazer berdiri paling pinggir dan memperkenalkan para perempuan tersebut kepada tamu. Perempuan itu biasa disapa mami. Dialah yang pertama menyambut tamu yang datang, lalu memanggil para perempuan tersebut ke dalam ruangan.

    “Beri salam,” si mami memberi perintah kepada nona-nonanya.

    Perempuan-perempuan yang berprofesi sebagai pemandu lagu atau lady companion (LC) tersebut pun langsung mengikuti perintah sang mami dengan mengucap sapa selamat malam sembari menundukkan badan mereka ke arah tamu.

    Ulasan senyum tak lepas dari bibir mereka. Seperti merayu namun tanpa kata. Hanya tatapan menggoda bercampur harap agar tamu yang datang malam itu memilih mereka, bahkan untuk sekedar menemani minum dan bernyanyi malam itu. Proses pemilihan LC untuk menemani karaoke ini sering kali disebut dengan “kontes”.

    Bagi para LC, kontes boleh dibilang merupakan salah satu ritual penting yang mereka lakukan. Proses inilah yang menentukan rezeki mereka nantinya. Bila terpilih oleh tamu, jumlah jam servis mereka akan ditambahkan oleh pihak perusahaan sesuai dengan berapa lama sang tamu ditemani. Jumlah jam servis itu akan diakumulasikan dan dikonversi dengan uang yang akan mereka terima di akhir bulan sebagai gaji mereka.

    Tentu saja bukan hanya itu yang menjadi sumber pemasukan para LC ini. Uang tip yang besarannya bervariasi umumnya akan mereka terima usai menemani si bos pengunjung karaoke tempat mereka bekerja. Singkatnya, semakin tamu senang kepada mereka kemungkinan tip diterima sebagai tambahan pundi ke kantong pribadi mereka akan semakin besar. Beberapa tempat bahkan menerapkan minimum tip yang harus diberikan kepada LC, mulai dari Rp300 ribu hingga Rp500 ribu.

    Hal ini pula yang menyebabkan tingginya persaingan antar-LC dalam memikat hati para tamu. Postur tubuh proporsional dengan paras wajah menarik dibalut pakaian seksi dan senyuman nakal menjadi modal awal. Faktor lain yang tak kalah penting, tentunya polesan make up dan wangi tubuh hasil semprotan parfum mahal di tubuh mereka.

    Jutaan hingga belasan juta rupiah dikeluarkan para LC untuk merawat tubuh mereka. Itu belum terhitung biaya mistis mempercantik diri, seperti rumor beredar selama ini. 

    Dari belasan perempuan yang ikut kontes tersebut, hanya beberapa yang terpilih, sesuai dengan jumlah tamu yang ada di dalam ruangan. Mereka yang tidak dipilih, akan keluar dari ruangan lalu menuju ruang loker sembari menunggu ada tamu lain yang datang.

    Setiap perempuan yang dipilih langsung duduk di samping tamu yang memilih mereka. Seolah tanpa canggung, antara LC dan sang tamu saling memperkenalkan masing-masing. Sikap sopan dan ramah serta melayani dengan baik ditunjukkan salah seorang LC kepada Validnews yang datang ke lokasi hiburan itu, Selasa (7/11). Menurutnya, keramahan dan pelayanan yang baik memang menjadi kunci emas mereka. Pasalnya, ketika tamu tak merasa senang, LC dengan mudah akan diminta keluar dan digantikan rekannya yang lain.

    “Mau minum,” ucap perempuan yang mengaku bernama Fira ini.

    Dia menawarkan minuman beralkohol jenis whisky yang sudah tersedia di meja. Tangan kirinya memegang gelas dan tangan kanan memegang botol minuman. Tanpa ragu dia menuang minuman tersebut lalu mengajak bersulang. Usai minum, Fira langsung mengambil buah dengan garpu lalu menyuapi dengan tangannya yang mungil lagi lembut.

    Perempuan berkulit putih mulus ini sebenarnya tidak bernama Fira. Nama tersebut didapatnya dari tempat karaoke ini, karena memang hampir setiap LC memiliki nama samaran mereka saat bekerja.

