Amir Machmud, Jendral Loyalis Soeharto

  • Amirmachmud. (Wikipedia)
    Amirmachmud. (Wikipedia)

    JAKARTA –  Medio 11 Maret 1966, Istana Bogor menjadi saksi bisu dramatisnya sejarah sebuah perpindahan kekuasaan. Presiden Soekarno menandatangani Surat Perintah 11 Maret atau yang dikenal dengan Supersemar, yang kemudian menjadi titik balik berkuasanya Mayor Jenderal Soeharto menggantikan Sang Proklamator. Tidak ada yang tahu pasti apakah Soekarno menandatangani ‘surat sakti’ tersebut atau tidak, sejarah hanya mencatat Soekarno dilarikan ke Bogor setelah sidang kabinet 11 Maret 1966 di Jakarta.

    Versi yang banyak diketahui orang melalui sejumlah buku yang diterbitkan di era Soeharto menyebutkan, awalnya keluarnya Supersemar terjadi ketika Presiden Sukarno menggelar sidang pelantikan Kabinet Dwikora yang disempurnakan. Kabinet ini dikenal dengan nama “kabinet 100 menteri”.

    Saat itu Soekarno mengundang Pangdam Jaya Brigjen Amir machmud untuk menghadirinya. Sebelum pertemuan tersebut Soekarno sempat mananyakan ihwal keamanan kepada Amir, lalu dijawab ‘aman’ oleh Amir. Sukarno kemudian memulai pertemuan yang ditandai oleh ketidakhadiran Letnan Jenderal Suharto yang saat itu menjabat Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib).

    Amir Machmud adalah seorang Jenderal Militer Indonesia yang merupakan salah satu saksi mata penandatanganan Supersemar, sebuah dokumen serah terima kekuasaan dari Presiden Sukarno kepada Jenderal Suharto. Dalam buku yang berjudul Kontroversi Supersemar Dalam Transisi kekuasan Soekarno-Soeharto (2007), menceritakan bagaimana awal kisah bersejarah yang terjadi di Istana Bogor waktu itu.

    Sepuluh menit pertemuan berlangsung, Amir machmud didekati oleh Brigadir Jenderal Sabur, Komandan Resimen Tjakrabirawa. Sabur mengatakan bahwa ada pasukan yang tak dikenal di luar. Amir mengatakan kepada Sabur untuk tidak khawatir tentang hal itu.

    Ketika Bung Karno sedang membacakan pidato, tiba tiba Jenderal Sabur mengirimi nota ke Amir Mahmud dan memintanya keluar sebentar. Tapi Nota itu tak diindahkannya karena memang tak memungkinkan baginya keluar  begitu saja dari rapat yang dipimpin Presiden. Rupanya Brigjen Sabur tidak sabar dan tak mau ambil resiko, lalu dia menyampaikan sendiri nota ke Bung Karno.

    Mendapat laporan tersebut, Presiden Soekarno bersama Wakil Perdana Menteri I Soebandrio dan Wakil Perdana Menteri III Chaerul Saleh langsung berangkat ke Bogor dengan helikopter yang sudah disiapkan. Sementara Sidang akhirnya ditutup oleh Wakil Perdana Menteri II Dr.J. Leimena yang kemudian menyusul ke Bogor.

    “Saya lihat tangan Bung Karno gemetar membaca notanya, lalu berbicara dengan Subandrio. Setelah itu sidang diserahkan kepada Pak Leimena. Bung Karno tergopoh-gopoh meninggalkan istana, diikuti Subandrio dan Chaerul Saleh,“ ujar Amir dalam catatan tertulis dibuku tersebut.

    Penandatanganan Supersemar
    Situasi adanya serangan yang mengancam Presiden ini dilaporkan kepada Mayor Jendral Soeharto yang lalu mengutus tiga orang perwira tinggi (AD) ke Bogor untuk menemui Presiden Sukarno di Istana Bogor, yakni Brigadir Jendral M. Jusuf, Brigadir Jendral Amir machmud dan Brigadir Jendral Basuki Rahmat.

    Utusan itu pukul 13.00 WIB dan setibanya di Istana Bogor, terjadi pembicaraan antara tiga perwira tinggi AD dengan Presiden Soekarno mengenai situasi yang terjadi dan ketiga perwira tersebut menyatakan bahwa Mayjend Soeharto mampu mengendalikan situasi dan memulihkan keamanan bila diberikan surat tugas atau surat kuasa yang memberikan kewenangan kepadanya untuk mengambil tindakan. Dalam pertemuan tersebut, Sukarno sempat mengutarakan kemarahannya terhadap Amir  Machmud, yang selalu melapor bahwa keadaan aman.

