Densus Akan Gali Jaringan Ilham Di Tanah Air

Kota terakhir basis ISIS direbut tentara Suriah

  • SIMULASI- Sejumlah petugas dari Unit KBR (Kimia Biologi dan Radio Aktif) Brimob Polri melakukan evakuasi terhadap para korban penyerangan teroris saat melakukan simulasi pada Penutupan Pelatihan Mitigasi Aksi Terorisme Integratif dan Sistem Informasi Crisis Center di Jakabaring Sport City (JSC) Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (1/11).  ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/pras/17
    SIMULASI- Sejumlah petugas dari Unit KBR (Kimia Biologi dan Radio Aktif) Brimob Polri melakukan evakuasi terhadap para korban penyerangan teroris saat melakukan simulasi pada Penutupan Pelatihan Mitigasi Aksi Terorisme Integratif dan Sistem Informasi Crisis Center di Jakabaring Sport City (JSC) Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (1/11).  ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/pras/17

    MANILA- Dua personil Detasemen Khusus (Densus) 88 mengecek kejelasan identitas Mohammad Ilham Syahputra, warga Indonesia yang kini ditahan aparat Filipina karena terlibat jaringan terorisme terafiliasi ISIS di Marawi. Pemeriksaan diperlukan karena paspor yang ditemukan bersama diri yang bersangkutan bukan dokumen asli. Sebelumnya, Ilham bahkan disebut sudah meninggal. 

    Personil Densus juga selain memverifikasi identitas Ilham, juga memeriksa ahli drone kelompok Maute ini, untuk mengetahui jaringannya di Tanah Air. Duta Besar RI untuk Filipina Johny Lumintang, Jumat (10/11) menyampaikan bahwa paspor milik Ilham Syaputra, harus diperiksa kembali.

    "Ilham Syaputra sampai sekarang masih harus dicek karena paspor yang ditemukan pada dirinya bukan paspor asli. Itu paspor dia sebelumnya ketika ditangkap pada bulan April. Pada operasi militer beberapa waktu lalu kan diketemukan paspornya sehingga dianggap bahwa dia sudah meninggal, tetapi belum lama ini tertangkap lagi, namun dengan paspor yang berbeda," ujar Dubes Johny Lumintang dikutip Antara, di Manila, Jumat. 

    Beberapa waktu lalu. warga Indonesia bernama Ilham Syaputra ditahan di Filipina karena diduga bergabung dengan militan ISIS di Marawi dan Kedutaan Besar RI di Filipina telah menerima pemberitahuan dari otoritas Filipina terkait penangkapan Ilham.  Dia disebut direkrut oleh jaringan Maute-Abu Sayyaf karena kepandaiannya menggunakan drone. Ilham, dalam pemberitaan juga mengungkapkan bahwa ISIS Asia Tenggara sudah punya pemimpin baru, warga Malaysia.

    Terhadap penanganan ISIS, Indonesia, Malaysia, dan Filipina  akan bertemu pekan depan   untuk membahas mengenai keamanan di kawasan, khususnya mengenai Marawi. Pertemuan ini akan digelar di sela-sela KTT ASEAN yang berlangsung awal pekan depan di Manila.

    "Ini merupakan petemuan informal singkat. Tujuan utama trilateral ini untuk membahas situasi di Marawi. Beberapa minggu terakhir ini ada perkembangan positif. Mungkin Filipina akan menyampaikan laporan yang ada di lapangan," kata   Juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia, Arrmanantha Nassir.

    Kalah Di Suriah
    Di pusat aktivitasnya, ISIS mengalami pukulan telak. Bahkan, tentara Suriah menyatakan telah berhasil merebut kembali Abu Kamal, kota terakhir yang selama ini dikuasai para militan ISIS, Kamis waktu setempat (10/11) .

    Abu Kamal merupakan kota terakhir kelompok militan yang berhasil direbut Suriah, di dekat perbatasan dengan Irak.  Kota ini diduduki ISIS saat  mendeklarasikan Khilafah  di tahun 2014 di Irak dan Suriah.

    "Ini kejatuhan organisasi teroris ISIS di wilayah Suriah," sorak-sorai tentara Suriah, sebagaimana dikabarkan AFP.

    Sayangnya, nasib pimpinan ISIS, Abu bakar al-Baghdadi hingga kini masih belum diketahui setelah kabar terbunuh dalam sebuah serangan udara sekutu Suriah.

     

    Di Tanah Air, mantan teroris Iqbal Husaini atau Rambo atau Adrian Alamsyah mengajak generasi muda untuk menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan cara yang benar. Pemuda yang pernah divonis empat tahun penjara karena kasus terorisme saat konflik Ambon mengaku sejak dulu ia cinta NKRI, dan karena alasan itu pula ia ikut "berjihad" di Ambon.

    "Sebagai anak muda, saya ingin jadi pahlawan saat itu. Niat kami ingin menjaga NKRI, tapi ternyata caranya salah dan tidak sesuai dengan undang-undang dan Pancasila," kata Iqbal yang kini malah ikut dalam kegiatan deradikalisasi bersama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

    "Jadilah pahlawan dengan menjadi agen perdamaian baik di dunia nyata maupun dunia maya. Warisan kemerdekaan dari pahlawan adalah warisan terbaik buat bangsa Indonesia. Mari kita jaga kemerdekaan dan keutuhan NKRI," kata Iqbal.

     

    Hari ini, Jumat (10/11) beberapa narapidana kasus terorisme juga menyerukan senada  dengan Iqbal. Direktorat Jenderal Pemasyarakatan mengungkapkan para narapidana kasus teroris yang tersebar di beberapa lembaga pemasyarakatan (Lapas) mengikuti upacara dengan khidmat peringatan Hari Pahlawan 10 November.

    Di Porong, tiga narapidana teroris, yakni Umar Patek, Asep Jaya, dan Ismail Yamsehu menunjukan ikrar setianya kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan mengikuti Upacara Hari Pahlawan, Jumat (10/11).

    Sedang di Kota Tondano, narapidana teroris, Panji Kokoh Kusumu, juga larut dalam khidmatnya peringatan Hari Pahlawan di Lapas Tondano. Dan, di lapas Bojonegoro juga dua napi teroris Adi Margono dan Separi Anu juga ikut upacara.

    Sekretaris Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sri Puguh Budi Utami, dalam pemberitaan Antara, memuji proses pembinaan yang dilakukan masing-masing lapas sehingga narapidana teroris bisa kembali ke pangkuan ibu pertiwi.

    Direktur Pembinaan Narapidana dan Latihan Kerja Produksi Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Harun Sulianto meminta petugas di lapas agar tetap semangat melakukan pembinaan kesadaran berbangsa kepada para narapidana teroris. Mereka  juga harus didukung untuk aktif dalam pembinaan kepribadian dan kemandirian. (Rikando Somba)