Adinegoro, Calon Dokter Jadi Tokoh Pers

  • Djamaluddin Adinegoro
    Djamaluddin Adinegoro

    JAKARTA – Sehari sebelum peringatan Hari Pers Nasional (HPN), yakni pada 8 Februari 2018, Presiden Joko Widodo menyerahkan sertifikat tanah kepada ahli waris dari pionir pers Indonesia Djamaluddin Adinegoro. Tanah tersebut dimaksudkan untuk pembangunan Museum Adinegoro.     

    Jokowi juga menyampaikan, penyerahan sertifikat tanah seluas 2.459 meter persegi tersebut merupakan landasan untuk membangun museum demi mengingat sejarah tokoh pers Adinegoro. Sekaligus mengabadikan jasa Adinegoro dan nilai-nilai jurnalistik yang ditanamkannya bagi pembangunan pers dan kesusastraan Indonesia.

    “Adinegoro adalah tokoh pers besar dan sangat mempengaruhi dalam penulisan, dalam kesusastraan kita. Tentu saja nanti kesejarahan dari Adinegoro akan diabadikan di dalam museum yang ada,” ujar Presiden seperti dikutip Antara, Kamis (8/2).

    Insan pers masa kini mungkin hanya mengenal Adinegoro sebagai sebuah penghargaan tertinggi bagi karya jurnalistik di Indonesia yang disebut Hadiah Adinegoro. Atau, sekarang lebih dikenal dengan Anugerah Adinegoro. Pemberian penghargaan tertinggi untuk karya jurnalistik ini mulai diselenggarakan pada tahun 1974 oleh Yayasan Hadiah Jurnalistik Adinegoro di bawah naungan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

    Juga, mungkin tak banyak yang tahu bahwa Adinegoro -- yang dianugerahi gelar Perintis Pers Indonesia pada tahun 1974 --  adalah orang Indonesia pertama yang menempuh kuliah jurnalistik di Jerman pada tahun 1926. Menyusul kemudian beberapa wartawan Indonesia lainnya yang secara formal mempelajari ilmu publisistik di Jerman, yakni M. Tabrani dan Jahja Jakub.

    Untuk perjalanan studinya ini, ia menulis buku Melawat ke Barat yang juga bisa dikatakan sebagai buku pertama yang berisi kisah perjalanan wartawan Indonesia ke luar negeri.

    Catatan yang dibukukan tersebut awalnya merupakan tulisan yang dikirimkan oleh Adinegoro ke majalah Pandji Poestaka, milik Balai Poestaka, yang pada masa itu (masa penjajahan Belanda), merupakan lembaga penerbitan satu-satunya. Maka wajar kemudian tulisan tersebut diteruskan setelah masa kemerdekaan, menjadi sebuah naskah novel pada tahun 1930.

    Jasa dan sumbangan Adinegoro bagi Nusantara tidaklah sedikit. Lebih dari setengah hidup Adinegoro didarmabaktikan untuk keperluan jurnalistik. Adinegoro bukanlah seorang orator, tokoh yang pandai membakar semangat bangsa dengan lihainya berpidato, atau mampu memengaruhi massa dengan suara yang menggelegar, seperti saudaranya Muhamad Yamin.

    Namanya juga tidak pernah tersiar sebagai seorang politikus yang mahir bersilat lidah dalam mempertahankan pendirian. Adinegoro lebih dikenal sebagai wartawan, pengarang, ahli pikir yang cemerlang, ahli pembuat laporan perjalanan, tukang menganalisis politik luar dan dalam negeri, dan tulisannya mampu mendapatkan perhatian sendiri di hati pembacanya.

    Nama Samaran
    Nama sesungguhnya adalah Djamaluddin gelar Datuk Maradjo Sutan, seorang urang awak dari tanah Minang, Sumatra Barat. Nama Adinegoro sebenarnya adalah nama pena atau nama samaran yang disarankan oleh temannya, Landjumin Datuk Tumenggung, yang juga memiliki nama pena Nitinegoro.

    Djamaluddin merupakan adik sastrawan Muhammad Yamin. Mereka saudara satu bapak, tetapi lain ibu. Ayah Adinegoro bernama Usman gelar Baginda Chatib dan ibunya bernama Sadarijah, sedangkan nama ibu Muhammad Yamin adalah Rohimah.

