MIMPI BERDIKARI OTOMOTIF DALAM NEGERI

ANGKOT-BAJAJ-BEMO: SERANGAN BALIK BUAT JAKARTA

Transportasi umum yang bertujuan awal mengurai kemacetan ibukota belakangan justru menambah ruwetnya lalu lintas berkat jumlah dan variannya yang terlampau banyak.

  • Ilustrasi. angkutan umum. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
    Ilustrasi. angkutan umum. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar

    Oleh: Sita Wardhani S, SE, MSc** dan Novelia, M.Si*

    Siapa sih, penduduk Jakarta yang tidak pernah berhadapan dengan kemacetan? Kini rasanya lalu lintas yang padat sudah sangat melekat pada citra ibukota Indonesia ini. Jangankan di jalan-jalan besar di mana pusat perkantoran banyak berada, bahkan di jalan-jalan tikus yang menjadi alternatif pun kini berbagai kendaraan harus mengantre panjang.

    Jalanan yang macet tersebut dihiasi beragam kendaraan, metromini, bus patas, dan yang tidak kalah banyak dan umumnya mendominasi adalah berbagai kendaraan pribadi, baik mobil maupun motor. Sayang, banyak kendaraan pribadi yang hanya diisi satu-dua orang saja. Padahal, akan lebih baik bagi lalu lintas bila mereka menggunakan transportasi umum yang dapat mengangkut penumpang-penumpang secara massal.

    Kondisi macet ibukota yang semakin parah membuat pilihan untuk menggunakan transportasi umum menjadi salah satu solusi. Berbagai transportasi umum seperti beragam bus besar maupun kecil diharapkan dapat mengurai kepadatan lalu lintas. Namun, bagaimana bila transportasi-transportasi umum itulah yang turut andil dalam menambah kemacetan?

    Sepi Penghuni, Angkot Kini
    Transportasi publik mungkin memang ditujukan untuk membantu mengurai kemacetan. Namun, bila terlampau bervariasi dan jumlah tiap jenisnya sangat banyak, ia justru menjadi sumber frustrasi baru. Dalam diagram di bawah, terlihat beragamnya angkutan umum yang ada di ibukota dengan jumlah unit masing-masing mencapai ribuan. Pada bus kecil (angkot), bajaj, kancil, dan taksi, jumlahnya bahkan mencapai belasan dan puluhan ribu unit.

     

    Seperti tersaji pada diagram di atas, dapat dilihat bahwa jumlah bus kecil, atau angkot, yang terdiri dari beragam mikrolet, KWK/APK, dan APB, termasuk jenis angkutan umum yang jumlah unitnya paling banyak, yaitu mencapai 13.690 unit. Kondisi ini menarik, mengingat pada masa-masa sekarang jenis transportasi ini rasanya sudah tidak terlalu efektif mengurangi kemacetan.

    Tidak efisien bagaimana? Coba kita lihat di jalan-jalan yang dilewati angkot-angkot tersebut. Apakah transportasi umum ini selalu terisi penuh? Lebih sering tidak, bahkan pada jam sibuk sekalipun. Angkot yang apabila penuh dapat terisi sebelas hingga dua belas penumpang akhir-akhir ini biasanya hanya terisi tiga hingga lima orang saja sekali jalan. Apabila jumlah armada angkot banyak namun isinya kosong melompong, bukankah justru lebih berkontribusi pada kemacetan?

    Kondisi ini diperparah dengan banyaknya sopir angkutan umum ini yang tidak patuh terhadap rambu lalu lintas. Bukan rahasia lagi bila angkot seringkali terlihat berhenti di sembarang pinggiran jalan, bahkan tak jarang ‘ngetem’, dalam waktu yang cukup lama.  Sehingga, juga, menghambat lalu lintas.

    Peremajaan Bajaj dan Bemo
    Bukan hanya angkot saja, jumlah bajaj pada tahun 2015 juga patut menjadi sorotan. Jumlah transportasi roda tiga ini jika digabung dengan kancil yang sempat digadang menjadi penggantinya, bahkan lebih banyak dari angkot, yaitu mencapai 14.043 unit. Bersama bemo,  keberadaan bajaj juga menambah ramainya variasi transportasi publik Jakarta.

    Bajaj, sebuah angkutan umum yang namanya diambil dari sebuah perusahaan otomotif India ini telah bergabung dengan deru lalu lintas ibukota sejak 1975 (Dewi, 2017). Impor bajaj dari negara asalnya tersebut akhirnya dihentikan pada tahun 1980 karena jumlahnya yang sudah membludak di Jakarta saat itu, yakni 13.335 unit.

    Jumlah bajaj di Jakarta ini tak banyak bergeser tajam, bahkan hingga kini. Dalam grafik di bawah misalnya, terlihat bahwa gabungan jumlah unit bajaj dan kancil selama periode 2012-2015 berkisar pada angka 14.000-an. Sementara, catatan terdekat, pada pertengahan 2017 jumlah bajaj sendiri di Jakarta mencapai 14.600 unit.

     

    Bicara soal bajaj, sebenarnya transportasi umum ini dianggap cukup efektif bagi masyarakat yang membutuhkan moda transportasi jarak dekat dan tanpa trayek. Namun di sisi lain, si oranye roda tiga ini pula penyumbang berbagai polusi di jalan. Tak hanya polusi udara, tapi juga suara. Kepul asap yang dikeluarkan bajaj bahkan tidak memenuhi persyaratan emisi gas buang yang berlaku di Indonesia (Dewi, 2017). Belum lagi suara bising yang berasal dari mesinnya yang sangat mengganggu ketenangan.