    “Tidak usah tanya nama asli, panggil Fira saja. Toh di sini juga orang-orang tahunya nama aku Fira,” kata dia menegaskan.

    Karena di dalam ruangan volume musik sudah cukup keras, Fira harus mengeraskan suara saat berbicara dengan tamunya. Dia juga harus sedikit mendekatkan mungil bibirnya ke telinga sang tamu. Kesan seksi muncul dari aroma parfum lembut bercampur dengan bau tubuhnya yang menggiurkan. Obrolan perkenalan beranjak kepada obrolan mengenai pekerjaan dan tempat tinggal masing-masing.

    Di sela-sela obrolan, perempuan berusia 20 tahun ini mengambil remote untuk memilih lagu. Dia menanyakan lagu apa yang ingin dinyanyikan. Setelah satu dua lagu dinyanyikan, Fira semakin terlihat santai dan akrab dengan tamunya malam itu. Dia berdiri dan menggandeng tamunya, mengajak bernyanyi dan menari bersama.

    Malam itu para tamu dan para LC menikmati malam dengan lagu, tawa, canda yang sempurna dalam siraman alkohol. Kemabukan malam itu seolah membuat mereka lupa akan kehidupan masing-masing di luar ruangan tersebut. Seolah yang mereka tahu hanyalah ruangan itu saja dan orang-orang di dalamnya.

    Ilustrasi pemandu lagu di tempat hiburan karaoke. ANTARA FOTO

    Pilihan Terakhir
    Malam itu Fira sempat bercerita bagaimana dirinya bekerja di tempat tersebut. Menurutnya, pekerjaan tersebut terpaksa dijalaninya setelah dia mencoba melamar di banyak tempat namun tidak diterima.

    “Aku pernah masukkan lamaran di 20 tempat, dan sama sekali belum dapat panggilan. Di situ aku udah pesimis, jadi nyoba di sini,” ungkap Fira.

    Diakui dia, setelah memberanikan diri bekerja sebagai LC, pekerjaan itu tidak sepenuhnya mudah dijalani. Dia bahkan sempat beberapa kali keluar dari tampat dia bekerja, namun tetap saja mencari pekerjaan tidaklah mudah. Alhasil dia hanya berpindah dari satu tempat karaoke ke tempat karaoke lainnya karena merasa tidak nyaman dengan pekerjaannya tersebut.

    Bahkan Fira mengaku sempat bekerja di salah satu karaoke di Jakarta Pusat yang masih satu grup dengan Alexis. Namun di situ pula dia paling merasa tidak kerasan. Menurut Fira, dia hanya tahan tiga hari bekerja di tempat karaoke internasional macam itu. Padahal di tempat karaoke seperti itu pemasukan yang diterima LC jauh lebih besar.

    Namun cara melayani tamu di situ jauh lebih vulgar dibanding tempat karaoke dimana dia bekerja saat ini. Fira tidak menceritakan secara detil jenis pelayanan seperti apa yang dia maksud. Dia hanya mengatakan bahwa di sana para LC benar-benar melakoni pekerjaannya sebagai pekerja malam. Industri seks tersirat dari keengganannya menggambarkan secara gamblang tempat karaoke dimaksud.

    “Mungkin kalau cewek yang nanggung terjun ke dunia kayak aku, pemikirannya akan seperti itu. Kan banyak juga yang mikir kalau kerja kayak gini dosa, nah kalau dosa ya sekalian aja terjerumus yang kayak gitu. Nah aku masih nanggung, masih takut gitu,” ucap Fira.

    Berdasarkan informasi yang didapat Validnews dari sejumlah narasumber di lapangan, sejumlah tempat karaoke yang menyediakan LC memang memberikan layanan tambahan kepada tamu di luar sekedar menemani bernyanyi dan minum di dalam ruangan karaoke. Layanan dimaksud adalah layanan kencan di luar yang sering disebut dengan BO atau singkatan dari booking out.