    “Apanya yang aman? Demonstrasi berlangsung terus. Kau itu penanggung jawab keamanan Ibu Kota. Apa yang kau lakukan untuk menghentikan demonstrasi itu?” hardik Soekarno.

    Soekarno tak alpa menegur Basoeki Rahmat dan Jusuf.

    “Kalian juga tidak berbuat apa-apa,” tukasnya.

    Soekarno menuding ketiga jenderal itu sebenarnya berpura-pura dan ingin agar dirinya jatuh. 

    Namun tuduhan itu disangkal oleh ketiga jenderal tersebut.

    “Itu tidak benar, Pak. Tidak ada niat meninggalkan Bapak. Apalagi menjatuhkan Bapak. Kalau ada niat seperti itu, tentu kami tidak datang kemari,” kata Basoeki Rahmat membela diri.

    Bung Karno terdiam. Ia kemudian menanyakan kemungkinan jalan keluar dari situasi tersebut. Jusuf menyarankan agar Bung Karno memerintahkan Jenderal Soeharto untuk mengatasi keadaan.

    Amir Machmud menambahkan, “Ya, Pak. Tadi Pak Harto juga berpesan sanggup mengatasi keadaan, kalau Bapak Presiden memberikan kepercayaan kepadanya.”

    “Kepercayaan? Kepercayaan apa lagi yang harus kuberikan kepadanya? Jenderal Soeharto sudah kuangkat menjadi Panglima Pemulihan Keamanan dan Ketertiban. Tapi coba, sampai sekarang tidak aman dan tidak tertib,” jawab Bung Karno.

    “Mungkin diperlukan kepercayaan lebih lagi, Pak,” kata Amir Machmud.

    “Kepercayaan lebih bagaimana? Apa maksudmu?, “ timpal Sokerno.

    “Semacam surat perintah, misalnya,” sahut Amir Machmud.

    Soekarno pun terdiam. Matanya menatap tajam ketiga jenderal itu. Juga kepada Sabur, yang ikut hadir di situ. Akhirnya Bung Karno setuju. Keempat jenderal itu diperintahkannya membuat konsep surat perintah itu. Selembar kertas disodorkan ke Basoeki Rahmat. Jenderal kelahiran Tuban, Ja-Tim, yang dikenal pendiam itu lalu mengeluarkan pena. Ia mengucapkan “Bismillahirrochmanirrohim” lalu mulai menulis.

    'Surat Perintah'. demikian kalimat pertama yang ditulisnya. Konsep itu kemudian disampaikan Sabur kapada Bung Karno. Ia lalu memanggil ketiga Waperdam, Subandrio, Leimena, dan Chaerul Saleh, yang sudah ada di Istana Bogor, dan menanyakan pendapat mereka. Hanya Subandrio yang menjawab,

    “Kalau Bapak tanda tangani buntutnya akan panjang, Kalau bisa perintah lisan saja pak. Jangan tertulis,” kata Subandrio memberi saran.

    Mungkin karena tidak memperoleh kesepakatan bulat di antara para pembantu dekatnya, Bung Karno masuk ke kamar kerjanya. Waktu itu ia sudah memakai piyama biru dan memakai sandal Bata warna cokelat. Konon, ia sempat sembahyang. Sekitar satu jam Soekarno berada di kamar kerjanya. Setelah satu jam, konsep awal tadi sudah ada coretannya, dan dikembalikan kepada ketiga jenderal tersebut. Basoeki Rachmat kembali membuat konsep baru, yang kemudian disampaikan Sabur kepada Bung Karno.

    Akhirnya mereka berkumpul lagi di salah satu ruangan yang lebih besar. Pada pertemuan ini, Bung Karno telah memakai pakaian lengkap, baju putih. Lengan pendek, celana abu-abu, dan memakai pici. Yang hadir: ketiga jenderal tadi, tiga waperdam, dan Sabur yang tetap berdiri. Suasana agak tegang. Hasil rembukan itu diketik Sabur dengan kertas yang berkop Kepresidenan RI. Akhirnya mereka berkumpul di ruang makan Istana. Bung Karno membaca ketikan konsep yang telah disetujui bersama.

    “Bagaimana, Ban, kau setuju?” tanya Bung Karno kembali kepada Subandrio untuk memastikan langkahnya.

