BM Diah, Wartawan Pengobar Semangat Kemerdekaan

  • BM Diah
    BM Diah

    JAKARTA – Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tak hanya direbut oleh satu orang. Kira-kira seperti itulah yang ditekankan oleh salah seorang pemuda yang turut berjuang merebut kemerdekaan di zaman penjajahan Jepang. Pemuda itu bernama Burhanudin Mohamad Diah.

    Sebagai seorang penulis atau wartawan sejak masa penjajahan, peran BM Diah tak dapat dikesampingkan. Dulu dia tidak ikut larut percaya pada janji kemerdekaan yang disampaikan Jepang. Sikapnya tak seperti sekelompok pemuda yang memutuskan masuk gerakan “Poetra” dan gerakan-gerakan pemuda lainnya yang waktu itu dilindungi Jepang.

    Di masa mudanya, BM Diah lebih memilih memimpin gerakan baru bernama Angkatan Baru yang bebas dari pengaruh Jepang. Menariknya, nama gerakan yang diprakarsai Diah itu tak jauh beda dengan Angkatan Muda bentukan Jepang.

    Keaktifan Diah dalam organisasi bukan tanpa sebab. Diah mengaku merasa berdosa apabila terlalu banyak berdiam diri terus menerus sampai sinar di mata padam untuk selama-lamanya. Makanya, Gerakan Angkatan Baru menjadi wadahnya melakukan perjuangan.

    “Gerakan Angkatan Baru yang saya pimpin adalah satu kumpulan pemuda yang ingin sekali berbuat, ingin bertindak, gelisah dalam dinamik dan militansi menentukan dengan sadar nasib bangsa dan tanah airnya sendiri,” terang Diah.

    Pada akhirnya, dia bersama teman-temannya merancang siasat untuk mencapai cita-cita pemuda meraih kemerdekaan. Dalam buku berjudul Catatan BM Diah:Peran “Pivotal” Pemuda Seputar Lahirnya Proklamasi 17-8-’45, BM Diah bersama teman-temannya, seperti Chairul Saleh, Adam Malik, dan Sukarni, menjadi pihak yang mendesak Angkatan Baru ‘45 untuk menyatakan kemerdekaan sesegera mungkin. Waktu itu, Angkatan Baru ’45 itu antara lain berisikan Soekarno dan Mohammad Hatta.

    Diah dan teman-temannya menilai, sudah bukan saatnya Indonesia perlu menerima kemerdekaan dari Jepang. Sebab saat itu, kabar bahwa Jepang telah menyerah kepada sekutu telah sampai ke telinga para pemuda ini.

    Angkatan Baru itu pun mengambil tindakan penting. Soekarno-Hatta sengaja mereka culik ke Rengasdengklok pada tanggal 14 Agustus 1945. Akan tetapi perlu digarisbawahi, peristiwa penculikan itu hanya untuk meyakinkan kedua tokoh berpengaruh di Tanah Air itu.

    Di sisi lain, langkah yang diambil Angkatan Baru ini juga membuat Subardjo pusing. Karena Soekarno-Hatta sebetulnya harus mengikuti rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

    Bagi Angkatan Baru, apalagi Diah, Indonesia dianggap sudah tidak layak menerima penjajahan negara lain. Setelah Belanda begitu berkuasa selama tiga ratus tahun, Jepang tentunya juga harus angkat kaki.

    Pergerakan Rengasdengklok akhirnya membuahkan hasil. Generasi tua, sebutan mereka untuk Soekarno-Hatta, akhirnya mau mengikuti pemikiran Angkatan Baru.

    Inisiator Angkatan Baru
    Sjarif Thayeb dalam kata pengantarnya di buku yang sama menuliskan, Diah merupakan inisiator Angkatan Baru, sekaligus pemuda yang dinilainya memiliki sense of history alias indra sejarah. “Lihatlah nanti, ini jadi hari yang penting dalam sejarah, lho,” kata Sjarif menirukan ucapan BM Diah.

    Sjarif menceritakan, bersama teman-temannya, sosok pemimpin Angkatan Baru ini tak tahan melihat kondisi Indonesia di bawah kekuasaan Jepang sejak tahun 1942. Sebab kedatangan Jepang yang mengusir kolonial Belanda, dan tak membuat Indonesia lepas dari penjajahan. Rakyat masih menjadi korban.

    Waktu itu upaya Diah dan teman-temannya di Angkatan Muda tak dicapai dengan mudah. Sjarif bercerita, cukup banyak pula pemuda berpegang teguh pada analisis awal Bung Karno. Para pemuda itu berkata; “Tunggulah, sabarlah, Indonesia pasti merdeka sesudah Perang Dunia ini selesai dan Jepang telah ditaklukkan. Tidak mungkin Belanda akan menjajah kita kembali. Tunggulah komando dari Bung Karno, Pemimpin Besar kita”.

