BULLYING, POLEMIK HARGA DIRI YANG TERCEKIK

Perlakuan negatif bullying tak ayal menimbulkan dampak yang tidak main-main karena berkaitan dengan self esteem atau harga diri.

  • Sejumlah pelajar melakukan teatrikal saat menggelar aksi menolak bulliying. ANTARA FOTO/Anis Efizudin
    Sejumlah pelajar melakukan teatrikal saat menggelar aksi menolak bulliying. ANTARA FOTO/Anis Efizudin

    Oleh: Gisantia Bestari, SKM*

    Bullying menjadi kasus yang seakan tidak berkesudahan di Indonesia. Terhitung dari tahun 2011 hingga bulan September 2017 lalu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menerima 26.000 kasus anak, di mana laporan tertinggi merupakan anak yang berhadapan dengan hukum sebesar 34%. Salah satunya, kasus kekerasan di Thamrin City pada pertengahan tahun 2017. Sekitar sembilan siswa-siswi SMP melakukan bullying pada seorang siswi di salah satu lantai mall tersebut, yang mengakibatkan dikeluarkannya pelaku dari sekolah dan pencabutan Kartu Jakarta Pintar (KJP).

    Bullying sendiri merupakan perilaku negatif dan tindakan intimidasi yang berulang-ulang oleh pihak yang lebih kuat terhadap yang lebih lemah, dengan maksud menyebabkan ketidaksenangan serta melukai korban secara fisik maupun emosional. Pihak yang lemah merupakan seseorang yang tidak mampu melawannya (Olweus, 2006, dan Coloroso, 2007).

    Sedangkan, school bullying atau kekerasan pada anak di sekolah merupakan situasi di mana anak mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari teman atau kakak kelasnya. Perlakuan meliputi tindakan kekuasaan berulang dan intensif yang menyebabkan ketidaknyamanan anak lain. School bullying bisa menimpa adik kelas atau teman sekelas yang secara fisik atau sosial berbeda dengan teman-teman lainnya (Fiva A Kadi, dkk, 2007).

    Bullying dan Penghargaan Diri Remaja
    Perlakuan negatif bullying tak ayal menimbulkan dampak yang tidak main-main karena berkaitan dengan self esteem atau harga diri. Korban bullying cenderung menunjukkan self esteem yang rendah, gejala kecemasan dan depresi yang meningkat, serta keterampilan sosial yang buruk (Arseneault, dkk, 2009). Korban dapat merasakan banyak emosi negatif seperti marah, dendam, kesal, tertekan, malu, sedih, terancam, namun tidak berdaya menghadapinya. Ujungnya, korban merasa rendah diri dan tidak berharga (Riauskina, dkk, 2005).

    Karakteristik self esteem yang tinggi tentu berbeda dengan yang rendah. Individu dengan self esteem tinggi memiliki karakter antara lain puas dan bangga dengan dirinya, sering bahagia, bisa bangkit dari kegagalan, memandang hidup secara positif, mudah berinteraksi, berani mengambil risiko, optimis, dan dapat mendorong diri sendiri. Sebaliknya, mereka yang memiliki self esteem rendah tidak puas dengan dirinya, ingin di posisi orang lain, sering stress, sedih, marah, sulit menerima pujian dan kegagalan, membesar-besarkan masalah, sulit berinteraksi, bersikap negatif, dan pesimis (Guindon, 2010).

    Self esteem bukanlah produk yang bisa diperoleh secara instan, melainkan proses yang terus berjalan sejak individu masih kecil hingga tumbuh dewasa (Donnchadha, 2000). Sebelum muncul self esteem, individu mengawalinya dengan kesadaran terhadap keberadaan dirinya sendiri atau sense of self. Terdapat lima tahapan perkembangan sense of self pada individu menurut Mcdevitt dan Omrod (2008), yakni  infancy (lahir-2 tahun), masa kanak-kanak awal (2-6 tahun), masa kanak-kanak pertengahan dan akhir (6-10 tahun), remaja awal (10-14 tahun), dan remaja akhir (14-18 tahun).

    Pada tahapan remaja awal yakni 10-14 tahun, terjadi penurunan pada self esteem. Mcdevitt dan Omrod (2010) mengungkapkan bahwa salah satu faktor yang paling memengaruhi penurunan self esteem tersebut adalah popularitas, yang mana adalah aspek yang penting dalam tahapan remaja awal. Bersamaan dengan perubahan lingkungan sekolah seperti persahabatan, hubungan guru dan siswa, serta ketatnya standard akademik yang memengaruhi self esteem remaja secara negatif, remaja semakin mampu memahami apa yang orang lain lihat/pandang pada dirinya karena kognitifnya berkembang. Akhirnya, remaja berpikir bahwa semua orang memerhatikan dirinya sehingga remaja sensitif dengan bagaimana penilaian orang lain terhadapnya.

    Teman sebaya pun menjadi salah satu pengaruh self esteem remaja. Boss dkk (2006) mengatakan bahwa perasaan terhadap penerimaan dari teman-teman memberikan pengaruh besar terhadap penghargaan diri remaja. Jika remaja mendapatkan dukungan dan kenyamanan ketika berinteraksi dengan teman sebaya, maka persepsi diri akan lebih positif sehingga self esteem pun meningkat. Self esteem yang positif berperan penting dalam kesuksesan dan keberhasilan yang dicapai remaja.