    “Kalau Bapak Presiden sudah setuju, saya setuju,” jawab Subandrio.

    Tiba tiba Bung Karno bertanya ke Amir Mahmud, sekali lagi meminta pendapat. Jelas ada keraguan dimata Bung Karno.

    “Sudahlah pak. Bismilahhirrrahmannirahim saja “ Jawab Sang Panglima.

    Akhirnya Bung Karno menandatangani surat yang kita kenal sebagai Supersemar sekarang ini.

    Setelahnya mereka kembali ke pavilyun Istana. Di ruang tamu, mereka mengobrol sejenak. Bung Karno didampingi Hartini duduk di sofa panjang, sedang ketiga jenderal duduk di depan mereka. Leimena duduk di sebelah kiri Bung Karno, sedang Subandrio dan Chaerul Saleh duduk di kanan Hartini. Sabur tetap berdiri. Di ruangan yang tak berjendela itu, semua pintunya dibuka. Muka-muka yang hadir tampak serius. Sekitar pukul 23.00 WIB, ketiga jenderal itu mohon diri, memberi hormat dan kemudian bersalaman dengan Bung Karno

    Dalam perjalanan pulang dari Bogor, ketiga jenderal itu sempat membaca kembali Supersemar dengan menggunakan senter. Amir Machmud sempat terkejut setelah menyadari surat perintah itu berarti penyerahan kekuasaan Presiden Soekarno kepada Jenderal Soeharto.

    Supersemar memang berisi pelimpahan wewenang kepada Jenderal Soeharto “untuk mengambil segala tindakan yang dianggap perlu, untuk terjaminnya keamanan dan ketenangan serta kestabilan jalannya pemerintahan dan jalannya revolusi, serta menjamin keselamatan pribadi dan kewibawaan Pimpinan Presiden/Pangti/PBR/Mandataris MPRS demi untuk keutuhan bangsa dan negara RI, dan melaksanakan dengan pasti segala ajaran PBR,” demikian isi surat tersebut.

    Tidak butuh waktu lama, ketika surat itu sampai di tangan Soeharto, Esoknya, Dia atas nama Presiden, mengeluarkan perintah harian kepada segenap jajaran ABRI dan mengumumkan kelahiran Supersemar. Perintah harian itu lalu disusul dengan Keputusan Presiden/Pangti ABRI/Mandataris MPRS/PBR Nomor 1/3/1966. Isinya: membubarkan PKI termasuk bagian-bagian organisasinya dari tingkat pusat sampai ke daerah serta semua organisasi yang seasas/berlindung/bernaung di bawahnya. PKI juga dinyatakan sebagai organisasi terlarang di seluruh RI. Akhirnya tuntutan rakyat agar PKI dibubarkan terlaksana.

    Berita itu segera tersebar. Bukti bahwa masyarakat menyambut gembira keputusan itu terlihat dari sambutan massa terhadap pawai kemenangan yang terjadi 12 Maret 1966 itu. Masyarakat di seluruh Indonesia juga menyambut meriah keputusan itu. Dan awal sebuah sejarah baru pun dimulai.

    Pada 13 Maret Sukarno memanggil Amir machmud, Basuki, dan Jusuf. Soekarno marah karena Suharto telah melarang Partai Komunis Indonesia (PKI) dan tiga jenderal mengatakan Supersemar tidak mengandung instruksi tersebut. Sukarno kemudian memerintahkan untuk membuat sebuah surat untuk memperjelas isi dari Supersemar tapi tidak ada yang pernah datang.

    Setahun pasca keluarnya Supersemar, Soeharto mengubah Indonesia dari era Orde Lama menuju era Orde Baru. Tepat pada tanggal 22 Februari 1967, Soekarno menyerahkan nakhoda pemerintahan Indonesia kepada Soeharto.

    Amir Machmud. (perpustakaan.madiunkab.go.id)

    "Penyapu" Oposisi

    Setahun sebelumnya, tepatnya pada Desember tahun 1965, Amir Machmud diangkat Panglima KODAM V/Jaya dan bertanggung jawab untuk keamanan Jakarta dan sekitarnya. Penunjukan Amirmachmud datang pada titik penting dalam sejarah Indonesia dan selama pengangkatannya itu Suharto mulai mengumpulkan dukungan politik dan momentum untuk menantang Sukarno. Amir Machmud, seperti kebanyakan rekan Angkatan Darat lainnya, melemparkan dukungan mereka di belakang Suharto.

