Berjudi di Tengah Pasar, Dicokok Polisi

Para penjudi terancam hukum cambuk puluhan kali

  • Ilustrasi perjudian kartu remi. ANTARA FOTO/Rosa Panggabean
    Ilustrasi perjudian kartu remi. ANTARA FOTO/Rosa Panggabean

    LHOKSEUMAWE — Bulan Ramadan adalah bulan di mana mencari amalan. Apalagi di bumi Serambi Mekkah, suasana bulan suci pastinya lebih dirasakan. Namun, tak demikian dengan sejumlah orang di Pasar Ikan Pusong Lhokseumawe yang malah berjudi di bulan suci.

    Para penjudi jenis dadu, kocar-kacir melarikan diri saat digerebek oleh petugas Polres Lhokseumawe, Aceh sehingga memaksa polisi melepaskan tembakan peringatan ke udara. Penggerebekan arena perjudian dilakukan pada Senin (11/6) sore tersebut dipimpin Kasat Reskrim Polres Lhokseumawe AKP. Budi Nasuha Waruwu. “Polisi berhasil menangkap tiga pelaku bersama sejumlah barang bukti lainnya,” ungkap Budi di Lhokseumawe, Selasa (12/6).

    Sejumlah tersangka, antara lain HA (48) warga Muara Dua, TN (44) warga Banda Sakti dan SI (35) warga Kumbang Punteut, Kecamatan Blang Mangat, semuanya warga Lhokseumawe, berhasil ditangkap. Budi menjelaskan peran masing-masing.  HA berperan sebagai bandar. Sedangkan TN dan SI adalah pemain. Semua para pelaku pelanggaran Syariat Islam di Aceh itu disangka melanggar dengan pasal 18, 19, 20 Qanun Provinsi Aceh No. 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat.

    Budi mengatakan penangkapan para tersangka judi berawal dari informasi masyarakat, bahwa lokasi dimaksud kerap digunakan sebagai lapak judi dadu.

    "Saat kami lakukan penggerebekan, didapati sejumlah orang sedang bermain dan menonton judi dadu. Beberapa orang sempat melarikan diri sehingga petugas terpaksa melepaskan tembakan peringatan ke udara," katanya, seperti dikutip dari Antara.

    Petugas mengamankan uang Rp1.538.000 rupiah, satu set kartu domino, tiga buah dadu warna putih, enam piring untuk wadah dadu, tujuh buah mangkuk untuk pengocok dadu dan satu buah dompet.

    Ancaman untuk perjudian sendiri cukup berat berdasarkan Qanun. Mereka biasanya dijerat Pasal 18 dan 19 Junto Pasal 6 ayat 1 Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014, tentang Maisir, dan Qanun Aceh No 7 Tahun 2013, tentang hukum Jinayat. Ancaman hukumannya biasanya 30 kali cambuk atau denda 300 gram emas atau kurungan penjara selama 30 bulan. 

     

    Divonis
    Terkait perjudian, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Denpasar, Bali, pekan lalu, memvonis 14 terdakwa yang terlibat dalam bisnis permainan judi ding-dong di Kuta, Kabupaten Badung, dengan hukuman lima bulan penjara. Vonis hakim tersebut lebih ringan satu bulan dari tuntutan jaksa penuntut umum. Hakim Assri Susanti dan I.G.N Widana dalam sidang sebelumnya yang menuntut hukuman selama enam bulan penjara.

    Dalam sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim I.A Adnyadewi itu, 14 terdakwa disidangkan secara terpisah di mana terlebih dahulu hakim menghukum terdakwa Hartono Wijono (44) selaku Manajer Operasional JB Zone.

    "Terdakwa secara sah dan meyakinkan bersalah melanggar Pasal 303 Ayat 1 ke-1 jo Pasal 2 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1974," kata majelis hakim dalam sidang itu.

    Pada berkas kedua, sembilan terdakwa yang merupakan karyawan JB Zone yakni, Isnaini, Barlah, Erwin, I Wayan Putri Arum Sari, Komang Kasmianti, Devi Rosita, Dian Indah, Mia Puji Asih dan Yudi Yosta juga dihukum selama lima bulan kurungan dengan pasal yang sama. Dalam berkas ketiga dengan jaksa yang sama juga menyidangkan empat tersangka yakni Gunawan, Nuke Pitriyanti, Indrawawi dan Pinkan Aldyba juga dihukum selama lima bulan kurungan oleh majelis hakim.

    Mendengar putusan hakim tersebut, ke-14 terdakwa menyatakan menerima putusan hakim, demikian juga dengan jaksa juga menyatakan menerima putusan hakim.

    Sebelumnya terungkap, ke-14 terdakwa ditangkap pada 13 Januari 2018, Pukul 22.30 Wita di sebuah ruko JB Zone, Jalan Setia Budi Nomor 234, Kuta, Badung, Bali, berkat informasi masyarakat bahwa ada permainan judi dengan menggunakan mesin elektronik di lokasi setempat.

    Penggeledahan dilakukan. Hartono Wijono (44) selaku pengelola operasional mulai pemberian voucher, pelaksanaan permainan judi ketangkasan elektronik dan melaporkan hasil keuntungan untuk Edi dan Soni pemilik usaha judi, dicokok Polisi.

    Dalam pengerebekan itu, polisi mengamankan tiga mesin judi ketangkasan dan sistem permainan itu para pengunjung harus membeli satu voucher dengan harga Rp100 ribu dengan di dalamnya berisi 1.000 poin.

    Apabila pemain menang, akan mendapatkan poin royal 100.000 poin dengan jumlah uang Rp10 juta, pin Goki (40.000 poin, dengan jumlah uang Rp4 juta), STR (24.000 poin, Rp2,4 juta) dan SIKI (10.000 poin, senilai Rp1 juta). (Rikando Somba)