BAHAN BAKAR NABATI MENUNGGU HINGGA KAPAN LAGI?

Masih terbatasnya produksi biofuel atau BBN di Indonesia, pada akhirnya menjadikan masyarakat masih banyak bergantung pada BBM.

  • ilsutrasi Bahan Bakar Nabati. Validnews/Agung Natanael
    ilsutrasi Bahan Bakar Nabati. Validnews/Agung Natanael

    Oleh: Nugroho Pratomo*

    Sebagai upaya konservasi energi dan pemenuhan kebutuhan energi bersih serta ramah lingkungan, salah satu cara yang ditempuh adalah pengembangan Bahan Bakar Nabati (BBN) atau yang juga sering disebut dengan biofuel. Terminologi biofuel ini digunakan baik untuk menyebut biofuel cair (liquid biofuel) maupun energi biomassa (Howarth et al., 2009).

    Secara teori, pengembangan BBN ini dapat diperoleh dengan melakukan fermentasi dari sari pati berbagai jenis tanaman. Dari proses tersebut kemudian dihasilkan minyak nabati (biofuel) yang dapat digunakan untuk keperluan rumah tangga dan kebutuhan energi lainnya pengganti bahan bakar fosil.

    Beberapa jenis tanaman yang selama ini telah banyak dicoba untuk dikembangkan sebagai sumber BBN ini adalah tebu (molasses), singkong, ubi jalar, grains (jagung/maize, gandum, sorghum, beras). Selain itu, juga ada beberapa jenis limbah yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai BBN, antara lain ialah limbah agrikultural yakni  grain stalk, rice hulls, cassava peels & pulp, limbah pabik kelapa sawit, limbah kehutanan, misalnya wood-chips, saw dust, limbah organik, limbah kota dan biomassa umum yaitu daun; batang dan lain lain (Puradinata, 2012).

    Dalam perkembangannya, salah satu jenis BBN yang banyak dikembangkan adalah biodiesel. Biodiesel adalah bahan bakar dari minyak nabati yang memiliki sifat menyerupai minyak diesel/solar (Subekti dan Djaohar, 2007: 54). Di Indonesia, pengembangan biodiesel dimulai pada tahun 1996, yang dilakukan oleh Lemigas dan Pertamina. Mereka melakukan pencampuran antara biodiesel dan minyak solar dengan rasio 30:70.

    Dilihat dari aspek lingkungan, menurut Subekti dan Djaohar (2007), biodiesel menghasilkan emisi gas buang yang jauh lebih baik, yaitu: bebas sulfur, bilangan asap (smoke number) yang rendah, memiliki cetane number yang lebih tinggi sehingga pembakaran lebih sempurna (clear burning), memiliki viskositas tinggi, sehingga mempunyai sifat pelumasan yang lebih baik untuk memperpanjang umur pakai mesin, serta dapat terurai (biodegradable).

    Jika dilihat dari rasio net balance, maka minyak kelapa sawit sebagai bahan biodiesel dinilai memiliki rasio net energy balance potensial paling tinggi dibandingkan berbagai jenis tanaman lainnya. Net energy balance ratio adalah rasio output energi yang digunakan dibagi dengan input bahan bakar fosil yang dibutuhkan untuk memproduksi energi. Semakin tinggi rasio net energy balance suatu jenis tanaman, maka akan semakin rendah penggunaan bahan bakar fosil yang digunakan dalam pengolahan biofuel tersebut. Dengan demikian, efek gas rumah kaca yang dihasilkan juga akan semakin rendah (Howarth et al. 2009).