    Adinegoro terpaksa memakai nama samaran karena ketika bersekolah di Stovia ia tidak diperbolehkan menulis. Padahal, pada saat itu keinginannya menulis sangat tinggi. Karena itu, dipakainyalah nama samaran Adinegoro tersebut sebagai identitasnya yang baru. Ia pun dapat menyalurkan keinginannya untuk memublikasikan tulisannya tanpa diketahui orang bahwa Adinegoro itu adalah Djamaluddin gelar Datuk Maradjo Sutan.

    Adinegoro lahir pada 14 Agustus 1904 di Talawi, Sumatra Barat dengan nama Djamaluddin. Karena ayahnya adalah seorang residen di Indrapura maka Adinegoro kecil berhak masuk ke Europeesche Lagere School atau ELS (sekolah rendah yang dikhususkan untuk anak-anak Belanda) pada tahun 1911. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Hollandsch Inlandsche School (HIS) di Palembang.

    Setelah menyelesaikan pendidikan di HIS Palembang, atas dorongan keluarganya, Djamaluddin masuk ke School Tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) di Batavia. Karena, sanag ayah mengharapkan ia menjadi dokter. Namun, pada saat di STOVIA inilah Adinegoro mulai menunjukkan minatnya yang besar pada dunia tulis menulis.

    Dari kegemarannya membaca, Djamaluddin tertarik ingin mengemukakan pendapat dan buah pikirannya di surat kabar. Tulisannya untuk pertama kali dimuat di Tjahaja Hindia, sebuah majalah yang diterbitkan oleh Landjumin Datuk Tumenggung. Tulisannya terus mengalir dan selalu mencantumkan “Dj”, sebagai kependekan dari Djamaluddin.

    Memahami minat Djamaluddin, Landjumin pun memberi dorongan kepada anak muda yang ada di hadapannya. Tak hanya dukungan moral, Landjumin juga membagi kiat yang ia miliki.

    Kala itu jika membuat tulisan, Landjumin selalu mencantumkan nama Notonegoro. “Untuk menarik pembaca dari kalangan orang Jawa,” begitu alasan Landjumin. Djamaluddin pun disarankan agar melakukan hal yang sama. Karena itu, setiap kali mengirimkan artikel ia selalu mencantumkan nama Adinegoro.

    Minatnya yang tinggi pada dunia tulis menulis pun akhirnya menjadikan Djamaluddin sebagai pembantu tetap koran Tjahaja Hindia.

    Kegemarannya dalam menuangkan isi pikirannya ke dalam tulisan, akhirnya membuat Adinegoro keluar dari sekolah kedokteran tersebut dan memutuskan untuk sekolah ke Eropa mendalami ilmu publisistik.

    Melawat ke Barat
    Melalui buku Melawat ke Barat, Adinegoro menuturkan perjalanannya ke Eropa yang pada waktu itu hanya bisa dilakukan menggunakan kapal laut. Tak kurang dari tiga minggu ia habiskan di atas kapal kala itu. Tujuan akhir Adinegoro sebenarnya adalah Jerman, namun di tengah jalan, dia memutuskan turun di Prancis, untuk bisa mengunjungi sejumlah kota di sana. Perjalanan ini dituangkan ke dalam Melawat ke Barat jilid pertama.

    Ia lantas pergi ke Belanda dengan menggunakan kereta, dan menyusuri sejumlah kota di Belgia dan Belanda, sebelum sampai pada tujuan akhir di Jerman. Perjalanan dengan kereta besi ini ia tuangkan dalam Melawat ke Barat jilid kedua.

    Perjalanan laut ini dimulai dari pelabuhan Tanjung Priok di Batavia atau sering disebutnya sebagai Hindia (dari Hindia Belanda, nama resmi yang diberikan pemerintah kolonial Belanda, sebelum kita menyebutnya sebagai Indonesia). Dengan rute Batavia–Singapura–Selat Malaka–Medan–Sabang–Laut Hindia–Laut Merah–Suez–Port Said–Lautan Tengah–Eropa Selatan–Italia–Perancis.

