MERAJUT ASA TEKSTIL NUSANTARA

DAYA SAING TPT: DARI SUNSET MENUJU SUNSHINE INDUSTRY

Selama periode 1999-2014, nampak bahwa pada beberapa produk ekspor TPT unggulan Indonesia tingkat daya saingnya cenderung mengalami penurunan

  • BELANJA-Seorang penjual menawarkan barang dagangannya di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta. Validnews/Don Peter
    BELANJA-Seorang penjual menawarkan barang dagangannya di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta. Validnews/Don Peter

    Oleh: Dr. Nugroho Pratomo*

    Keberadaan industri tekstil dan produk tekstil (TPT) di Indonesia telah dikenal lama. Meski industri TPT di Indonesia yang modern baru dikenal semenjak tahun 1919, namun pada dasarnya produksi TPT di Indonesia telah ada jauh sebelumnya. Dimulai dari kerajinan di tingkat desa, industri tekstil terus berkembang selama dekade 1920-1930an.

    Pada tahun 1926, pemerintah kolonial telah berhasil meningkatkan kapasitas alat tenun sampai tujuh kali lipat. Selanjutnya, pada tahun 1934, Textil Instituut en Batik Proefstation (TIB) pimpinan Dalenoord mulai memperkenalkan alat tenun bukan mesin (ATBM). Sebuah mesin tenun yang lebih sederhana tetapi dengan kapasitas empat kali lebih besar.

    Perkembangan tekstil di Indonesia pun dipacu dengan mulai dipakainya alat tenun mesin (ATM) sejak tahun 1935 di Majalaya, Jawa Barat. Alat ini bisa dipakai juga berkat mulai masuknya pasokan listrik ke kawasan tersebut. Tak tanggung-tanggung, dengan keberadaan mesin ini, pekerjaan membuat tekstil maupun produk turunannya menjadi jauh lebih cepat hingga 2-3 kali daripada biasanya. Hal ini pula yang mengundang banyaknya orang untuk berinvestasi di dalam industri TPT. Pada tahun 1935, di Bandung juga semakin banyak para pedagang Indonesia dan para pemilik tanah yang mulai menginvestasikan uangnya di dalam industri ini. 

    Pergantian kekuasaan semenjak kedatangan Jepang, kemerdekaan hingga orde baru, juga turut mewarnai kebijakan di bidang industri TPT. Sektor industri ini terus berkembang menjadi salah satu industri yang mampu menyerap tenaga kerja cukup banyak. Karenanya, industri tekstil juga sempat menjadi salah satu sektor industri manufaktur yang mendapat perhatian besar dari pemerintah. Selain itu, produk TPT juga sempat menjadi salah satu komoditas ekspor unggulan Indonesia. 

    Sunset industry
    Seiring dengan perjalanan waktu, keberadaan industri tekstil di Indonesia sering kali dipandang sebagai industri yang memasuki masa senja dan hampir tenggelam. Hal ini disebabkan industri TPT sering kali dilihat tidak lagi memiliki kesempatan untuk dapat bersaing dengan industri serupa dari negara-negara lainnya.

    Berbagai persoalan, seperti kenaikan harga tanah dan upah buruh yang tidak sebanding dengan tingkat produktivitas, adalah beberapa persoalan yang menjadi penyebabnya. Permasalahan lain yang juga dihadapi adalah penyelundupan, semakin membanjirnya pakaian impor dengan harga murah, serta kondisi mesin yang tua dan tidak efisien.

    Berdasarkan data BPS, laju pertumbuhan sektor industri tekstil dalam PDB semenjak tahun 2015 mengalami pertumbuhan yang negatif. Laju pertumbuhan sektor industri tekstil tahun 2015 diperkirakan mencapai minus 4,79%. Pada tahun 2016 angka sangat sementara menunjukkan laju pertumbuhan sektor TPT sebesar minus 0,13%. Jika dilihat pada distribusi PDB atas dasar harga konstan 2010, maka sejak tahun 2013 hingga 2016 menunjukkan tren penurunan (BPS Pusat, 2017). Sebagai perbandingan, untuk industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki, besarannya dalam PDB cenderung stagnan.

    Label negatif sebagai sunset industry ini, ternyata juga memberikan dampak yang negatif kepada industri TPT. Pengusaha TPT mengalami kesulitan dalam pengajuan kredit ke perbankan. Padahal jika dilihat data investasi, dalam negeri (PMDN) relatif cukup besar. Tahun 2015 nilai PMDN dalam industri tekstil mencapai Rp 2.724,51miliar, dengan jumlah proyek sebanyak 185. Sedangkan untuk penanaman modal asing (PMA) di sektor industri tekstil tahun 2015 mencapai US$ 433,43 juta, dengan jumlah proyek sebanyak 670 unit (Kementerian Perindustrian, 2016). 

