MENJAGA KESINAMBUNGAN "TAMBANG EMAS HIJAU"

Asing dan Gurihnya Bisnis Sawit di Indonesia

Data BKPM menyebutkan dalam kurun waktu 2010 hingga 2014, nilai realisasi investasi asing pada sektor perkebunan kelapa sawit tumbuh rata-rata 38%, sementara di sisi industri pengolahan kelapa sawit pertumbuhan realisasi investasi rata-rata mencapai 195%

  •  ilustrasi biji sawit. (pixabay)
    ilustrasi biji sawit. (pixabay)

    JAKARTA – Membukukan kinerja cemerlang di segala lini penting perekonomian membuat sektor kelapa sawit menjadi andalan pemerintah. Betapa tidak. Di sisi ekspor, emas hijau ini berada pada posisi puncak 10 komoditas utama pencetak devisa.

    Kinerja ekspor kooditas ini mengalahkan batubara, pakaian jadi atau konveksi, karet, otomotif, logam dasar mulia dan sepatu olahraga. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, nilai ekspor minyak kelapa sawit pada Januari—September 2017 sebesar US$15,14 miliar, naik US$4.6 miliar atau 43,81% dari tahun lalu. Pada periode yang sama tahun lalu, ekspor kelapa sawit mencapai US$10,53 miliar.

    Secara keseluruhan, komoditas ini menyumbang sekitar 13,53% ekspor nonmigas nasional.

    Peningkatan perolehan devisa ini didukung oleh peningkatan volume ekspor. Pada sembilan bulan pertama 2016, volume ekspor kelapa sawit mencapai 16,44 juta ton. Volume ini meningkat menjadi 21,39 juta ton pada Januari—September 2017, tumbuh 30,11%.

    Sementara, dari sisi penyerapan tenaga kerja, sektor ini juga memberikan kontribusi besar. Data Kementerian Pertanian menyebutkan jumlah tenaga kerja yang diserap perkebunan kelapa sawit mencapai 3,25 juta jiwa pada 2016. Sementara jika memperhitungkan industri hilirnya, diperkirakan 16—20 juta orang yang mengandalkan penghidupan dari bisnis kelapa sawit mulai hulu dari hilir.

    Sekadar informasi, pada tahun 2016 jumlah partisipasi angkatan kerja di Indonesia berada di kisaran angka 90,79 juta jiwa.

    Dua sisi ini saja telah menunjukkan keunggulan kelapa sawit bagi perekonomian. Tak heran jika julukan emas hijau kemudian disematkan pada komoditas yang satu ini.

    Pertumbuhan ekspor dan penyerapan tenaga kerja ini tak lepas dari pertumbuhan permintaan minyak nabati dunia, khususnya Crude Palm Oil (CPO). Menurut Statista, pada 2013/2014, konsumsi dunia untuk CPO mencapai 57,72 juta metrik ton (MT). angka ini di atas konsumsi minyak kedelai dan bunga matahari yang masing-masing sebesar 45,27 juta MT dan 14,14 juta MT.

    Sementara, pada 2016/2017, konsumsi CPO naik menjadi 59,97 juta MT. Minyak kedelai dan bunga matahari tetap berada di urutan kedua dan ketiga, dengan angka konsumsi mencapai 53,62 juta MT dan 16,52 juta MT.

    Untuk 2017/2018, konsumsi CPO dunia diproyeksikan bakal mencapai 62,92 juta MT. Untuk minyak kedelai, konsumsinya akan menjadi 55,99 juta MT, sedangkan minyak bunga matahari menjadi 16,79 juta MT.

    Tingginya permintaan pun menghasilkan pendapatan yang cukup besar bagi para pelaku bisnis dari sawit. Dari sisi petani kecil atau small holders saja, peningkatan pendapatan petani sawit melonjak dalam beberapa tahun terakhir. Lonjakannya pun lebih tinggi ketimbang hasil perkebunan lainnnya.  

    Pada tahun 2009, pendapatan petani sawit berkisar Rp14 juta per hektare tiap tahunnya. Angkanya kemudian naik lebih dari 200% menjadi Rp31 juta per hektare tiap tahunnya pada 2013. Sementara, pendapatan petani nonsawit pada 2009 hanya di kisaran Rp4,6 juta per hektare tiap tahunnya. Angkanya kemudian meningkat menjadi Rp7,2 juta hektare tiap tahunnya selang empat tahun kemudian.

    infografis 5 provinsi dengan perusahaan kelapa sawit terbanyak. Validnews/Arizar

    Tak heran jika dari tahun ke tahun, pertumbuhan lahan sawit cukup pesat. Banyak orang yang tergiur gurihnya keuntungan sawit.

