BI: Kredit Perbankan 2017 Tumbuh 8,1%

Pertumbuhan kredit sebesar itu juga sejalan dengan proyeksi Bank Sentral mematok pertumbuhan kredit sebesar 8-10%. Konsolidasi yang dilakukan oleh perbankan nasional membuat pertumbuhan kredit sedikit melambat

  •  Layanan perbankan Indonesia. Antara foto/m agung rajasa
    Layanan perbankan Indonesia. Antara foto/m agung rajasa

    JAKARTA- Bank Indonesia (BI) menyatakan, pertumbuhan tahunan kredit perbankan sepanjang 2017 sebesar 8,1% (year on year/yoy). Realisasi ini hanya meningkat tipis dibandingkan tahun 2016 yang tercatat sebesar 7,8% (yoy).

    Pertumbuhan kredit sebesar itu juga sejalan dengan proyeksi bank sentral mematok pertumbuhan kredit sebesar 8—10%. Seperti diketahui, di kuartal IV 2017 kemarin, bank sentral akhirnya memutusan untuk merevisi target pertumbuhuan kredit dari sebelumnya 10%—12% di 2017.

    "Pertumbuhan kredit 2017 sebesar 8,1% setahun penuh. Namun, yang luar biasa sekali adalah pembiayaan dari pasar modal juga meningkatnya luar biasa," ujar Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Erwin Rijanto, di Kompleks Perkantoran BI, Jakarta, Jumat (12/1).

    Sayangnya, Erwin belum merinci lebih lanjut pendorong pertumbuhan kredit di akhir 2017. Di sisi lain, Erwin menyebutkan pembiayaan yang disalurkan terhadap kegiatan ekonomi melalui instrumen surat utang tumbuh pesat, dan mengkompensasi lambannya pertumbuhan kredit perbankan.

    Pertumbuhan pembiayaan di pasar modal sepanjang 2017, kata Erwin, melebihi 35%. "Sehingga kalau kita jumlah itu akan jauh lebih besar. Kira-kira hampir sekitar 11 % karena pasar modal kita (tumbuh) di atas 35%," ucapnya.

    Sementara itu, menurut Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso, pertumbuhan kredit 2017, masih berpeluang mendekati dua digit atau 10%. Pasalnya, kata Wimboh, di akhir 2017 atau Desember 2017, pertumbuhan penyaluran kredit menggeliat, mengingat permintaan pembiayaan juga meningkat baik dari korporasi maupun individu.

    Wimboh menyebut kredit konsumsi dan kredit modal kerja menjadi penopang pertumbuhan kredit di akhir tahun. "Tapi memang masih meleset jika berdasarkan Rencana Bisnis Bank yang sebesar 11,8%. Tapi masih mendekati dua digit untuk pertumbuhannya," tuturnya.

    BI dan OJK sama-sama memproyeksikan pertumbuhan kredit perbankan akan pulih pada 2018. Karena kondisi ekonomi domestik yang membaik dan konsolidasi perbankan yang segera tuntas. Dua regulator tersebut memperkirakan pertumbuhan kredit perbankan di 2018 sebesar 10—12% (yoy).

    Baca juga: 

    Peran Pembiayaan Perbankan Tersalip Pasar Modal

    Marjin Tipis, NPL dan Cadangan Modal Tekan Laba Bank

    Stabilitas
    Sebelumnya, OJK mencatat sektor jasa keuangan Indonesia hingga akhir 2017 terus menunjukkan kondisi yang stabil dengan kinerja intermediasi yang berada pada level positif. "Stabilitas sektor jasa keuangan selama 2017 didukung oleh permodalan yang tinggi dan likuiditas yang memadai untuk mengantisipasi risiko dan mendukung ekspansi usaha," kata Wimboh.

    Data OJK menunjukkan, sampai November CAR perbankan sebesar 23,54% (batas minimum 8 %) dengan tier 1 Capital 21,74%. Risk based capital (RBC minimum 120%) asuransi umum dan asuransi jiwa masing-masing tercatat sebesar 310% dan 492%.

