BIBIT INTOLERANSI BERAGAMA DALAM BISNIS PROPERTI DI INDONESIA

Lingkungan tempat tinggal dengan kepercayaan atau agama yang homogen ini sangat berpotensi untuk melahirkan pola pikir dan sikap-sikap yang cenderung intoleran

  • Perumahan Islami Orchid Green Park, Depok, Jawa Barat. Ist
    Perumahan Islami Orchid Green Park, Depok, Jawa Barat. Ist

    Oleh: DR. Nugroho Pratomo*

    Keberadaan berbagai perumahan yang menawarkan konsep perumahan Islami semakin menjamur di berbagai daerah. Sebagai bagian dari strategi pemasaran bisnis properti, penggunaan “konsep syariah” memang menjadi daya tarik tersendiri bagi para calon pembeli perumahan. Berbagai hal yang ditawarkan dalam “perumahan Islami” seringkali juga dianggap menjadi nilai tambah tersendiri bagi para calon pembeli yang nantinya akan tinggal di kawasan perumahan tersebut.

    Mulai dari metode pembayaran angsuran pembelian yang bebas bunga (bebas riba), penyediaan fasilitas masjid, adanya kursus mengaji Alquran, TPA Islam, dan lain sebagainya dalam kerangka konsep nilai-nilai Islami, adalah berbagai hal yang telah terbukti berhasil meningkatkan daya tarik calon pembeli. Keberhasilan dari aspek bisnis inilah yang semakin banyak mendorong pengembang melakukan hal tersebut, terlebih pada kawasan perumahan dengan luasan yang terbatas (klaster).

     

     

    Ketidaksehatan Sosial
    Jika dilihat dari kerangka sosial, maka keberadaan berbagai perumahan Islami atau berkonsep syariah tersebut tanpa disadari berpotensi menciptakan bibit pesoalan sosial baru. Penawaran perumahan dengan menawarkan konsep “nilai-nilai Islami” sesungguhnya tanpa disadari telah membangun suasana eksklusivitas yang tidak sehat secara sosial. Ketidaksehatan sosial tersebut ditunjukkan dengan terciptanya diskriminasi yang sudah dimulai semenjak proyek tersebut mulai ditawarkan. Cara pembayaran non riba yang ditawarkan oleh pengembang pada saat pemasaran sebenarnya adalah sebuah konsep yang dapat sangat menguntungkan kedua belah pihak. Sayangnya, konsep pembayaran ini justru dirusak sendiri oleh konsep suasana “perumahan Islami” yang secara langsung membangun segregasi antara muslim dan non muslim.

    Kondisi perumahan dengan penghuni yang lebih homogen khususnya dari sisi kepercayaan (agama), memang memiliki kekurangan dan kelebihan tersendiri dibandingkan perumahan konvensional. Homogenitas penghuni pada satu sisi akan lebih membantu dalam proses pembangunan tingkat kepercayaan sosial yang tinggi di antara para penghuni. Melalui kepercayaan yang sama tersebut, para penghuni akan merasa lebih aman dan nyaman dalam melakukan interaksi sosial. Melalui hal tersebut, para penghuni dapat lebih dekat dan mengenal seluruh tetangganya secara lebih mendalam, sehingga berbagai tindakan kejahatan atau bahkan pencegahan aksi terorisme sekalipun dapat dengan mudah untuk dilakukan.

    Baca:   

    Celakanya, pada saat yang bersamaan, keberadaan perumahan Islami juga telah menciptakan ruang pemisah sosial antara muslim dan non muslim. Adalah benar apabila dalam pemasaran perumahan tersebut beberapa tidak secara langsung menyebutkan bahwa perumahan tersebut dikhususkan bagi pembeli yang muslim. Namun, pada beberapa proyek perumahan, justru secara eksplisit menyebut proyeknya sebagai “perumahan muslim”. Bahkan, terlebih dahulu menanyakan jenis kepercayaan atau agama yang dianut.

    Hal ini tentunya secara langsung membangun pola pikir dan harapan di kalangan calon pembeli bahwa rumah tempat tinggal dirinya dan keluarganya nanti hanya akan dikelilingi oleh tetangga dengan agama yang sama. Sehingga, orang atau keluarga non muslim akan ditolak keberadaannya di lingkungan tempat tinggalnya. Hasil wawancara ABC Australia dengan salah satu penghuni di perumahan muslim menyebutkan bahwa ia merasa aman tinggal di perumahan khusus muslim, tempat di mana warga Kristen atau penganut agama dan keyakinan lainnya tidak diterima (Hawley, 2017).  

    Intoleransi
    Walau tidak dapat langsung digeneralisasi, lingkungan tempat tinggal dengan kepercayaan atau agama yang homogen ini pada akhirnya sangat berpotensi untuk melahirkan pola pikir dan sikap-sikap yang cenderung intoleran terhadap orang-orang yang berbeda kepercayaan atau agamanya. Hal ini jelas sangat bertentangan dengan konsep negara Indonesia yang sangat menghormati perbedaan.

    Ancaman terbentuknya sikap intoleransi atas perbedaan agama dan kepercayaan semakin berbahaya ketika anak-anak yang tinggal di kawasan perumahan tersebut hanya terbiasa pada teman-teman yang memiliki kepercayaan yang sama. Kondisi tersebut pada akhirnya hanya akan membiasakan dan mendidik anak-anak hanya dapat bergaul dengan orang-orang yang memiliki kepercayaan yang sama dengan dirinya.  

    Merujuk pada laporan The Wahid Institute, definisi tindakan intoleransi atas nama agama adalah ketidakmauan untuk memperlakukan orang lain yang berbeda agama secara setara, termasuk di dalamnya ketidakmauan untuk berbagi dalam bidang sosial, politik, dan profesional kepada orang-orang dari agama lain (The Wahid Institute, 2014). Berangkat dari definisi tersebut, sebenarnya disadari atau tidak apa yang dilakukan oleh para pengembang perumahan Islami tersebut adalah bentuk nyata tindakan intoleransi atas nama agama. Para pengembang tersebut secara langsung sebenarnya telah memfasilitasi tindakan intoleransi atas nama agama dengan cara tidak memberikan ruang kepada masyarakat yang berbeda agama untuk dapat tinggal di perumahan yang mereka bangun. Hal tersebut bertambah celaka ketika cara-cara tersebut tidak lebih dari upaya dan bagian dari strategi pemasaran properti semata.

    Pembiaran oleh pemerintah atas berbagai proyek semacam ini tentunya sudah harus mulai kembali ditinjau. Proyek perumahan dengan melakukan segregasi berdasarkan agama, pada akhirnya hanya melahirkan bibit-bibit intoleransi dari struktur organisasi sosial terkecil yaitu keluarga. Memang, tidak semua proyek perumahan dengan pola-pola strategi pemasaran seperti itu berjalan dengan baik sesuai dengan harapan para pengembang. Namun, jika hal tersebut dibiarkan, maka bukan tidak mungkin pola semacam ini akan terus meluas ke berbagai daerah di Indonesia. Sungguh hal ini merupakan ancaman besar dalam persatuan Indonesia.  

     *) Direktur Riset Visi Teliti Saksama 

    Referensi

    Hawley, S. (2017, Juli 24). Retrieved Mei 17, 2018, from http://www.australiaplus.com/indonesian/berita/: http://www.australiaplus.com/indonesian/berita/tren-perumahan-islami-dan-keprihatinan-toleransi/8739582

    The Wahid Institute. (2014). Laporan Tahunan Kebebasan Beragama/Berkeyakinan dan Intoleransi 2014. Jakarta, DKI, Indonesia: The Wahid Institute.