    Bayaran untuk layanan BO ini tentunya di luar biaya servis dan biaya ruangan di karaoke. Beberapa tempat karaoke mewajibkan pekerjanya untuk menerima permintaan BO dari tamu. Namun ada beberapa tempat karaoke yang tidak menyediakan jasa seperti itu, kecuali terjadi kesepakatan transaksional antara LC dengan sang tamu.

    Untungnya, di tempat Fira bekerja sekarang ini dia tidak diwajibkan menerima permintaan BO dari tamu. Dia diperbolehkan menolak permintaan macam itu. Hanya melayani tamu-tamunya sebatas bernyanyi dan minum bersama. Walau terkadang ada sedikit pelukan dan ungkapan kata-kata mesra yang harus dia lontarkan untuk membuat tamunya senang.

    Bergelimang Uang
    Bekerja di dunia malam boleh dibilang menyenangkan dari sisi penghasilan. Hal itu diakui Fira yang tinggal di salah satu rumah kos elit di kawasan Jakarta Selatan ini. Meski tidak menerima layanan kencan, Fira mengaku penghasilannya setiap bulan bisa mencapai belasan juta rupiah.

    Menurut Fira penghasilan yang dia terima dari perusahaan tergantung dari jumlah jam dia menemani tamu di ruang karaoke. Berdasarkan pengalamannya selama ini, penghasilannya paling rendah sekitar Rp5.000.000 dan paling tinggi Rp15.000.000. Nominal tersebut adalah nominal yang dia terima dari perusahaan dan belum termasuk dari uang tip yang diberikan tamu secara personal.

    Penghasilan yang besar membuat Fira bisa membantu kebutuhan ekonomi pribadinya tanpa menyusahkan orang lain. Bahkan dari penghasilannya itu dia bisa membantu kebutuhan harian keluarganya yang saat ini tinggal di Jawa Barat.

    Pengakuan serupa diungkapkan pemandu karaoke lain yang memiliki nama samaran Sarah. Dia mengungkapkan, pekerjaannya itu membuat dia cepat mendapat uang dengan nominal yang terbilang lumayan.

    Dia bahkan sudah pernah menjalani pekerjaan normal seperti orang kebanyakan yang bekerja dari pagi hingga petang. Jika dibandingkan dengan pekerjaan semacam itu, bekerja di tempat hiburan malam menurutnya jauh lebih menghasilkan. Selain itu, jadwal kerja yang terbilang lebih fleksibel membuat pekerjaan tersebut dirasa lebih nyaman.

    Terlebih menurutnya persyaratan untuk bekerja di tempat karaoke terbilang tidak terlalu sulit. Nyaris tak ada syarat selain berusia muda dan berpenampilan menarik. Dia mengungkapkan, awal bekerja diharuskan menjalani percobaan selama enam bulan sebelum dianggap sebagai pekerja di sana. Sayangnya, meski dinyatakan telah menjadi karyawan namun status disandang tetaplah bukan sebagai pegawai tetap.

    Selama bekerja, Sarah mengaku ada aturan yang diterapkan oleh pihak perusahaan. Mereka diwajibkan bekerja 18 hari kerja selama satu bulan. Jika jumlah tersebut terpenuhi, maka pemasukan yang mereka terima dari jumlah jam menemani tamu tidak akan dikenai potongan. Jumlah potongan akan bertambah jika jumlah tidak masuk kerja semakin banyak.

    Dari pengalamannya bekerja selama ini, Sarah mengaku bisa mendapat penghasilan bulanan belasan juta rupiah. Itu pun belum termasuk uang tip yang dia terima dari tamu. Menurut dia, tip yang diterimanya terbilang lumayan. Pernah ada tamu yang memberikan tip hingga Rp3.000.000.

    Penghasilan tersebut juga dipakai Sarah untuk mencukupi kebutuhan ekonomi orangtuanya. Terlebih Sarah adalah anak pertama yang menjadikannya sebagai tulang punggung keluarga.