    Likuiditas pasar juga terlihat memadai dengan kelebihan cadangan atau excess reserve perbankan per 13 Desember 2017 sebesar Rp644,95 triliun. Kemudian, rasio alat likuid per non-core deposit dan rasio alat likuid per DPK masing-masing sebesar 101,75% dan 21,44%. Sementara net inflow di pasar modal domestik untuk posisi sampai dengan 19 Desember 2017 sebesar Rp129,3 triliun, terutama berasal dari pasar SBN.

    Kinerja intermediasi sektor jasa keuangan juga berada pada level positif, terutama didukung oleh penghimpunan dana di pasar modal telah mencapai Rp257,02 triliun, melebihi target tahun 2017 sebesar Rp217,02 triliun.

    Sementara itu, intermediasi perbankan sudah mulai tumbuh ditunjukkan angka kredit perbankan hingga akhir November 2017 telah meningkat sebesar Rp228 triliun sehingga total kredit perbankan mencapai Rp4.605 triliun atau tumbuh sebesar 7,47% secara tahunan (year on year/yoy).

    "OJK memperkirakan pertumbuhan kredit perbankan hingga akhir 2017 berada di kisaran 7%-9%,” serunya.

    Deviasi pertumbuhan kredit perbankan dibandingkan dengan target Rencana Bisnis Bank 2017 sebesar 11,86% (yoy), menurutnya disebabkan oleh konsolidasi yang dilakukan oleh perbankan nasional. Hal ini sehubungan dengan risiko kredit termasuk melalui hapus buku terhadap kredit bermasalah terutama untuk segmen kredit berbasis komoditas beserta turunannya.

    Sementara, tingkat kredit atau pembiayaan bermasalah secara umum juga masih berada dalam level yang terjaga, yakni sebesar 2,89% untuk perbankan dan 3,08 % untuk perusahaan pembiayaan. Sedangkan tingkat suku bunga perbankan, baik bunga deposito maupun tingkat bunga pinjaman menunjukkan tren menurun.

     

    Konservatif
    Di tahun 2018 ini, OJK mematok pertumbuhan yang konservatif. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Heru Kristiyana mengatakan tahun depan pihaknya hanya mematok peningkatan kredit sebesar 10% hingga 12% secara tahunan atau year on year (yoy). Target tersebut lebih rendah jika dibandingkan dengan target berdasarkan rencana bisnis bank (RBB) tahun 2018 yang mematok kredit naik 12,23%.

    Senada, Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo juga optimistis memandang kondisi perekonomian pada 2018 akan lebih stabil dan baik, setelah diakuinya situasi perekonomian pada periode sebelumnya sedikit mengalami guncangan.

    "Periode 2017—2018 lebih baik dari perkiraan setelah periode sebelumnya terjadi koreksi turun. Saat ini, terjadi koreksi naik dan ini adalah kesempatan. Indonesia harus mengambil kesempatan ini," kata Agus.

    Agus menilai Indonesia berhasil menghadapi dinamika dalam sektor keuangan di 2017 yang penuh gejolak maupun tantangan, seperti kenaikan suku bunga The Fed sebanyak tiga kali serta reformasi pajak AS yang terjadi di akhir tahun.

    Volatilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sendiri sepanjang 2017 berada pada kisaran 3% ketimbang tahun 2016 sebesar 8%. Lalu, aliran modal masuk mencapai Rp138 triliun, bandingkan tahun 2016 hanya sebesar Rp126 triliun.

    "Ketika semua khawatir dana akan kembali ke AS dan terjadi guncangan di negara berkembang, kita beruntung mendapatkan peneguhan dari Fitch dan kita bisa menurunkan 'policy rate'. Ini tanda-tanda 2018 menjadi stabil dan baik," ujarnya.

    Agus berharap, penyelenggaraan pemilihan kepala daerah secara serentak pada pertengahan 2018 tidak memberikan gejolak dan ikut memberikan kepastian terhadap kinerja perekonomian yang sudah terjaga dengan baik. (Faisal. Rachman)