Demi 'Kids Zaman Now', Kemenpar Kembangkan Destinasi Digital

Kementerian Pariwisata Indonesia menggandeng Generasi Pesona Indonesia (Genpi) untuk mempromosikan destinasi digital yang akan dikembangkan di 14 provinsi

  • Wisata bawah air Umbul Ponggok, Klaten, Jawa Tengah. (ist)
    Wisata bawah air Umbul Ponggok, Klaten, Jawa Tengah. (ist)

    JAKARTA- Semakin tingginya keinginan generasi milenial untuk menunjukkan eksistensi di media sosial merupakan peluang bagi industri pariwisata. Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mulai mengembangkan wisata digital sebagai salah satu langkah untuk mendongkrak sektor pariwisata di Indonesia dan menjawab tantangan perkembangan zaman saat ini.

    "Kalau ini berhasil, maka akan membuat pariwisata Indonesia berbeda karena di dunia belum ada paket wisata digital ini," kata Menteri Pariwisata Arief Yahya di sela-sela Rapat Koordinasi Nasional Kementerian Pariwisata di Jakarta, Selasa (12/12) seperti dilansir Antara.

    Wisata digital dapat diartikan sebagai wisata yang menawarkan dan memenuhi kebutuhan digital, di mana wisatawan yang pergi ke suatu destinasi lalu berfoto dan diunggah ke media sosial. Arief menambahkan kebutuhan digital tersebut meningkat, khususnya bagi para kaum milenial atau yang kerap dipanggil “Kids Zaman Now”.

    "Yang paling penting mereka bisa mendapatkan foto atau selfie yang jika dilihat di media sosial, lebih indah dari aslinya. Para kaum milenial ini memiliki kebutuhan pengakuan yang semakin diakui, maka semakin puas,” ujar Arief menjelaskan.

    Kebutuhan akan pengakuan atau esteem sendiri sebenarnya merupakan salah satu kebutuhan dalam hierarki kebutuhan yang dipopularkan oleh Abraham Maslow, Bapak Psikologi Amerika Serikat di tahun 1943 silam. Saat itu, Maslow menyatakan esteem berada di hierarki keempat atau sebelum kebutuhan aktualisasi diri yang berada di puncak.

    Hanya saja, di era modern ini, perkembangan digital khususnya setelah kehadiran media sosial membuat kebutuhan esteem dan aktualiasi diri justru kerap didahulukan menjadi prioritas utama. Hal ini yang hendak dimanfaatkan oleh Kemenpar dengan cara mengembangkan destinasi digital.

    "Kenapa destinasi digital ini penting karena memenuhi kebutuhan akan pengakuan atau esteem sekarang menjadi kebutuhan utama. Kenapa sekarang kita suka foto bareng, selfie di satu tempat ketika bertemu dengan tokoh atau ketika makan makanan tertentu karena kita ingin diakui, secara sadar atau tidak. Ingin paling cepat (diakui)," kata Arief.

    Saat ini, Kementerian Pariwisata tengah menggandeng Generasi Pesona Indonesia (Genpi) untuk mempromosikan destinasi digital yang akan dikembangkan di 14 provinsi. Menurut Arief, Kemenpar sudah berhasil mengembangkan tujuh destinasi dengan mengusung nama "pasar".

    Kehadiran media sosial seperti Facebook dan Instagram juga bisa dimanfaatkan sebagai media promosi suatu destinasi yang unik. Destinasi yang banyak difoto dan diunggah ke media sosial serta mendatangkan banyak respon positif, seperti likes atau repost (unggah ulang) akan membuat destinasi tersebut semakin dikenal dan ingin dikunjungi.

    Rasa ingin tampil dan eksis di dunia maya akhirnya mendorong masyarakat untuk mengunjungi berbagai lokasi tertentu yang dianggap mampu menghasilkan foto-foto keren untuk dipajang di akun mereka. Lokasi yang “instagramable” pun jadi buruan.

    Sekadar informasi, sesuai data dari Survei Asosiasi Pengguna Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2016, 97,4% pengguna internet pasti mengakses media sosial ketika menggunakan internet. Jumlah pengguna internet menurut survei tersebut adalah 132,7 juta orang atau 51,8% dari penduduk Indonesia.

    Menurut laporan situs perjalanan dan niaga Travelport seperti dilansir dari Antara, para wisatawan asal Indonesia menduduki peringkat tiga besar dunia untuk pemanfaatan alat digital saat merencanakan, memesan, dan melakukan perjalanan. Wisatawan Indonesia bisa dibilang tidak bisa lepas dari gawai digital saat merencanakan, melakukan, dan selepas berwisata.

    Berdasarkan Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Pariwisata Indonesia 2016, sektor pariwisata mampu berkontribusi terhadap pendapatan domestik bruto sebesar Rp500,19 triliun pada tahun 2016.

    Jumlah ini setara dengan 4,03% total PDB harga berlaku pada tahun tersebut yang bernominal Rp12.406,81 triliun. Sumbangsih ini diprediksi terus meningkat sekitar Rp176 triliun-Rp184 triliun tiap tahunnya. (Rizal)