    Sayangnya, Adinegoro tak menulis berdasarkan tanggal tertentu. Dia menulis dengan mengalir saja, tanpa memberikan catatan soal waktu, walau dia tulis secara kronologis tempat-tempat yang dia lewati tersebut. Naskah ini pun bukan semacam diary, atau catatan harian, karena apa yang dirasakan oleh Adinegoro tak mudah terlihat dalam tulisannya.

    Misalnya, siapa yang membiayai perjalanan ke Eropa apakah biaya dari keluarganya, atau pun beasiswa dari Jerman, tak cukup jelas. Soal perasaan tak muncul di sana kecuali satu dua hal kecil. Pun dia tidak menjelaskan mengapa untuk jurnalistik dia lebih tertarik mengambil di Jerman ketimbang di Belanda misalnya.

    Ketika kapal beberapa kali melabuh di sejumlah tempat seperti Singapura, Sabang, Malaka, Suez, dan lain-lain, dia menyempatkan diri untuk turun ke darat, berjalan-jalan, melihat-lihat apa yang menarik di kota tersebut dan terkadang dia membeli buku, masuk ke museum, perpustakaan, bercakap-cakap dengan orang setempat, dan lain-lain. Jadi perjalanan fisik membuat Adinegoro melakukan perjalanan rohani sendiri dengan segala pengetahuan dan apa yang dia lihat itu.

    Yang menarik adalah uang yang dia bawa dari Hindia Belanda rupanya bernilai sangat tinggi terutama ketika ditukarkan dengan franc Prancis. Ekonomi Perancis saat itu merosot dan nilainya kalah dengan gulden Belanda. Adinegoro mencatat bahwa 1 “roepiah” yang dia bawa bernilai sama dengan 20 franc dan itu artinya dia bisa makan enak dan mewah di Prancis dengan harga yang murah.

    Di Eropa, Adinegoro juga belajar tentang geografi dan kartografi di Wuerzburg dan geopolitik di Munchen, Jerman. Ilmunya soal perpetaan ini berguna ketika pecah Perang Dunia II, Adinegoro sendiri yang menggambarkan peta pergerakan perang itu, dan hal ini ternyata sangat disukai oleh para pembaca.

    Tak lupa, sembari menyelesaikan pendidikannya, Adinegoro juga membuat dua novel yang berhasil mengharumkan namanya sebagai sastrawan, selain wartawan. Keduanya berjudul Darah Muda dan Asmara Jaya, yang menceritakan kondisi sosial masyarakat Minangkabau beserta adat istiadat dan konflik di dalamnya.

    Tidak seperti novel-novel lain angkatan Balai Pustaka yang hanya memaparkan kehidupan masa kecil tokoh yang ada dalam cerita, Adinegoro dengan tegas berani menyatakan keberpihakannya pada kaum muda.

    Perjalanan Karir
    Setelah kembali ke tanah air pada tahun 1931, Adinegoro memimpin majalah Panji Pustaka (Jakarta) selama enam bulan, kemudian pindah ke Pewarta Deli (Medan). Setelah sebelumnya menjadi wartawan lepas (freelance) di surat kabar Pewarta Deli (Medan), Bintang Timur, dan Panji Pustaka (Jakarta), saat masih menempuh masa pendidikannya di Jerman.

    Lalu pada masa pendudukan Jepang, 1942, Adinegoro dipercaya memimpin harian Sumatra dengan titel Jepang, Sumatra Shimbun selama dua tahun. Dan ketika masa kemerdekaan, Adinegoro dipercaya sebagai wakil pemerintahan RI urusan penerangan di Sumatra. Di tahun 1947, Adinegoro bersama Soepomo, H. B. Jassin mendirikan Yayasan Dharma; memajukan Indonesia dengan penerbitan, dengan Mimbar Indonesia sebagai jagoannya.

    Adinegoro juga diberi kesempatan meliput Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Hag pada tahun 1949. Dan Adinegoro juga berkesempatan mendirikan Djambatan, sebagai penghubung dua pihak yang berseteru, yakni Indonesia dan Belanda dengan saling pengertian melalui buku.