    Pada Peristiwa Rengasdengklok, atas desakan Angkatan Baru, Bung Karno juga sempat menjawab dengan kata-kata “menunggu”.

    AM Hanafi dalam buku berjudul Menteng 31 Jembatan Dua Angkatan menuliskan, dulu Bung Karno pernah tak menghiraukan suara para pemuda di Lapangan Udara Kemayoran, tempat Bung Karno dan Bung Hatta mendarat dari Saigon, Vietnam. Ucapan Chairul Saleh, Asmara Hadi, AM Hanafi, Sudiro, SK Trimurti, dan Sayuti Melik tak digubris.

    “Kita tidak bisa bicara soal itu di sini, Kempetai mengawasi kita. Bubarlah! Nanti kita bicarakan lagi,” kata Bung Karno.

    Malahan, seperti yang disampaikan Sjarif, Bung Karno sempat menyebutkan adanya janji pemimpin tertinggi Jepang untuk Asia Tenggara yaitu Jen Trauchi. Hasil dari lawatan Saigon, Bung Karno mengatakan Indonesia akan diberikan kemerdekaan, pada 22 Agustus 1945. Angkatan Baru terkejut dengan pernyataan seperti itu.

    Bagusnya Peristiwa Rengasdengklok ini mengubah situasi. Permufakatan dalam rapat PPKI pun tercapai. Diah bersama Sayuti akhirnya mengetik teks proklamasi, di sebuah ruang kecil di bawah tangga, Jalan Pengangsaan Timur.

    Saat sibuk merumuskan teks proklamasi, kala itu Diah juga masih kepikiran menyelamatkan kertas asli berisi tulisan tangan Bung Karno menuliskan konsep di hari itu. Kertas tulisan tangan itu sempat dinyatakan hilang, beruntung ada Diah waktu itu.

    Rentetan peristiwa menjelang Hari Kemerdekaan Republik Indonesia itulah yang mendorong Diah terus menulis. Tulisan-tulisan Diah itulah yang di kemudian hari tersusun dalam buku Catatan BM Diah: Peran “Pivotal” Pemuda Seputar Lahirnya Proklamasi 17-8-’45

    Di buku itu, Herawati menerangkan, keakraban Diah dengan teman-temannya merupakan pergerakan yang cukup membahayakan keselamatan diri mereka. Sebab Kempeitai atau tentara Jepang selalu mengintai.

    Seingat Herawati, Diah kerap melakukan pertemuan rahasia dengan pemuda dari berbagai kalangan, pada bulan Mei 1945. Bukan sekadar mempererat persaudaraan, tetapi berisikan dinamik, militansi, keyakinan, kepercayaan pada kekuatan sendiri dan rakyat. Diah sering pula terlihat berdiskusi serius dan mengetik lembar demi lembar, sampai jauh malam.

    “Pasti bukan mengetik cerita pendek atau cerita bersambung yang digubahnya. Tetapi ada rencana, konsepsi. Saya pikir yang memerlukan banyak konsenstrasinya,” ujar Herawati.

    Diah begitu sibuk dan keadaan ini berdampak besarnya perhatian pada keluarga, termasuk Herawati. “Begitu sibuknya dia, hingga kelahiran putri kami yang kedua, Nurdianiwati, tidak dihadirinya,” kata dia.

    Herawati sendiri memaklumi pribadi Diah sejak memutuskan untuk menikah. Saat bekerja di Radio Hosokyoku, Diah kali pertama bertemu dengan Herawati Diah, seorang penyiar lulusan jurnalistik dan sosiologi di Amerika Serikat. Mereka berpacaran, dan tak lama kemudian, pada 18 Agustus 1942 mereka menikah. Pesta pernikahan mereka ini dihadiri pula oleh Bung Karno dan Bung Hatta.

    Selang dua tahun pernikahan, lahirlah anak pertama mereka, Aidiniawti. Saat itu pula, Diah diakui Herawati mengalami pergejolakan dalam diri melihat keadaan masyarakat Indonesia. Diah merasakan kegelisahan, di kota pakaian susah diperoleh, apalagi makanan.

    Merebut Percetakan Jepang
    Diah juga dikenang punya tekad keras dalam menuntut ilmu. Saat bersekolah di Ksatrian Institut, Diah sesungguhnya tidak mampu membayar biaya sekolah. Namun, karena memiliki semangat tinggi untuk belajar, Douwes Dekker mengizinkannya terus belajar. Dia bahkan sampai dipercaya menjadi sekretaris di sekolah tersebut.

