BPS Mulai Hitung Andil E-Commerce Terhadap Pertumbuhan Ekonomi

Antara 2015 hingga 2021, rata-rata pertumbuhan nilai transaksi melalui e-commerce di Indonesia diprekirakan mencapai 21% per tahunnya. Di 2016 nilai nominalnya tercatat sebesar US$5,65 miliar

  •  Kantor Tokopedia Jakarta. tokopedia.com
    Kantor Tokopedia Jakarta. tokopedia.com

    JAKARTA-  Badan Pusat Statistik mengaku tengah mengkaji besaran andil atau porsi dari kegiatan perdagangan elektronik dalam jaringan (e-commerce), terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Meski secara umum kontribusinya belum terlalu besar, e-commerce menjadi penting diperhitungkan karena terus bertumbuh pesat.

    "Kami sekarang belum bisa memilah berapa share dari (perdagangan) online itu. Karena itu BPS sekarang sedang kerja sama dengan idEA (Asosiasi E-Commerce Indonesia)," kata Kepala BPS Suhariyanto di Gedung BPS, Jakarta, Selasa (14/11) seperti dikutip Antara.

    Suhariyanto mengungkapkan, sejatinya sektor e-commerce sebenarnya sudah termasuk dalam data pertumbuhan ekonomi dari sisi produksi. Pasalnya secara teori, semua yang diproduksi untuk kemudian diperdagangkan, baik secara offline atau online, sudah tercakup di sana.

    "Tetapi kami belum mampu memilah dari perdagangan, mana yang online dan mana yang offline. Harus ada fitur yang pasti dan kita sudah duduk dengan idEA," ucapnya.

    Suhariyanto juga mengakui, sektor e-commerce mengalami perkembangan yang pesat. Namun, menurut dia, porsinya terhadap pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan masih tergolong kecil. "Ada yang bilang 1%, ada yang bilang 2%. Trennya cepat, tetapi share-nya kecil," imbuhnya.

    Dikatakannya, sejatinya BPS sudah pernah melakukan survei kecil untuk mengetahui pola pergerakan barang-barang yang dijual dalam jaringan. Hasilnya, kata dia, porsi paling besar adalah pola konsumsi yang berkaitan dengan kegiatan waktu luang (hotel, restoran, dan tiket pesawat), jam tangan, dan alat komunikasi.

    "Itu yang kami perlu riset dari waktu ke waktu. Apakah yang diperdagangkan di masyarakat itu tergantung gaya hidup, itu nanti bersama (dibahas) dengan asosiasi," kata Suhariyanto.

    Ia mengaku belum bisa memastikan kapan pembahasan dan penjajakan terkait e-commerce dengan idEA tersebut akan selesai. "Mudah-mudahan tahun depan sudah selesai," kata Suhariyanto.

    Menurut statista, antara 2015 hingga 2021, secara rata-rata pertumbuhan nilai transaksi melalui e-commerce di Indonesia mencapai 21% per tahunnya. Nilai penjualan ritel e-commerce Indonesia di tahun 2016 mencapai US$5,65 miliar, meningkat dari US$4,61miliar di tahun 2015.

    Berdasarkan survei APJII (2016), hampir semua pengguna internet pasti (97,4%) mengakses media sosial ketika menggunakan internet. Akses media social merupakan yang tertinggi, diikuti dengan hiburan (96,8%), berita (96,4%), pendidikan (93,8%), komersial (93,1%), dan layanan publik (91,6%). Selain itu, 78% dari populasi pengguna internet pernah melakukan belanja online.

    Kajian yang dilakukan oleh Google dan Temasek juga menunjukkan tren serupa bahwa pasar online di Asia Tenggara diproyeksikan tumbuh rata-rata sebesar 32% per tahun selama 10 tahun ke depan dan akan mencapai angka transaksi sebesar US$88 miliar pada tahun 2025.

    Dari data tersebut, Indonesia diperkirakan memegang peranan signifikan dengan penguasaan sekitar 52% pasar e-commerce di Asia Tenggara, di mana nilai transaksi akan mencapai US$46 miliar pada tahun 2025. (Faisal Rachman)