    Struktur industri
    Secara keseluruhan, industri TPT terbagi dalam beberapa tingkatan. Pada bagian hulu (upstrem), industri yang berkembang adalah industri yang lebih bersifat padat modal serta berskala besar. Industri yang dikembangkan di dalamnya ialah industri serat sintetis (synthetic fiber) dan pemintalan (spinning). Di bagian tengah (midstream) merupakan industri yang bersifat padat karya, seperti industri setengah pertenunan dan pertenunan.

    Sementara pada bagian hilir (downstream) industri yang dikembangkan adalah industri pakaian jadi, yang juga merupakan industri padat karya. Terkait dengan jenis industrinya tersebut, keberadaan industri ini juga sangat penting usaha penyerapan tenaga kerja (Boenyamin & Mahyudin, 1989). Secara keseluruhan proses produksi di dalam industri tekstil tersebut dapat digambarkan pada bagan berikut ini:

    Sebagai industri yang termasuk dalam industri padat karya, jumlah tenaga kerja yang diserap oleh industri TPT mencapai lebih dari 1 juta orang. Berdasarkan data Statistik Indonesia 2017, jumlah ternaga kerja dalam industri pakaian jadi mencapai 595 ribu orang. Sedangkan tenaga kerja dalam industri tekstil sebanyak 542 ribu orang (BPS Pusat, 2017).

    Besarnya daya serap tenaga kerja dalam industri ini, seringkali memang menimbulkan berbagai permasalahan perburuhan. Beberapa pokok permasalahan yang seringkali muncul dalam isu perburuhan antara lain ialah  adanya perbedaan antara komponen kebutuhan bagi penghidupan layak yang ditetapkan pemerintah dan buruh (Pratomo & al, 2017).

    Berbagai dampak dari permasalahan tersebut seringkali berakhir dengan terjadinya PHK. Berbagai alasan yang diajukan mulai dari berakhirnya kontrak kerja hingga perusahaan yang mengalai pailit.

    Kinerja ekspor
    Produk TPT meski kini menghadapi berbagai macam persoalan, namun pada saat yang bersamaan masih menjadi salah satu andalan ekspor Indonesia. Terkait dengan kebijakan ekspor TPT, satu faktor yang paling menentukan adalah keberadaan sistem perdagangan tekstil dunia. Sistem perdagangan tekstil itu sebenarnya sudah dimulai semenjak tahun 1961. Sistem tersebut terus mengalami dinamika perubahan sesuai dengan sistem perdagangan global.

    Dimulai dengan adanya Short Term Arrangement Regarding International Trade in Cotton Textiles (STA), yaitu sebuah sistem yang dihasilkan dari konferensi internasional antara negara pengekspor dan pengimpor tekstil. STA tersebut kemudian dilanjutkan dengan pemberlakuan Long Term Arrangement Regarding International Trade in Cotton Textiles (LTA) pada tahun 1962. Setelah berakhirnya LTA pada Desember 1973, pada tahun 1974 mulai diperkenalkan The Multifibre Arrangement (MFA).

    Dalam perjalanannya, MFA sendiri telah mengalami perpanjangan selama lima kali dan berakhir pada  31 Desember 1994, yaitu ketika The Agreement on Textiles and Clothing (ATC) mulai diperkenalkan. ATC yang mulai berlaku pada 1 Januari 1995 merupakan hasil negosiasi yang cukup panjang selama tujuh tahun.

    ATC ini juga merupakan salah satu hasil akhir penting dari Putaran Uruguay. Dengan demikian sesuai dengan kesepakatan WTO lainnya, maka sistem kuota juga akan berakhir pada 1 Januari 2005. Melalui ATC ini pula berbagai hambatan lainnya di dalam perdagangan tekstil, termasuk tarif akan direduksi dan kemudian dihapuskan sama sekali.

    Indonesia mulai bergabung menjadi anggota MFA pada bulan Oktober tahun 1977. Keikutsertaan tersebut selain bertujuan untuk turut menikmati orderly trade (penertiban perdagangan internasional) yang merupakan salah satu tujuan dari keberadaan MFA, diharapkan pula dengan Indonesia juga akan dapat memaksimalkan kesempatan sebagai small supplier dalam perdagangan tekstil internasional.

    Hasil dari masuknya Indonesia ke dalam sistem perdagangan tekstil dunia, memang sempat mendorong kinerja ekspor TPT Indonesia. Namun demikian, secara umum kinerja ekspor Indonesia mengalami tren yang berfluktuasi. Tahun 1978 nilai total ekspor tekstil Indonesia mencapai US$ 18,3 juta. Jumlah ini terus meningkat hingga pada tahun 1979 mencapai US$ 99,3 juta.