    Data Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian menunjukkan dalam kurun waktu 2011-2016, pertumbuhan lahan mencapai 32,48%. Pada 2011, luas areal perkebunan sawit masih mencapai 8,99 juta hektare. Sedangkan pada 2016, luasnya telah bertambah hampir 3 juta hektare, yakni menjadi 11,91 juta hektare.

    Tahun ini, diperkirakan luas areal perkebunan sawit diperkirakan akan mencapai 12,3 juta hektare.

    Dari luasan tersebut, perkebunan besar swasta mendominasi sebesar 54,57%. Luas perkebunan besar swasta pada 2016 mencapai 6,51 juta hektare. Luas perkebunan rakyat berada di urutan kedua. Pada 2016, luas perkebunan sawit rakyat mencapai 4,65 juta hektare atau 39% dari total luasan lahan perkebunan sawit. Sisanya, perkebunan milik negara seluas 747 ribu hektare atau 6,3% dari luas lahan sawit pada 2016.

    Dalam periode 2011—2016, penambahan luas lahan perkebunan besar swasta paling laju di antara ketiga kelompok tersebut. Dalam kurun waktu itu, laju penambahan lahan perkebunan besar swasta mencapai 42,54%.

    Selanjutnya, pertumbuhan luasan lahan perkebunan rakyat pada 2011—2016 sebesar 24%. Dan pertumbuhan perkebunan milik negara pada periode 2011—2016 mencapai 10,25%.

    Investasi Asing Tumbuh
    Melihat berkah yang besar, investor asing pun tak mau ketinggalan mencecap licinnya fulus dari bisnis sawit. Tengok saja, jika dilihat dari sumber investasinya, pertumbuhan penanaman modal asing (PMA) pada sektor perkebunan kelapa sawit maupun industri pengolahan lebih besar dibandingkan penanaman modal dalam negeri (PMDN).

    Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyebutkan, dalam kurun waktu 2010 hingga 2014, nilai realisasi investasi asing pada sektor perkebunan kelapa sawit tumbuh rata-rata 38%. Sementara, pertumbuhan realisasi investasi dalam negeri pada sektor perkebunan kelapa sawit tumbuh 16% pada kurun waktu yang sama.

    Pada periode yang sama, nilai realisasi investasi asing pada sektor industri pengolahan kelapa sawit di Indonesia tumbuh rata-rata 195%. Pertumbuhan realisasi investasi dalam negeri pada sektor industri pengolahan tumbuh rata-rata 176%.

    Sementara itu, sepanjang Semester I 2015, realisasi investasi perkebunan kelapa sawit mencapai Rp15,65 triliun, dengan rincian PMA Rp10,62 triliun dan PMDN Rp5,03 triliun. Sedangkan untuk realisasi investasi Industri pengolahan kelapa sawit mencapai Rp7,36 triliun, yakni PMA Rp1,56 triliun dan PMDN menyumbang Rp5,8 triliun.

    Tingginya porsi asing di sawit pun sempat membuat gerah beberapa pihak. Bahkan, Kementerian Pertanian sempat mengusulkan agar aturan investasi di sektor perkebunan diperketat dalam revisi Daftar Negatif Investasi (DNI) yang menjadi lampiran Peraturan Presiden Nomor 39 Tahun 2014 tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Terbuka dengan Persyaratan untuk Penanaman Modal.

    Dari 12 bidang usaha yang selama ini bisa dikuasai 95% oleh pemodal asing, 10 diantaranya direkomendasikan agar ditutup bagi investor luar negeri. Sementara penguasaan asing di dua bidang usaha lainnya diusulkan agar dipangkas jadi maksimal 49%.

    Salah satu bidang usaha tersebut adalah perkebunan kelapa sawit dan industri pengolahan minyak kelapa sawit (CPO). Bidang ini disarankan ditutup bagi pemodal asing dan hanya dibuka sepenuhnya untuk PMDN.

    Namun, usulan tersebut ditolak. Kantor Kemenko Perekonomian tetap memandang perlunya investasi asing di tengah situasi ekonomi sulit.