    Namun jumlah penghasilan yang besar bukan satu-satunya alasan yang membuat perempuan berkulit putih ini kerasan menjalani pekerjaan tersebut. Menurutnya sistem masuk kerja yang fleksibel membuat dia bisa lebih santai menjalani pekerjaan. Asalkan kuota wajib masuk 18 hari yang ditentukan bisa dipenuhi.

    “Bisa masuk kapan aja, kalau lagi malas masuk ya enggak masuk, dan enggak kena sanksi. Kapanpun gue bisa cabut (keluar), kapanpun gue bisa masuk lagi,” kata perempuan bermata indah dengan bulu mata lentik ini.

    Cerita menarik diungkapkan oleh LC lainnya yang biasa disapa Novi di tempat kerjanya. Dua tahun lalu, tepatnya Juni 2015 perempuan berkulit sawo matang ini meninggalkan kampung halamannya di Jawa Barat menuju Jakarta. Saat itu usianya masih berusia 17 tahun, namun dia mencoba untuk mencari pekerjaan.

    Bermodalkan tekad, dia berangkat ke kota, meski dia tidak tahu persis apa yang akan dia kerjakan di Jakarta. Saat mendapatkan informasi pekerjaan, yang dia tahu dirinya hanya perlu menemani tamu minum saja di tempat karaoke. Dia pun penasaran dan ingin mencoba pekerjaan tersebut.

    “Ada info kerja minum-minum, enggak diapa-apain, nemenin karaoke aja. Nah gue langsung berangkat ke Jakarta, wawancara dan besoknya langsung disuruh kerja,” ucap Novi saat ditemui Validnews di tempat kosnya di kawasan Jakarta Selatan, Rabu (8/11).

    Setelah mencoba pekerjaan barunya itu, Novi mengetahui bahwa pekerjaannya itu membuatnya cepat mendapatkan uang. Perempuan manis dan periang ini ini pun mengaku semakin tertarik dengan pekerjaanya tersebut.

    “Awalnya coba-coba, eh malah ketagihan pegang uang banyak,” kata Novi sambil tertawa.

    Cepat mendapat uang, dan bersenang-senang dengan bernyanyi, terbiasa dengan minuman alkohol membuat Novi semakin penasaran dengan pekerjaannya itu. Menurut pengalamannya, gajinya sebulan bisa sampai Rp12.000.000, belum termasuk dari uang tip yang diberikan tamu kepadanya.

    Sedangkan uang tip yang diterima dari setiap tamu bisa berbeda-beda, tergantung dari kerelaan tamu yang dia temani. Ada tamu yang bisa memberikan tip jutaan rupiah.

    Selain membantu ekonomi keluarga, dari pekerjaannya itu perempuan berusia 19 tahun ini mengaku sudah berjalan ke sejumlah destinasi wisata di Indonesia, bahkan sampai ke luar negeri, seperti Singapura dan Malaysia. Cepat mendapat uang membuat Novi semakin larut dengan kesenangan akan pekerjaannya tersebut.

    Entah karena terlalu senang, atau karena sudah terlanjur basah, Novi tidak buru-buru berhenti kerja ketika dirinya mengetahui bahwa pekerjaannya tidak hanya sebatas menemani tamu minum saja. Melainkan juga menemani hingga ke ranjang. Pekerjaan tambahan macam itu memang disediakan oleh tempat karaoke di tempat Novi bekerja.

    Jika tamu sudah sepakat dengan pihak karaoke dan LC yang menemani, maka si tamu bisa membawa LC tersebut pulang. Selanjutnya, urusan di luar karaoke tidak lagi berhubungan dengan menyanyi atau minum-minum, melainkan kesenangan lain yang bernuansa seks.

    Novi tak membantah bahwa dirinya memberikan layanan ekstra kepada tamu-tamunya. Di satu sisi dia tahu caranya itu salah, namun di sisi lain dia juga merasa senang bisa memiliki banyak uang.

    Happy-happy saja. Banyak uang, senengin diri sendiri tanpa susahin orang lain, walapun caranya salah,” kata Novi.

