DAMPAK PERUNDUNGAN TIDAK HANYA MENGINTAI KORBAN

Ada kemungkinan korban merespons perundungan yang dilakukan kepadanya dengan amarah yang sama, bahkan dapat membahayakan lingkungan sekitar.

  • T.J. Lane saat ia mendengarkan hakim saat hukuman Selasa, 19 Maret 2013, di Chardon, Ohio. (Yahoo)
    T.J. Lane saat ia mendengarkan hakim saat hukuman Selasa, 19 Maret 2013, di Chardon, Ohio. (Yahoo)

    Oleh: Novelia, M.Si*

    Dengan berakhirnya tahun 2017, fenomena perundungan anak masih menjadi bayang-bayang bagi Indonesia. Masih lekat di ingatan, perundungan terhadap siswa etnis dan agama minoritas yang terjadi di sebuah sekolah dasar di Jakarta Timur atau pengeroyokan seorang siswa SMP di Cirebon yang tersebar dalam bentuk video yang sempat viral.

    Meskipun terhitung mengalami penurunan pada periode 2015-2016 berdasarkan data KPAI, perundungan masih tetap menjadi isu genting tidak hanya di Indonesia, namun juga di berbagai belahan dunia lainnya. Setidaknya, dari catatan UNICEF (2015) yang bersumber dari Ikhtisar Eksekutif Strategi Nasional Penghapusan kekerasan Terhadap Anak 2016-2020 oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, sebanyak 50% anak melaporkan mengalami perundungan di sekolah.

    SEJIWA (Semai Jiwa Amini), sebuah yayasan yang secara khusus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap dampak buruk perilaku perundungan, mendefinisikan perundungan (bullying) sebagai sebuah situasi penyalahgunaan kekuatan/kekuasaan yang dilakukan seseorang atau suatu kelompok, baik sesekali ataupun terus menerus.

    Perundungan sendiri dapat dibagi lagi menurut jenisnya, yaitu perundungan verbal, perundungan fisik, perundungan psikologis, hingga perundungan siber – atau yang lebih sering disebut cyberbullying (SEJIWA, 2008). Perundungan verbal meliputi kegiatan dalam bentuk mengejek, menghina (baik pribadi maupun identitas kelompok atau keluarga korban), memberikan ancaman kekerasan, dan mengolok-olok. Sementara, perundungan fisik meliputi aktivitas memukul, menampar, mendorong, atau kekerasan fisik lainnya terhadap korban. Selanjutnya, kekerasan psikologis, dilakukan dengan cara memfitnah, mempermalukan, mengucilkan, dan menakuti korban. Terakhir, cyberbullying adalah kegiatan perundungan yang dilakukan melalui perantara media elektronik, seperti internet ataupun telepon.

     

    Rentan terjadi di sekolah, anak-anak yang umumnya menjadi target perundungan adalah mereka yang secara fisik tampak lemah, kurang percaya diri, mengalami kesulitan bergaul, dan memiliki tampilan fisik yang berbeda. Poin terakhir, yakni tampilan fisik yang berbeda dapat dilihat kembali dari dua kondisi.

    Kondisi pertama adalah korban berposisi sebagai kelompok minoritas, misalnya anggota dan etnis atau kelompok tertentu dalam masyarakat yang terstereotip negatif. Kondisi ini menunjukkan berperannya stereotip dalam masyarakat akan kelompok tertentu terhadap fenomena perundungan. Stereotip sendiri didefinisikan oleh Hamilton & Trolier (1986) sebagai struktur kognitif dalam bentuk skema pada pikiran tentang sesuatu atau seseorang di dalam kelompok tertentu. Skema inilah yang membantu kita mengorganisir pengetahuan dan kepercayaan, sehingga lebih lanjut memengaruhi bagaimana kita berekspektasi terhadap hal yang dikategorikan.

    Stereotip jugalah yang akhirnya mengantar kita pada kondisi kedua, yaitu kondisi di mana korban bukan merupakan kelompok minoritas, namun tidak menuruti stereotip yang telah sedemikian terkonstruksi dalam masyarakat. Dalam kasus stereotip laki-laki misalnya, sisi ketidaksadaran memaksa kita berekspektasi bahwa kelompok ini haruslah memiliki sifat yang identik dengan sifat maskulin, kekar, kuat, tangguh, atau kekerasan. Stereotip ini mengakibatkan anak-anak yang berada di luar kotak ‘laki-laki’ ini terdiskriminasi dan kerap menjadi bahan olok-olok, misalnya diejek dengan label ‘banci’, yang kemudian mengarah kepada berbagai jenis perundungan terhadap individu terkait.