    Keberadaan asing di industri sawit ini dinilai wajar oleh Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Danang Girindrawardana. Menurutnya dominasi asing tak hanya ditemukan di industri kelapa sawit. Industri lainnya yang juga bertumbuh memiliki porsi investasi asing yang cukup besar, termasuk otomotif dan perbankan.

    “Jadi harus melihat secara komprehensif. Jangan hanya melihat di sawit,” ujarnya saat berbicang dengan Validnews, Kamis (7/12).

    Masuknya investasi asing ini bahkan dimulai sejak dahulu. Upaya untuk menggamit investor asing telah dilakukan sejak masa kepemimpinan Suharto. Lagi-lagi, upaya untuk mengundang investor asing ini tak hanya di sektor perkebunan kelapa sawit. Sektor lainnya, terutama yang padat modal, mengandalkan asing untuk berkembang.

    “Karena pada saat itu teknologi kita belum memadai untuk ekstensifikasi dan penanaman sawit. Jadi wajar saja adanya investasi asing. Dan itu masuknya legal, resmi, dizinkan oleh pemerintah Indonesia,” imbuhnya.

    Sementara itu, Pengurus Gapki Pusat yang juga mewakili Asian Agri Fadhil Hasan menilai, investasi asing dan lokal tak lagi bisa dipisahkan secara tegas. Kerja sama investor lokal dan asing membuat dua kubu itu kini menyatu.

    “Sekarang ini kan asing dan dalam negeri juga kan susah didefinisikan secara general. Seperti perusahaan Wilmar misalnya, dimiliki oleh orang Indonesia dan orang Malaysia. Tapi, dia kantornya itu di Singapura. Nah, ini perusahaan asing atau tidak? Kan kepemilikannya ada orang Indonesianya. Ada perusahaan lain yang dimiliki orang Indonesia, tetapi public listed-nya di Singapura. Jadi sekarang tidak bisa lagi mendefinisikan asal asing atau domestik karena membaur,” katanya kepada Validnews.

    infografis RENCANA VS REALISASI INVESTASI KELAPA SAWIT. Validnews/Arizar

    Pengembangan Hilir
    Adanya investasi asing dinilai Fadhil menguntungkan bagi industri sawit Indonesia. Masuknya investor asing berikut penguasaan teknologi dapat mendorong pengembangan industri hilir sawit.

    “Lebih banyak investasi asing dari sisi produk turunan akan lebih baik,” ujarnya.

    Kehadiran investasi asing pun dinilai Danang dapat mendorong tumbuhnya industri di dalam negeri. Pasalnya, investasi asing tersebut akan menarik minat pemain dalam negeri untuk juga menanamkan modalnya.

    Hal ini terlihat dari pengembangan oleo food, produk turunan sawit yang digunakan untuk industri makanan dan minuman. Menurutnya, industri oleo food tak memerlukan teknologi tinggi sehingga pemain lokal pun mampu menyusul dalam penguasaan teknologi tersebut.

    “Artinya, ini bagus dan belasan ribu tenaga kerja yang bisa terserap dari industri turunan ini,” ujar Danang.

    Ia pun mengharapkan hal serupa terjadi pada produk oleo chemical, produk turunan yang digunakan dalam berbagai industri. Produk ini digunakan mulai dari plastik, kaca mobil, kaca pesawat, fibber glass, hingga kemasan.

    “Sekarang untuk oleo chemical ini kita masih dominan produk ekspor. Jadi kita ekspor CPO, lalu dikembangkan di luar negeri, lalu kita impor. Ini karena perlu teknologi tinggi untuk pemrosesannya,” papar mantan Ketua Ombudsman Republik Indonesia (ORI) tersebut.

    Produk lain yang masih terus dikembangkan adalah biodiesel. Menurutnya, target Indonesia adalah memproduksi biodiesel B30, yakni campuran 30% minyak nabati pada solar. Saat ini Indonesia masih memproduksi biodiesel dengan campuran minyak nabati sebesar 20%.

    Dengan adanya investasi asing yang diiringi proses transfer teknologi, diharapkan ke depan Indonesia mampu mandiri dalam memproduksi turunan kelapa sawit baik oleo chemical maupun biodiesel.

    Karena itu ia berharap adanya upaya agar konsumsi dalam negeri untuk produk-produk tersebut meningkat sehingga mendorong tumbuhnya investasi. (Fin Harini, Teodora Nirmala Fau)