    Berdasarkan pengakuan perempuan ini, jika diasumsikan tip yang mereka terima rata-rata Rp500.000 setiap malam dengan tamu ditemani selama sebulan sebanyak 20 orang saja, maka terkumpul uang setidaknya Rp10.000.000. Artinya jika dijumlah dengan gaji bulanan mereka, maka pemasukan yang mereka terima setiap bulan bisa mencapai puluhan juta rupiah.

    ilustrasi - bersulang. (Pixabay)

    Objek Penderita
    Meski punya banyak uang, bisa jalan-jalan hingga ke luar negeri, namun menurut Novi pekerjaan seperti itu tak selalu menyenangkan. Ada kalanya dia merenung sendiri mengapa dia harus menjalani pekerjaan di dunia malam seperti itu.

    Sebagai pekerja malam yang harus menemani tamu saat minum dan berkaraoke, maka dia pun harus berurusan dengan minuman haram tersebut. Jadi hampir setiap hari dia harus berurusan dengan mabuk yang memusingkan kepala dan berdampak buruk bagi kesehatan.

    Belum lagi harus menghadapi tamu dengan berbagai karakter yang tak jarang memperlakukan dirinya seolah barang dagangan yang hanya dinilai dari uang semata. Perlakuan kasar sangat mungkin diterima dari tamu yang merasa tidak puas dengan pelayanannya.

    Novi mengungkapkan, dirinya pernah dipaksa untuk melayani tamu yang ingin mengencaninya di luar karaoke. Saat itu dia tak dapat menolak, meski sebenarnya Novi sudah sangat lelah dan ingin istirahat.

    “Capek, terus dipaksa, sampai nangis-nangis,” kata Novi.

    Risiko lain yang mungkin diterima seorang LC adalah penganiayaan langsung yang dilakukan tamu. Tamu yang di bawah pengaruh alkohol, dengan kondisi psikologi bermacam-macam sangat mungkin membawa masalah dari luar dan melampiaskannya kepada LC.

    Beberapa dari mereka dianiaya menggunakan tangan kosong, bahkan mungkin dipukul menggunakan alat seperti botol. Saat itu terjadi, seringnya tidak ada sanksi apapun kepada si tamu yang melakukan tindakan kasar tersebut.

    Karena risiko diperlakukan kasar ataupun tindak kejahatan yang bisa mengancam seorang LC, maka umumnya perusahaan mewajibkan agar kegiatan di luar ruang karaoke dilakukan di bawah pengawasan perushaan. Karena itu BO atau kesepakatan kencan tidak diperbolehkan dilakukan hanya oleh LC dan sang tamu tanpa sepengetahuan perusahaan.

    Hal itu diungkapkan mantan komunikasi pemasaran di sebuah kelab malam di wilayah Jakarta Pusat bernama Leo. Menurutnya, kelab tempat dia bekerja dulu, selain terdapat lounge, bar, dan live music, juga menyediakan tempat karaoke lengkap dengan LC yang bisa diajak kencan. Untuk menghindari perbuatan tidak menyenangkan yang dialami LC, maka perusahaan membuat peraturan sedemikian rupa agar BO dilakukan di bawah pengawasan perusahaan.

    “Setiap seminggu sekali mereka (LC) dikumpulkan, diberi tahu fakta bahwa mereka bisa menjadi korban kejahatan jika berurusan dengan tamu tanpa melalui perusahaan. Ini untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan,” ungkap Leo.

    Cinta di Toilet
    Meski sudah mendapat pengarahan agar transaksi kencan dilakukan di bawah pengawasan perusahaan, namun diakui Leo tetap saja ada transaksi sembunyi-sembunyi yang terjadi antara tamu dan LC. Salah satunya adalah kencan sesaat atau transaksi seks di dalam toilet.

    Transaksi seperti ini dilakukan untuk menghemat biaya BO yang semestinya dibayarkan kepada perusahaan. Artinya uang dari tamu langsung dibayarkan kepada LC sesuai dengan kesepakatan bersama. Jika sudah sama-sama sepakat, maka LC dan tamu bisa memanfaatkan toilet yang ada di dalam ruangan karaoke.