    Secara umum, biodiesel dapat dibedakan dengan bioetanol. Bioetanol pada dasarnya merupakan bahan bakar alternatif yang bahan bakunya berasal dari limbah pertanian yang selama ini seringkali dilihat sebagai sesuatu yang tidak bernilai namun terus diproduksi. Hal ini menyebabkan bioetanol sering kali dinilai lebih efisien dan ekonomis, meski tanpa adanya subsidi (Subekti dan Djaohar, 2007: 58). Lebih lanjut Subekti dan Djaohar (2007) menjelaskan, bahwa untuk memproduksi bioetanol dapat dilakukan melalui proses fermentasi biomassa dengan bantuan mikroorganisme, yang umumnya diproduksi dengan menggunakan sintesis etilen.

    Biofuel di Indonesia
    Potensi pengembangan energi alternatif biofuel (biodiesel dan bioetanol) di Indonesia pada dasarnya sangat besar. Hal tersebut disebabkan banyak daerah di Indonesia yang merupakan lahan subur untuk ditanami berbagai tanaman bahan baku biofuel. Namun, produksi bioetanol dan biodiesel di Indonesia masih terbatas. Data produksi biodiesel berdasarkan data Ditjen EBTKE dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

    Masih terbatasnya produksi biofuel atau BBN di Indonesia, pada akhirnya menjadikan masyarakat bergantung pada BBM. Akibatnya, berbagai dampak negatif yang ditimbulkan akibat pembakaran BBM masih terus dirasakan. Begitu pula dengan adanya kebijakan subsidi yang diterapkan oleh pemerintah. Hal tersebut semakin menyebabkan pengembangan BBN di Indonesia tidak mengalami pertumbuhan yang signifikan.

    Hal lain yang menjadi persoalan dalam pengembangan BBN di Indonesia adalah ketersediaan lahan untuk perkebunan tanaman yang menjadi bahan baku BBN. Selama ini, biodiesel dari minyak kelapa sawit menjadi salah satu andalan karena Indonesia memiliki lahan perkebunan kelapa sawit sangat luas. Berdasarkan data Ditjen Perkebunan, luas perkebunan kelapa sawit hingga tahun 2017 mencapai 12,3 juta hektare. Dengan luasan tersebut, maka tidak mengherankan apabila minyak kelapa sawit menjadi salah satu unggulan Indonesia dalam pengembangan BBN.

    Pada saat yang bersamaan, keterbatasan luasan lahan untuk tanaman BBN lainnya telah menjadikan BBN yang berasal dari tanaman lainnya menjadi semakin tidak ekonomis. Kebutuhan untuk mendorong petani atau perusahaan mengupayakan perkebunan dalam jumlah yang besar dan masif untuk kepentingan BBN, membutuhkan waktu dan biaya yang besar. Termasuk dibutuhkan program khusus dari pemerintah dalam penyediaan lahan dan bibit tanaman yang mampu memenuhi kebutuhan tersebut. Namun hal tersebut bukan berarti bahwa pengembangan BBN tidak memiliki potensi bisnis di Indonesia. Karena bagaimanapun juga, energi merupakan kebutuhan dasar bagi setiap manusia untuk kini dan yang akan datang.

    *)Direktur Riset Visi Teliti Saksama

    Referensi

    Ditjen EBTKE. (2016). Statistik EBTKE 2016. Jakarta, DKI, Indonesia: Kementerian ESDM.

    Howarth R.W, et al. (2009).  dalam Howarth, RW and Stefan Bringezu (ed), Biofuels: Enviromental Consequences and Interactions with Changing Land Use, SCOPE Rapid Assessment,  New York, Cornell Ithaca

    Puradinata, D.S. (2012). Pembelajaran Interorganisasional dan Penciptaan Pengetahuan Dalam Pengembangan Bioethanol di Indonesia (Sebuah Pendekatan Soft System Methodology di PT Medco Ethanol Lampung), Disertasi FISIP UI Program Studi Ilmu Administrasi, Depok, tidak dipublikasikan.

    Subekti, et.al. (2007). “Biodiesel dan Bioethanol: Solusi Kelangkaan Energi Transportasi Indonesia”. Pevote, Vol 2. No.203, April-September 2007: 47-56, Jakarta, FT UNJ.