    Menyadari efek buruk bajaj, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sempat menghadirkan jenis kendaraan baru untuk menggantikan bajaj. Kancil namanya. Sayang, solusi ini tidak disambut hangat oleh para pemilik bajaj karena harga Kancil yang mahal - mencapai Rp 30 juta per unit. Mobil mini pengangkut penumpang ini pun akhirnya meredup kepopulerannya.

    Pada akhirnya pemerintah memutuskan untuk tetap menggunakan bajaj, namun dengan melakukan peremajaan. Mesin 2-tak 150 cc yang sebelumnya digunakan, diganti dengan mesin 4-tak yang lebih tidak berisik dan berbahan bakar gas, sehingga bersifat ramah lingkungan. Pada tahun 2015, Dinas Perhubungan dan Transportasi DKI Jakarta (Dewi, 2017) menyatakan bahwa 7.000 unit bajaj dengan mesin 2-tak telah dimusnahkan, menyisakan 1000 unit yang masih beraktivitas.

    Berbeda lagi dengan bemo. Terhitung tanggal 6 Juni 2017, dikeluarkan Surat Edaran Dinas Perhubungan DKI Jakarta Nomor 84 Tahun 2017 tentang pelarangan sarana transportasi ini untuk beroperasi di ibukota. Pelarangan ini dilakukan berdasar alasan tidak masuknya bemo pada kategori angkutan umum dari faktor usia kendaraan, serta tidak dilengkapi surat tanda nomor kendaraan (STNK) bermotor.

    Sebagai pengganti bemo yang telah dilarang, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kemudian melaksanakan program angkutan pengganti bemo. Secara fisik, angkutan umum yang diberi nama Qute ini mengingatkan kita dengan Kancil, lebih rapi dan nyaman bagi penumpangnya. Sarana transportasi ini juga dikenal dengan sebutan bajaj roda empat karena sekaligus juga menjadi bagian program peremajaan bajaj. Bagaimanapun, meski pemolesan dan peremajaan terus dilakukan terhadap bajaj, baik dalam hal fisik maupun mesin, tetap saja bajaj asli yang beroda tiga masih banyak ditemukan berkeliaran di jalan-jalan ibukota.

    Ilustrasi. Bajaj Qute. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar

     

    Nyaman Namun Boros Ruang Jalan
    Meski berbentuk mobil mini dan sekilas nampak seperti kendaraan umum yang bersifat privat seperti taksi dan bajaj, sistem pengoperasian Qute justru dilakukan dengan prinsip berbagi tempat duduk dengan penumpang lainnya seperti yang dilakukan bus dan angkot. Bila dilihat dari sudut pandang penumpang, hal ini agak menguntungkan karena waktu ‘ngetem’ Qute tentunya akan lebih singkat, karena kapasitasnya yang hanya berisi maksimal tiga penumpang.

    Permasalahannya, sedikitnya penumpang yang bisa diangkut oleh Qute juga menjadi kegalauan. Pasalnya, meski berstatus pengganti bemo, jumlah tiga penumpang yang dapat diangkut satu buah Qute justru lebih sedikit dari bemo asli yang dapat menampung hingga tujuh penumpang dalam sekali perjalanan.

    Dengan kata lain, bila diproduksi secara besar-besaran dan menggantikan bemo, angkutan umum ini justru dinilai kurang efektif dan hanya akan memenuhi ruang jalan di ibukota. Kondisi ini tentu saja tidak seirama dengan semangat mengurai kemacetan Jakarta melalui pembangunan infrastruktur moda transportasi massal. Pemerintah rasanya perlu mengkaji ulang beberapa program transportasi umum dan peremajaannya. Jangan sampai maksud baik mengurai benang kusut kemacetan dengan memberikan berbagai varian angkutan umum justru menjadi serangan balik bagi kondisi lalu lintas ibukota.

    **) Peneliti Utama Visi Teliti Saksama dan Staf Pengajar FEB UI
    * ) Peneliti Junior Visi Teliti Saksama

     

    Referensi:

    Bappenas. "Sustainable Urban Transport Development in Indonesia." Transport and Climate Change Week. Berlin, Jerman: Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), September 18, 2017.

    BPS Provinsi DKI Jakarta. Jakarta Dalam Angka 2013. Jakarta: BPS Provinsi DKI Jakarta, 2013.

    BPS Provinsi DKI Jakarta. Jakarta Dalam Angka 2014. Jakarta: BPS Provinsi DKI Jakarta, 2014.

    BPS Provinsi DKI Jakarta. Jakarta Dalam Angka 2015. Jakarta: BPS Provinsi DKI Jakarta, 2015.

    BPS Provinsi DKI Jakarta. Jakarta Dalam Angka 2017. Jakarta: BPS Provinsi DKI Jakarta, 2017.

    Dewi, Isny. Eksistensi Bajaj di Jakarta Dari Tahun ke Tahun. Juli 10, 2017. https://checkinjakarta.id/index.php/read/eksistensi-bajaj-di-jakarta-dari-tahun-ke-tahun (accessed Maret 7, 2018).