    “Karena itu kalau di tempat saya bekerja waktu itu, lima menit saja tamu dan LC berada di dalam toilet, maka itu akan jadi pertanyaan dari pihak perusahaan. Bisa-bisa dikenai biaya BO,” ungkap Leo.

    Dia mengakui bahwa pekerjaan di tempat hiburan, baik LC maupun pekerjaan lain seperti penari, DJ, ataupun pramusaji lebih banyak tidak menyenangkannya. Namun menurut dia semua itu sering kali ditutupi dengan besarnya uang yang diterima. Bahkan mereka yang sebelumnya tidak tahu jenis pekerjaan tersebut justru memilih bertahan karena alasan uang.

    Dicontohkannya, mereka yang bekerja sebagai LC ada yang datang sendiri membawa lamaran atau ada juga yang berdasarkan referensi dari teman lain yang sudah bekerja sebelumnya. Ada juga agen atau penyalur yang mencari perempuan sampai ke daerah-daerah.

    “Modusnya macam-macam, ada yang ditawari kerja di kafe, ternyata sampai di Jakarta menjadi LC. Ada juga yang memang sejak awal sudah diberi tahu bahwa pekerjaannya adalah pekerjaan dunia malam,” kata Leo.

    Ia melanjutkan, biasanya mereka yang sudah terlanjur menjadi LC tidak bisa keluar dari pekerjaan tersebut bukan karena sistem kerja yang mengikat, melainkan karena besarnya uang yang didapat. Bahkan menurutnya di tempat dia bekerja dulu seorang LC bisa mendapat penghasilan hingga Rp50.000.000.

    Jumlah tersebut bisa didapat dari jasa servis menemani di ruangan karaoke atau ditambah jumlah bayaran untuk jasa kencan yang harganya bisa mencapai Rp6.000.000. Karena besarnya penghasilan, beberapa di antara LC tersebut bahkan diberikan pinjaman oleh perusahaan untuk bisa mengambil kredit mobil yang harganya ratusan juta rupiah.

    “Beberapa LC yang cantik itu bisa mudah mendapatkan tamu dan selalu dicari, sampai punya pelanggan sendiri. Nah yang seperti itu penghasilannya bisa sampai lima puluh juta rupiah. Nah dengan pemasukan seperti itu perusahaan tidak ragu memberikan pinjaman untuk kredit mobil,” ungkap dia.

    Ditambahkan Leo, penghasilan tambahan juga bisa didapatkan dari LC jika mereka menjalin hubungan percintaan dengan pria yang tak lain adalah tamunya. Jika sering bertemu di ruang karaoke dan terjadi kenyamanan bersama, maka tamu dan LC bisa saja saling menyukai. Hubungan keduanya bisa terus berlanjut di luar ruangan.

    Hubungan seperti itu biasanya diharapkan terjadi saling menguntungkan kedua belah pihak. Jika memang melibatkan perasaan yang tulus, maka keduanya bisa melanjutkan hubungan secara serius. Tetapi jika hanya menginginkan keuntungan, biasanya si pria menginginkan agar lebih sering bertemu dengan si perempuan dan bisa lebih sering bermesraan. Sedangkan si perempuan pun bisa mendapatkan uang lebih di luar jam kerja.

    Tidak Terdaftar
    Mantan pekerja hiburan malam yang sempat berprofesi sebagai “mami”, Starla (bukan nama sebenarnya) mengungkapkan bahwa pemasukan LC memang bisa mencapai puluhan juta. Bahkan ada tempat karaoke yang menurutnya bisa membuat LC menerima pemasukan sampai Rp80.000.000.

    Meski begitu Starla menegaskan bahwa uang yang terbilang besar sebenarnya tidak sebanding dengan duka yang mereka alami. Menurut dia, para LC tersebut bekerja bukan semata-mata ingin mendapatkan uang lebih, melainkan untuk mencukupi kebutuhan hidup dan keluarganya.

