Bidik Wedding Planner Demi Gaet Turis India

Indonesia berniat menyasar para perencana pernikahan asal India demi menambah kunjungan turis asal Negeri Anak Benua. Hingga Oktober 2017, jumlah kunjungan wisatawan asing asal India mencapai 397 ribu turis

  •  Sejumlah wisatawan di pantai Kuta, Bali. Validnews/Don Peter
    Sejumlah wisatawan di pantai Kuta, Bali. Validnews/Don Peter

    CHENNAI – Indonesia berniat menyasar perencana pernikahan asal India demi menambah kunjungan turis asal Negeri Anak Benua itu.

    Hal tersebut diungkapkan Country Manager Visit Indonesia Tourism Office (VITO) India, Sanjay Sondhi seperti dilansir Canindia.com.

    “Kami membidik para perencana pernikahan India untuk mempromosikan Indonesia sebagai destinasi pernikahan India. Ada banyak restoran India. Karenanya, masakan untuk pernikahan bukanlah masalah. Selain itu, purohit (pendeta Brahman-red) bisa menyelenggarakan pernikahan di sana,” ujar Sondhi, Jumat (29/12).

    Sondhi menyebutkan, paket tawaran untuk para wedding planners itu dilengkapi dengan berbagai tawaran menarik, termasuk program wisata budaya dan spa untuk calon pengantin.

    Beberapa destinasi wisata aktif ditawarkan melalui program ini, seperti Lombok, Bandung dan Yogyakarta. Kota-kota ini dipilih lantaran memiliki infrastruktur yang memadai untuk penyelenggaraan pesta.

    Menurut Sondhi, tahun 2017 ini Indonesia menargetkan kunjungan 456 ribu orang pelancong asal India. Hingga Oktober jumlah kunjungan telah mencapai 397 ribu orang turis, menandakan keyakinan target bisa tercapai.

    “Turis India biasanya berkunjung hingga enam malam di Indonesia dan rata-rata menghabiskan US$1.200 per orang,” ujar Sondhi.

    Tak hanya perencana pernikahan, berbagai lokasi elok untuk syuting film juga ditawarkan ke industri film India.

    Sementara itu, Asisten Deputi Pengembangan Pasar ASEAN Kementerian Pariwisata Rizki Handayani Maulana menyebutkan pihaknya juga menyasar negara-negara Asia Tenggara untuk mencapai target kunjungan 17 juta pada 2018. Singapura, Malaysia, Filipina, Brunei Darussalam dan Vietnam menjadi negara yang dibidik, meski tak meninggalkan pasar lainnya seperti Jepang, India dan China.

    Menurutnya, ada banyak destinasi wisata Indonesia yang bisa menjadi tujuan para pelancong asal Asean karena kedekatan jarak. Sebaliknya, untuk membantu pulihnya pariwisata Bali, negara-negara tetangga ini bisa menjadi target.

    Upaya memasarkan daerah pariwisata di negara-negara target itu perlu terus dilakukan. Salah satunya adalah dengan memberikan informasi yang tepat mengenai daerah-daerah wisata yang dimiliki Indonesia.

    Ia menyebutkan, saat ini banyak orang Malaysia yang enggan ke Bali karena khawatir mengalami kesulitan mencari makanan halal. Hal ini menunjukkan kurangnya pengetahuan masyarakat negeri jiran mengenai destinasi wisata yang dimiliki Indonesia sehingga promosi masih perlu terus dilakukan.

    “Karena itu penyebaran brosur mengenai pariwisata Bali perlu dilakukan untuk memberikan informasi kepada masyarakat Malaysia,” ujarnya.

    Namun, pendekatan bagi masyarakat Thailand cenderung berbeda. Di Negara Gajah Putih yang juga menjadi destinasi wisata bagi turis internasional, Indonesia perlu melakukan pendekatan pada maskapai penerbangan dan biro perjalanan.

    Rizki menyebutkan rata-rata lama tinggal para turis Asia Tenggara adalah tiga hingga empat hari. Namun, dana yang dibelanjakan cukup menjanjikan bagi ekonomi pariwisata. (Fin Harini)