    Dampak Perundungan
    Pasca terjadinya perundungan, dampak dapat dirasakan oleh pelbagai pihak, baik oleh korban sendiri maupun pihak-pihak di luarnya. Bagaimanapun, dampak yang dirasakan pihak-pihak di luar korban juga merupakan dampak dari efek negatif perundungan yang dirasakan korban sendiri.

    Mengapa?

    Dari sisi korban sendiri, perundungan dapat berdampak secara akademis (menurunnya konsentrasi, prestasi, maupun semangat, bahkan menimbulkan phobia terhadap sekolah), secara sosial (mengucilkan diri, tidak percaya diri dalam berteman), secara psikologis (depresi, ingin melarikan diri dan bahkan bunuh diri), dan secara fisik (mudah cemas, sakit-sakitan, menghindari kontak mata), sehingga bukan tidak mungkin berdampak pula pada masa depannya akibat trauma masa lalu.

    SEJIWA (2008) juga menjabarkan bagaimana seorang anak biasa bertindak ketika perundungan terjadi terhadap dirinya. Korban akan memilih salah satu cara untuk meresponsnya, yaitu dengan komunikasi pasif, komunikasi asertif, atau komunikasi agresif. Seorang anak korban perundungan yang merespons dengan komunikasi pasif akan cenderung diam dan tidak melakukan perlawanan karena rasa takutnya terhadap pelaku sehingga ia terus menerus menjadi korban. Sementara, komunikasi asertif adalah respons paling baik yang dapat dilakukan korban, yaitu dengan mengomunikasikan rasa tidak sukanya terhadap perundungan tersebut dengan baik. Korban akan tetap menghargai lawan bicaranya, dalam hal ini pelaku perundungan, namun dengan tetap percaya diri.

    Yang paling dikhawatirkan adalah apabila korban merespons perundungan dengan komunikasi agresif. Ini berarti si anak akan menjawab perilaku perundungan yang ditujukan padanya dengan kemarahan yang sama, atau bahkan lebih. Bila diejek akan membalas mengejek, bila dipukul akan membalas memukul. Yang lebih parahnya, apabila emosi telah tidak terbendung, korban juga dapat mengambil risiko yang membahayakan lingkungan sekitarnya.

    Paling tidak, hal inilah yang terjadi pada tragedi Chardon High School shooting tanggal 27 Februari 2012 lalu di Ohio, Amerika Serikat. T. J. Lane, seorang siswa berusia 17 tahun, melakukan penembakan di kantin sekolahnya yang mengakibatkan tiga korban meninggal dan beberapa korban luka-luka. Seorang saksi mata penembakan mengatakan bahwa pelaku bersenjata merupakan siswa yang ia kenal sebagai korban perundungan. Kondisi seperti inilah yang dijelaskan sebagai dampak terhadap pihak lain di luar korban, sebagai efek dari dampak yang dirasakan korban.

    Berbagai akibat yang dirasakan pelbagai pihak setelah terjadinya perundungan mengingatkan kita akan pentingnya menjadikan fenomena ini sebagai isu yang perlu mendapat perhatian lebih lanjut. Kesadaran masyarakat perlu dibangun sedari dini untuk mengatasi diskriminasi yang kerap terjadi dan menyebabkan pengucilan terhadap kelompok tertentu sehingga perundungan dapat dicegah bersama.

    *Peneliti Junior Visi Teliti Saksama

     

    Referensi:

    CBS News. Suspect ID’d in Deadly Ohio School Shooting. Retrieved from: https://www.cbsnews.com/news/suspect-idd-in-deadly-ohio-school-shooting/

    Consideration of Media Effects: The Social Psychology of Stereotypes: Implications for Media Audiences

    Durham, Meenakshi Gigi & Kellner, Douglas M. (Eds). 2001. Media and Cultural Studies: Encoding/Decoding. Massachutes: Blackwell Publishers Inc.

    Sejiwa. Bullying: A-Z. Retrieved from: http://sejiwa.org