    Kemudian pada tahun 1951 Adinegoro diminta untuk memimpin Aneta. Di tahun 1956 Adinegoro berhasil menasionalisasikan Aneta dengan berubah nama menjadi Persbiro Indonesia. Adinegoro juga berkesempatan melawat ke Moskow bersama rombongan Presiden Soekarno, meliput sidang PBB soal Irian Barat di Amerika 1957 dan ketika Persbiro Indonesia digabungkan dengan Antara, Adinegoro diberi posisi sebagai dewan pengawas dan anggota dewan pemimpin (1963).

    Pada masa inilah Adinegoro mulai mengalami masa-masa kemunduran. Namanya mulai tenggelam. Dalam posisinya, Adinegoro tidak pernah dihargai oleh dewan pimpinan Antara. Adinegoro yang selalu menduduki posisi pertama di Perwata Deli, Sumotra Shimbun, Mimbar Indonesia, Kedaulatan Rakyat, tidak pernah diajak berembug untuk membantu memutuskan masalah.

    Puncak rasa frustasi Adinegoro tatkala Adinegoro tidak dimintai pendapat sebagai dewan penyeleksi, ketika pemimpin Antara hendak mengirim beberapa tenaga ahlinya ke barat. Astrid, salah satu putri Adinegoro begitu terpukul ketika melihat ayahnya hanya diberikan ruangan kecil dengan penerangan yang cukup, dan ditempatkan di bagian belakang kantor dekat kamar mandi dan mesin cetak.

    Adinegoro yang melihat duka putrinya marah besar dan memintanya pulang serta tidak menceritakan hal tersebut pada siapapun. Rasa frustasi berat dan tubuh yang telah dimakan usia, membuat Adinegoro jatuh sakit-sakitan. Tubuhnya tak lagi kuat seperti 30 tahun yang lalu, yang berani berpetualang hingga ke negeri Eropa.

    Dan pada 8 Januari 1967, Adinegoro sebagaimana Soebagijo I. N. menulis sebagai Pelopor Jurnalistik Indonesia menghembuskan napas terakhirnya dalam umur yang relatif muda 63 tahun. Bukan rumah megah yang Adinegoro tinggalkan. Bukan pula mobil mewah serta harta melimpah yang ia wariskan, namun keluarganya mendapatkan harta yang tidak ternilai berupa ribuan buku yang berisi aneka ragam ilmu dan ditulis dalam aneka ragam bahasa.

    Pemerintah tidak melupakan jasa-jasanya. Pada tahun 1974 Adinegoro dianugerahi gelar Perintis Press Indonesia. Dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) sebagai badan tertinggi insan press nasional, menyediakan tanda penghargaan tertinggi bagi karya jurnalistik terbaik setiap tahunnya. Ya benar, dalam tiap tahun, karya terbaik insan jurnalistik nasional yang terpilih, akan diganjar dengan Hadiah Adinegoro.

    Mendirikan sekolah
    Ketika Adinegoro pindah ke Jakarta setelah masa revolusi itu, pada tahun 1951 dia mendirikan Yayasan Persbiro Indonesia dan mendirikan Perguruan Tinggi Publisistik yang kemudian berubah nama menjadi Sekolah Tinggi Publisistik. Dan kemudian diperluas menjadi Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP), sekarang bertempat di Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Ia juga ikut membangun Fakultas Publisistik (Jurnalistik) di Universitas Padjajaran, Bandung.

    Kontribusi lain yang diberikan Adinegoro pada Indonesia adalah pembuatan peta berbahasa Indonesia. Pada tahun 1950, atas ajakan koleganya Mattheus van Randwijk, Adinegoro membuat atlas pertama berbahasa Indonesia. Atlas tersebut dibuat dari Amsterdam, Belanda bersama Adam Bachtiar dan Sutopo.

    Dari mereka bertiga, terbitlah buku Atlas Semesta Dunia pada tahun 1952. Inilah atlas pertama yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia sejak Indonesia merdeka. Pada tahun yang sama setelah atlas itu muncul, mereka juga menerbitkan Atlas Semesta Dunia untuk Sekolah Landjutan.

    Selain itu, Adinegoro juga menerbitkan ensiklopedia lengkap pertama dalam bahasa Indonesia pada tahun 1954. Maka semakin pantaslah ia dikenang dan dibuatkan museum. (Berbagai Sumber, Zsazya Senorita)