    Akibat kerancuan soal pembagian kuota ekspor tekstil, pada tahun 1987, volume ekspor pakaian jadi mengalami penurunan dari tahun sebelumnya. Pada tahun 1986 volume ekspor pakaian jadi mencapai 54,5 juta Kg, namun pada tahun 1987 jumlahnya menjadi 52,2 Kg. Banyaknya jumlah kuota yang belum terpenuhi tersebut jelas akan menguntungkan negara-negara lain seperti Hongkong, Singapura dan Taiwan.

    Dengan demikian, apabila dilihat dari rata-rata pertumbuhannya, maka sejak tahun 1980-1985 ekspor tekstil Indonesia telah tumbuh sebesar 35,6%. Sedangkan untuk periode 1986-1992 pertumbuhannya mencapai 38,8%. Hingga menjelang krisis, yaitu selama periode 1992-1998, rata-rata pertumbuhan ekspor TPT mencapai 3,3%.

    Daya saing
    Mencermati tingkat daya saing, salah satu cara melihatnya dengan melihat nilai RCA. Bila suatu negara memiliki nilai RCA lebih besar dari 1, maka dapat dikatakan negara tersebut memiliki keunggulan komparatif atas produk tersebut. Sebaliknya, jika nilai RCA kurang dari 1, maka hal tersebut menunjukkan bahwa produk-produk TPT dari negara bersangkutan tidak kompetitif. Dengan kata lain, semakin tinggi nilai RCA, maka semakin tinggi  tingkat daya saing atas produk tersebut.

    Selama periode 1993-1998, berdasarkan klasifikasi HS 2 digit, dapat kita bagi menjadi unggulan dan non unggulan. Jenis komoditas ekspor TPT yang menjadi unggulan adalah HS 52, 54, 55, 61, 62, 63 dan 64. Selanjutnya untuk periode 1999-2014, nampak bahwa pada beberapa produk ekspor TPT unggulan Indonesia tingkat daya saingnya cenderung mengalami penurunan. Meski demikian, dengan nilai RCA masih lebih besar dari 1, maka produk-produk tersebut masih kompetitif.

    Produk-produk tersebut ialah HS 52 (katun), HS 54 (filamen buatan tangan), HS 61(pakaian jadi rajutan) dan HS 62 (pakaian jadi bukan rajutan). Sedangkan pada HS 63, meski sempat kembali memiliki daya saing di tahun 2007, namun produk ini hingga tahun 2014 tidak lagi memiliki daya saing (Pratomo & al, 2017).

    Penurunan daya saing sejumlah produk TPT, tentunya merupakan tantangan utama dalam pengembangan industri tekstil. Terlebih dengan semakin banyaknya penyelundupan dan impor pakaian bekas. Karenanya, meskipun pemerintah tidak secara khusus mengatur dan sudah melepas perdagangan TPT sesuai mekanisme pasar, namun dalam kerangka peningkatan daya saing produk Indonesia di pasar internasional, sesungguhnya masih banyak peluang dalam komoditas TPT yang berpotensi menjadi komoditas unggulan.

    Salah satunya adalah batik. Sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari industri kreatif, batik Indonesia juga masih memiliki peluang untuk merambah pasar internasional. Dengan demikian, industri TPT tidak dianggap lagi sebagai sunset industry. Sebaliknya, justru merupakan sunshsine industry sebagaimana diharapkan oleh para pengusaha TPT. 

    * Direktur Riset VISI TELITI SAKSAMA

     

    Referensi :

    1. Boenyamin, S. A., & Mahyudin, M. I. (1989). Prospek Ekspor Tekstil dan Pakaian Jadi. In A. Anwar, Ekonomi Indonesia Masalah dan Prospek 1989/1990 (p. 119). Jakarta, DKI: UI Press.
    2. BPS Pusat. (2017). Pendapatan Nasional Indonesia 2012-2016. Jakarta, DKI, Indonesia: BPS Pusat.
    3. BPS Pusat. (2017). Statistik Indonesia 2017. Jakarta, DKI, Indonesia: BPS Pusat.
    4. Kementerian Perindustrian. (2016). Laporan Kinerja Kementerian Perindustrian 2015. Jakarta, DKI, Indonesia: Kementerian Perindustrian RI.
    5. Pratomo, N., & al, e. (2017). Kajian Industri Tekstil dan Produk Tekstil. Visi Teliti Saksama, Riset. Jakarta: Visi Teliti Saksama.