    “Ya contohnya akulah, aku kan kerja malam untuk adik-adiku kuliah. Ya dari mana, kalau kita tanggungan banyak, ngandelin UMR mana bisa. Aku aja dulu kuliahin adik itu tiga, semuanya sarjana. Kalau enggak ada kerja malam mau kerja dimana,” kata dia.

    Selain risiko pekerjaan yang tinggi, para LC menurutnya menjalani pekerjaan yang sulit karena tidak terdaftar sebagai tenaga kerja di Dinas Ketenagakerjaan. Mereka tidak memiliki kontrak kerja, dan karena itu mereka tidak memiliki asuransi, baik jaminan kesehatan maupun jaminan ketenagakerjaan.

    “Mereka LC itu kan risiko tinggi, tapi kadang dapat loyalitas perusahaan paling minim. Misalkan ya, LC sakit, perusahaan ngasih ala kadarnya. Tapi untuk seterusnya kan mereka biaya sendiri,” ungkap Starla.

    Dia berpendapat selama ini pemerintah kurang melihat nasib-nasib perempuan pekerja dunia malam. Padahal keberadaan perempuan yang bekerja di tempat hiburan malam itu ada, namun dianggap seolah tidak ada.

    Padahal pajak dari hiburan sebenarnya menjadi salah satu pemasukan bagi pemerintah. Sayangnya, pekerja hiburan seolah dipinggirkan begitu saja dan tidak dianggap. Karena itu dia berharap ada kebijakan pemerintah untuk menekan para pelaku bisnis hiburan agar mengasuransikan setiap pekerjanya, termasuk para LC.

    “Ya pemerintah nge-push-lah kalau buka entertain, LC diberikan asuransi untuk kesehatan dan dana pensiun mereka. Mereka berjuang untuk keluarga, untuk perusahaan. Tapi diri sendiri mereka don’t care,” kata Starla.

    Tak hanya ketiadaan asuransi ataupun jaminan kesehatan, pekerja malam mungkin bahkan dianggap sebagai angin belaka oleh pemerintah. Hampir bisa dipastikan tidak ada data resmi yang valid mengenai jumlah pekerja hiburan secara keseluruhan, termasuk para LC di dalamnya.

    Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi DKI, Priyono dihubungi Validnews melalui telepon selulernya misalnya, mengaku tidak mengetahui jumlah tenaga kerja di tempat hiburan malam Jakarta. Dia justru mengatakan bahwa data tersebut ada di Dinas Pariwisata. Sedangkan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta, Tinia Budiati tidak merespon saat dihubungi melalui kontak telepon maupun pesan singkat.

    Pekerja tempat hiburan malam semestinya mendapat perhatian pemerintah. Jumlah mereka pun terbilang tidak sedikit.  Berdasarkan data yang dikutip dari situs resmi Dinas Pariwisata DKI, ada 312 karaoke, 74 spa, 80 diskotik, 212 musik hidup yang secara resmi beroperasi di Jakarta.

    Sebagai gambaran, di Alexis saja ada sebanyak 1.000 orang pekerja terdiri atas 600 karyawan tetap dan 400 karyawan lepas. Dengan asumsi masing-masing lokasi hiburan malam memiliki rata-rata pekerja sebanyak 400 orang, maka tidak kurang dari 24 ribu pekerja.

    Di balik duka yang dialami para pekerja hiburan malam itu, berapa besar pun uang yang mereka terima, satu hal yang pasti mereka menyadari persis bahwa itu bukan pekerjaan yang bisa dipertahankan. Baik Fira, Sarah dan Novi mengaku tahu betul bahwa pekerjaan tersebut harus ditinggalkan. Ketiganya pun mengaku bahwa saat ini tengah menabung agar nantinya uang mereka cukup untuk menjalani pekerjaan lain.

    Bahkan Novi mengaku saat ini sudah mulai menjalani usaha lain meski masih bekerja sebagai LC. Dia tengah menjalani usaha toko pakaian dan sedang mempersiapkan untuk membuka bisnis kuliner. Dia berharap usahanya tersebut bisa berjalan baik, sehingga dia tak perlu kembali bekerja di kelab malam. (Jenda Munthe, M. Bachtiar Nur)