BERSAMA MENANGANI ANCAMAN SAMPAH ELEKTRONIK

Perkembangan teknologi yang semakin pesat berdampak pada meningkatnya sampah elektronik.

  • Ilustrasi sampah elektronik. Pixabay
    Ilustrasi sampah elektronik. Pixabay

    Oleh: Novelia, M.Si*

    Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia mengalami perkembangan yang sangat pesat pada sektor industri teknologi. Kondisi ini salah satunya terlihat dari bertumbangannya berbagai media massa cetak dan terjadinya pergeseran ke arah digital. Media-media konvensional mulai ditinggalkan. Masyarakat lebih memilih mengakses informasi melalui berbagai perangkat elektronik yang terhubung dengan internet.

    Di sisi lain, peralihan industri konvensional ke dunia digital yang tentunya berdampak pada pertumbuhan penetrasi pasar teknologi menjadi salah satu hal yang berimplikasi terhadap meningkatnya e-waste, atau sampah elektronik. Hal ini didukung pula dengan cepatnya para konsumen mengganti produk elektroniknya dengan alasan kerusakan, atau bahkan sekadar mengikuti perkembangan zaman.

    Dari data milik Program Lingkungan Hidup PBB (UNEP), setiap tahunnya limbah elektronik bertumbuh 40 juta ton secara global. Penyumbang terbesar dari sampah elektronik ini adalah ponsel bekas dan komputer personal.

    Di Indonesia sendiri, berdasarkan data BPS tahun 2012, jumlah produksi dan impor pada dua jenis barang elektronik saja, yakni televisi dan komputer personal, terhitung mengagetkan. Produksi televisi mencapai 12.500.000 kg/tahun dan jumlah impor 6.687.082 kg/tahun. Sementara produksi komputer mencapai 12.491.899.469 kg/tahun dengan impor sebanyak 35.344.733 kg/tahun.

    Bahaya Sampah Elektronik
    Limbah atau sampah elektronik yang sering disebut juga electronic waste (e-waste), dapat dijelaskan sebagai barang-barang elektronik yang dibuang karena sudah tidak berfungsi atau tidak dapat digunakan kembali. Setiap sampah elektronik wajib diwaspadai karena terdiri dari berbagai material dan logam yang sebagian besarnya mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3), yang menjadi salah satu penyebab pencemaran dan kerusakan lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik.

    Beberapa limbah B3 pada sampah elektronik di antaranya PCBs, arsenik, dan kadmium. PCBs seringkali digunakan pada berbagai bahan plastik, trafo, perekat, kapasitor, sistem hidrolis, dan peralatan elektronik lainnya. PCBs memiliki risiko mudah terakumulasi dalam jaringan lemak hewan dan manusia, serta mengganggu sistem pencernaan dan bersifat karsinogen.

    Selain PCBs, arsenik juga banyak digunakan dalam industri elektronik, yaitu dalam pembuatan transistor, semikonduktor, hingga bahan peledak. Arsenik berisiko menimbulkan gangguan metabolisme dalam tubuh manusia dan hewan yang dapat menyebabkan keracunan hingga kematian.

    Sementara, kadmium merupakan bahan yang biasa dipakai dalam pelapisan logam, terutama baja, besi, tembaga, dan pembuatan baterai. Apabila terisap, bahan ini akan bersifat iritatif dan dalam jangka waktu lebih lama dapat mengakibatkan keracunan pada tubuh manusia dan hewan.

    Dalam alur yang lebih panjang, limbah-limbah elektronik berkontribusi pada pengrusakan lingkungan. Hal ini di antaranya dikarenakan emisi yang dilepaskan selama proses manufaktur produksi barang-barang elektronik, limbah cair elektronik yang dibuang secara sembarangan ke aliran sungai, pembakaran sampah elektronik dan racun yang dilepaskan oleh logam dan mineral dari sampah-sampah elektronik. Teracuninya aliran air dan udara tentu saja akan mengancam keberlangsungan hidup di air dan alam bebas.

     

     

    Pelibatan Berbagai Pihak untuk Menangani
    Jumlah limbah elektronik yang terus mengalami peningkatan di antaranya disebabkan minimnya informasi tentang limbah elektronik yang diperoleh publik, sehingga minim pulalah kesadaran untuk pengelolaannya dalam skala rumah tangga. Ketersesatan kita akan limbah elektronik didukung pula dengan belum tersedianya ketentuan teknis tentang penggunaan barang-barang elektronik, misalnya usia barang yang memungkinkan untuk diolah kembali.

    Beragamnya faktor penyebab memberikan kode bahwa untuk menangani e-waste tidak dapat bertumpu pada satu pihak tertentu saja, namun perlu melibatkan berbagai tingkat elemen masyarakat. Masalah limbah elektronik tidak dapat serta-merta dilimpahkan pada pemerintah semata, namun juga menjadi tanggung jawab produsen, penjual, hingga konsumen barang-barang elektronik.

    Sebagai pihak berwenang, pemerintah selayaknya membuat peraturan yang jelas terkait tanggung jawab produsen barang elektronik akan produk-produknya, sejak dari proses produksi, distribusi, hingga sudah tidak digunakan lagi.

    Terkait hal tersebut, produsen akan memiliki tanggung jawab untuk melakukan pemantauan proses distribusi dan menangani limbah elektronik produknya masing-masing. Dalam proses produksi, para produsen barang elektronik juga diharapkan menghasilkan produk yang ramah lingkungan.

    Pada tingkatan yang lebih bawah, bahkan konsumen pun dapat berkontribusi dalam menangani meningkatnya sampah elektronik. Hal-hal terkecil yang dapat dilakukan konsumen sebagai berikut.

    1. Membeli barang elektronik yang lebih tahan lama sehingga tidak terlalu perlu sering diganti,
    2. Merawat barang elektronik yang dimiliki dengan baik sehingga diharapkan dapat memperpanjang usia pemakaiannya, dan
    3. Mendonasikan barang elektronik lama yang masih bisa dipakai.

     

    Dengan kerja sama setiap pihak, diharapkan penanganan terhadap limbah elektronik dapat lebih optimal. Lebih jauh lagi, informasi kepada masyarakat akan bahaya dari e-waste juga perlu disampaikan dengan lebih jelas sehingga kesadaran publik akan hal ini juga semakin baik.

    *Peneliti Junior Visi Teliti Saksama

     

    Referensi:

    Jehan, Noor. YLKI. Retrieved from: http://ylki.or.id/2012/09/kandungan-berbahaya-dalam-e-waste/

    UNEP., (2005). E-waste: The Hidden Side of IT Equipment’s Manufacturing and Use: Early Warnings on Emerging Environmental Threats no. 5, United Nations Environment Programme.