MENJAGA KESINAMBUNGAN "TAMBANG EMAS HIJAU"

Berbalas Surat, KLM Akui Salah Paham

Maskapai penerbangan Belanda KLM akui penolakan menggunakan minyak sawit dalam setiap produk katering yang disuguhkan kepada penumpang berdasarkan kesalahpahaman

  •  ilustrasi biji sawit. (Pixabay)
    ilustrasi biji sawit. (Pixabay)

    JAKARTA – Maskapai penerbangan Belanda KLM akui penolakan menggunakan minyak sawit dalam setiap produk katering yang disuguhkan kepada penumpang berdasarkan kesalahpahaman. Kebijakan yang diambil maskapai ini adalah menggunakan minyak sawit dari sumber yang memiliki prosedur produksi lestari.

    “Kalimat di dalam artikel yang menyebutkan ‘KLM meminta seluruh rekanan untuk menghindari penggunaan kelapa sawit dalam setiap produknya’ berdasarkan pada kesalahpahaman. Namun, KLM memang memiliki keinginan untuk menggunakan minyak sawit yang diproduksi secara berkelanjutan,” tulis Director CSR & Environmental Strategy KLM IR Pieter dalam surat balasannya kepada CPOPC, akhir November silam.

    Sebelumnya, Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) mengirimkan surat memprotes kebijakan larangan penggunaan minyak sawit oleh para rekanan KLM. Kebijakan yang berdampak pada pasar sawit Indonesia itu disebutkan dalam sebuah artikel yang dimuat oleh Holland Herald pada November 2017.  

    “Dengan segala hormat, kebijakan yang diambil oleh KLM kurang tepat dan mengesampingkan perkembangan yang tengah terjadi pada pasar minyak nabati global secara umum dan implikasinya pada lingkungan,” tulis Direktur Eksekutif CPOPC Mahendra Siregar dalam salinan surat yang diterima oleh Validnews.

    Surat yang tertanggal 23 November 2017 itu pun menjelaskan perkembangan terkait industri minyak nabati maupun posisi yang diambil Indonesia terkait isu produksi kelapa sawit yang berkelanjutan.

    Baca Juga:
    Tolak Gunakan Produk Kelapa Sawit, CPOPC Protes KLM

    Dalam surat balasan dari KLM tersebut, Pieter menyebutkan pihaknya memiliki kebijakan untuk menyediakan produk yang berkelanjutan sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Penyediaan produk berkelanjutan ini terkait kebijakan perusahaan untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).

    “Kami ingin memastikan katering kami sebisa mungkin berkelanjutan. Karena itu penting bagi KLM memastikan berbagai bahan makanan kami seperti ikan, coklat, minyak sawit dan kedelai berasal dari sumber yang berkelanjutan,” lanjut Pieter.

    KLM sendiri menyuguhkan 40 juta paket makanan tiap tahunnya pada para penumpangnya.

    Menjawab surat KLM tersebut, Mahendra menulis pihaknya menyambut kebijakan KLM untuk mendukung pencapaian SDGs dan memilih berbagai produk yang diproduksi secara lestari, termasuk minyak rapeseed.

    Terkait dukungan pada pencapaian SDGs, CPOPC mendorong KLM untuk mempertimbangkan dukungan pada upaya yang diambil pemerintah Indonesia dalam peremajaan sawit. Belum lama ini, pemerintah telah meluncurkan program peremajaan tanaman sawit tua, dan menggantinya dengan jenis yang mampu berproduksi lebih banyak. Program ini bertujuan untuk membantu para petani kecil meningkatkan produktivitasnya.  

    “Upaya ini berarti juga menjaga bank tanah Indonesia, pada saat yang sama tetap memenuhi pertumbuhan permintaan minyak nabati dunia. Hal ini pun sesuai dengan SDGs,” kata Mahendra.

    Penolakan penggunaan sawit oleh KLM ini menambah panjang daftar kampanye hitam bagi sawit dan turunannya di Eropa. Parlemen Uni Eropa bahkan telah menerbitkan resolusi Report Palm Oil and Deforestation on Rainforest. Resolusi tersebut mengatakan kelapa sawit adalah penyebab utama dalam mencetak deforestasi dunia.

    Berbagai kampanye negatif ini pun berdampak bagi ekspor crude palm oil (CPO) Indonesia ke Benua Biru. Berdasarkan data BPS, pada 2016 ekspor CPO hanya sebesar total 1,39 juta ton dengan nilai US$858,92 juta. Angka ini menyusut jika dibandingkan 2015, di mana berat ekspor CPO ke Eropa mencapai 2,44 juta ton dengan nilai sebesar US$1,42 miliar. (Fin Harini)