    Setelah tamat belajar dan memiliki pengetahuan di bidang jurnalistik, Diah kembali ke Medan dan bekerja sebagai Redaktur harian Sinar Deli. Namun di sana ia hanya bekerja selama satu setengah tahun. Setelah itu ia sering berpindah-pindah.

    Pertama, dari Medan ia kembali ke Jakarta dan bekerja di harian Sin Po sebagai tenaga honorer. Kemudian pindah ke Warta Harian. Karena koran tersebut dibubarkan karena alasan membahayakan keamanan, Diah pun lantas mendirikan usahanya sendiri bernama Pertjatoeran Doenia yang terbit bulanan.

    Pada akhir September 1945, setelah diumumkannya Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Diah bersama sejumlah rekannya seperti Joesoef Isak dan Rosihan Anwar, mengangkat senjata dan berusaha merebut percetakan Jepang “Djawa Shimbun”, yang menerbitkan Harian Asia Raja.

    Meskipun Jepang telah menyerah kalah, teman-teman Diah ragu-ragu, mengingat Jepang masih memegang senjata. Namun kenyataannya malah sebaliknya. Tentara Jepang yang menjaga percetakan tidak melawan, bahkan menyerah. Percetakan itu pun jatuh ke tangan Diah dan rekan-rekannya.

    Pada 1 Oktober 1945 B.M. Diah mendirikan Harian Merdeka. Diah menjadi pemimpin redaksi, Joesoef Isak menjadi wakilnya, dan Rosihan Anwar menjadi redaktur. Diah memimpin surat kabar ini hingga akhir hayatnya, meskipun belakangan ia lebih banyak menangani PT Masa Merdeka, penerbit Harian Merdeka.

    Belakangan Joesoef Isak, seorang Soekarnois, terpaksa diberhentikan atas desakan pemerintah Orde Baru. Sementara Rosihan Anwar mendirikan surat kabarnya sendiri, Harian Pedoman. Pada April 1945, bersama istrinya Herawati, Diah juga mendirikan koran berbahasa Inggris, Indonesian Observer.

    Diah dinilai sebagai penulis editorial yang baik, seorang nasional pro-Soekarno dan menentang militerisme. Ia pernah bertolak pandangan dengan pihak militer setelah Peristiwa 17 Oktober, sehingga ia terpaksa berpindah-pindah tempat untuk menghindari kejaran petugas-petugas militer.

    Ketika pemerintah Orde Baru memutuskan mengubah sebutan “Tionghoa” menjadi “Cina” dan “Republik Rakyat Tiongkok” menjadi “Republik Rakyat Cina”, Harian Merdeka bersama Harian Indonesia Raya dikenal sebagai satu-satunya pers yang gigih tetap mempertahankan istilah “Tionghoa” dan “Tiongkok”.

    Selain menjadi wartawan, BM Diah pernah menjabat sebagai seorang birokrat. Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1959, BM Diah diangkat menjadi Duta Besar RI untuk Cekoslowakia, Hongaria. Lalu Kerajaan Inggris Raya di tahun 1962.

    Kemudian pada tahun 1966, ia diangkat menjadi Menteri Penerangan dalam Kabinet Ampera oleh Presiden Soeharto. Dalam perjalanan berikutnya, ia juga pernah menjadi anggota DPR dan DPA.

    Di luar pemerintahan, ia pernah menjabat sebagai Ketua PWI pada tahun 1971, kemudian menjadi Presiden Direktur PT Masa Merdeka, dan Wakil Pemimpin PT Hotel Prapatan-Jakarta. Di masa tuanya, ia juga mendirikan Hotel Hyatt Aryaduta.

    Berkat jasa-jasanya yang teguh memperjuangkan kepentingan bangsa dan negara, BM Diah menerima Bintang Mahaputra Utama dari Presiden Soeharto pada 10 Mei 1978. Selanjutnya, menerima piagam penghargaan dan medali perjuangan angkatan ’45 dari Dewan Harian Nasional Angkatan 45 pada 17 Agustus 1995.

    Sukses menegakkan Pers dan menjadi seorang pengusaha sukses, Diah menyerah pada penyakit stroke. Dia sempat dirawat di RS Siloam Gleneagles Tangerang 25 April 1996, kemudian dipindahkan ke RS Jakarta pada 31 Mei 1996, sampai akhirnya menghembuskan napas terakhir.

    BM Diah wafat pada usia 79 tahun, tepatnya 10 Juni 1996 pukul 03.00 dini hari. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta Selatan karena memiliki jasa yang tak biasa untuk negara ini, Indonesia. (Denisa Tristianty)