    Pada awal tahun 1966, popularitas Sukarno menurun, cukup bagi orang untuk secara terbuka menentang dia melalui sarana protes. Yang paling vokal dari para demonstran adalah Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) yang pada tanggal 10 Januari menuntut agar PKI dilarang, simpatisan PKI ditangkap dan harga harus diturunkan, tuntutan mereka tersebut dikenal dengan nama Tritura. Amirmachmud dan Tentara mendukung, mendorong, dan melindungi demonstran. Untuk membuat hal-hal lebih praktis, Amirmachmud bersama dengan Umar Wirahadikusumah (Pangkostrad) dan Sarwo Edhie Wibowo (Komandan RPKAD) atas izin Kepala Staf Kostrad, Kemal Idris untuk mengambil kendali dari pasukan mereka yang sekarang terkonsentrasi di Jakarta.

    Ada dualisme terhadap sikap Amir pada titik ini. Secara politis, dia bersama Suharto, Angkatan Darat, dan demonstran anti-Soekarno. Namun pada saat yang sama, ia merasa bertanggung jawab untuk mencegah kekacauan dengan semua protes dan demonstrasi di Jakarta. Pada bulan Februari, Amir sebenarnya melarang protes di Jakarta. Larangan ini diabaikan.

    Ketika Soeharto menggantikan Soekarno dari kekuasaannya sebagai Presiden pada tahun 1967, Amir Machmud masih terus menjadi Panglima Kodam V/Jaya. Pada awal 1969, Basuki Rahmat, yang menjadi Menteri Dalam Negeri meninggal mendadak. Amir machmud kemudian dipindahkan dari jabatannya sebagai Panglima Kodam V/Jaya untuk mengambil tempat Basuki sebagai Menteri Dalam Negeri.

    Selama menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri, Amir Machmud memiliki reputasi sebagai “penyapu” oposisi dan pembangkang pemerintah. Ia mengembangkan hal tersebut sampai ke daerah hingga mendapat julukan sebagai "Buldoser". Cara Amir Machmud menangani orang-orang yang masuk penjara juga amat keras. Ia menduga orang-orang yang masuk penjara terlibat dengan PKI. Tahun 1981, ia bahkan memerintahkan agar para narapidana mendapatkan pengawasan secara khusus.

    Kedudukan Amir Machmud sebagai Menteri Dalam Negeri memperkuat kontrol sosial Soeharto di Indoensia. Amir Machmud adalah menteri yang melarang Pegawai Negeri Sipil (PNS) terlibat aktif secara politik, kebijakan itu diumumkannya pada tahun 1969. Akan tetapi, ketika pemilu tiba, sikapnya berbanding terbalik dengan keputusan sebelumnya, Amir Machmud malah mendorong PNS agar memilih Golkar sebagai tanda kesetiaan kepada pemerintah. Terang saja, pada masa Pemilu Legislatif, PNS berbondong-bondong memilih tokoh dari partai Golkar. Pemilu legislatif tahun 1971, 1977, dan 1982 diselengarakan di bawah pengawasan Amir Machmud.

    Pengaruh Amir Machmud tak berhenti sampai di sana saja, tahun 1971, Amir Machmud mengambil peran penting dalam pembentukan Korps Pegawai Republik Indonesia (KORPRI).

    Karirnya di birokrasi memperlihatkan kekuasaan yang tinggi. Amir Machmud terpilih menjadi ketua MPR pada tahun 1982. Pada saat itu, ketua MPR juga merangkap sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat. Maka sudah pasti, kedua lembaga krusial negara itu menjadi satu tubuh dengan pemikiran Amir Machmud.

    Ketika Sidang Umum MPR 1983 berlangsung, di bawah kepemimpinan Amir Machmud, sidang menghasilkan keputusan Soeharto menjadi preisden keempat kalinya. Diputuskan pula, Umar Wirahadikusumah menjadi Wakil Presiden.

    Di bawah kepemimpinan Amir Machmud, MPR memutuskan memberi anugerah kepada Soeharto dengan gelar "Bapak Pembangunan.” Gelar tersebut diberikan berdasarkan pada kinerja pembanguann yang berhasil dikembangkan sekaligus dikontrol Presiden Soeharto saat itu.

    Menjadi ketua MPR dan DPR ternyata merupakan jabatan terakhir Amir Machmud semasa hidupnya. Ia meninggal pada tanggal 21 April 1995. Ia meninggalkan seorang istri dan dua orang anak. Jenderal bintang empat ini juga telah memiliki sepuluh orang cucu sebelum meninggal.(Benny Silalahi)