    Rational Emotive Behavior Therapy Sebagai Terapi Bullying
    Melihat betapa seriusnya dampak yang bisa menimpa korban bullying, butuh cara untuk meningkatkan kembali self esteem dari anak sekolah korban bullying. Salah satu yang dapat dilakukan adalah Rational Emotive Behavior Therapy (REBT). REBT merupakan terapi yang berupaya mengubah pemikiran irasional menjadi rasional. Harapannya, subjek dapat memiliki perasaan bahwa dirinya berharga, mampu, dan diterima. Sebab, pemikiran dan tingkah laku yang rasional dapat membuat manusia bahagia (Rieckert dan Moller, 2000). REBT adalah bagian dari cognitive behavior therapy yang menekankan pada perasaan, tingkah laku, dan pikiran yang saling terkait (Komalasari, 2011).

    REBT menggunakan berbagai teknik yang bersifat kognitif, afektif, behavioristik, dan humor (Corey, 2003). Teknik kognitif dilakukan salah satunya dengan pemberian tugas rumah untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggungjawab dan kepercayaan diri. Teknik afektif digunakan untuk membantu mengidentifikasi emosi dan keyakinan subjek. Selanjutnya, teknik behavioristik paling banyak digunakan dalam REBT karena berupaya mengubah akar-akar keyakinan yang tidak rasional dan tidak logis. Terakhir adalah humor, yang telah diterapkan di SD, terapi karier, terapi kelompok, terapi keluarga, dan terapi analitik. Humor membantu menciptakan suasana agar tidak menegangkan.

    REBT diselenggarakan tidak harus pada individu, namun juga pada kelompok atau yang disebut dengan Rational Emotive Behavior Group Therapy (REBGT) yang dinilai lebih efektif. Hal ini dikarenakan para anggota kelompok akan merasa bahwa mereka tidak sendirian dalam melawan kondisi mereka, yang berujung dapat saling melemparkan semangat pada temannya (Ellis & Bernard, 2006). Pemberian terapi ini efektif dalam meningkatkan self esteem siswa SMP korban bullying, dengan catatan hasil akan lebih optimal jika subjek memiliki kapasitas intelektual di atas rata-rata serta aktif selama berlangsungnya sesi terapi (Rosya Linda, dkk, 2015).

    Bagaimanapun, kita berharap bahwa tidak perlu ada anak sekolah yang menjalani REBT sebagai akibat dari penurunan self esteem yang mereka miliki. Di mana, berkurangnya penghargaan terhadap diri sendiri besar kemungkinannya merupakan dampak dari bullying yang menimpa mereka. Setiap anak memiliki potensi yang dapat bermanfaat bagi negara ke depannya, sehingga jangan sampai pengalaman bullying menciptakan polemik yang membuat harga diri mereka tercekik.

    *Periset Muda Visi Teliti Saksama

    Referensi:

    Arseneault, L., Bowes, L., & Shakoor, S. (2009). Bullying Victimization In Youths And Mental Health Problems: ‘Much a do about nothing’?. England: Journal of Psychological Medicine Cambridge University Press.

    Bos, A., Murris, P., Mulkens, S., & Schaalma, H. (2006). Changing self esteem in

    children and adolescents: A Roadmap for future Interventions. Netherlands: Netherlands Journal of Psychpatology.

    Coloroso, B. (2006). Penindas, Tertindas, dan Penonton. Resep Memutus Rantai Kekerasan Anak dari Prasekolah Hingga SMU. Jakarta: Serambi.

    Corey, G. (2003). Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi. Bandung: PT Refika Aditama.

    Donnchadha, R. (2000). The Confident Child. Dublin: Gill & Macillan, Ltd.

    Ellis, A., & Bernard M.E. (2006). Rational Emotive Behavioral Approaches to Childhood Disorders. Theory, Practice and Research. New York: Springer Science+Business Media, Inc.

    Guindon, M. H. (2010). Self-esteem across the lifespan : Issues and Interventions. USA: Taylor and Francis Group, LLC.

    Hasibuan, Rosya Linda & Rr. Lita Hadiati Wulandari. (2015). Efektivitas Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) untuk Meningkatkan Self Esteem pada Siswa SMP Korban Bullying. Medan: Jurnal Psikologi, Volume 11 Nomor 2, Desember 2015.

    Kadi, Fiva A. & Eddy Fadlyana. (2007). Kasus Kekerasan pada Anak Sekolah (School Bullying). Jakarta: Sari Pediatri.

    Komalasari, Gantina. (2011). Teori dan Teknik Konseling. Jakarta : Indeks

    KPAI. (2017). KPAI Terima Aduan 26 Ribu Kasus Bully Selama 2011-2017 http://www.kpai.go.id/berita/kpai-terima-aduan-26-ribu-kasus-bully-selama-2011-2017/. Diakses 5 Maret 2018

    McDevitt, T. M., & Omrod, J. E. (2010). Child Development and Education (4th ed.). New Jersey: Pearson Education, Inc.

    Olweus, Dan. (2006). Bullying in Schools: Facts and Intervention. Norwegia: Research Center for Health Promotion University of Bergen. 

    Riauskina, I, Djuwita R & Soesetio S. (2005). “Gencet-gencetan” di mata siswa/siswi kelas 1 SMA : Naskah kognitif tentang arti, skenario dan dampak “Gencet-gencetan”. Jakarta: Jurnal Psikologi Sosial Vol 12. No 01 Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

    Rieckert & Moller (2000). Rational-Emotive Behavior Therapy In The Treatment Of Adult Victims of Childhood Sexual Abuse. Journal of Rational Emotive Behavior & Cognitive-Behavior Therapy, Vol 18, No. 2, Summer.