LIMBUNG BERDAULAT DI DUNIA MAYA

ALTERNATIF PEMBIAYAAN BISNIS DI ERA DIGITAL

Crowdfunding sudah dilakukan oleh Beethoven dan Mozart. Kedua komposer ini melakukan crowdfunding untuk membiayai  konser dan pembuatan komposisi, dengan imbalan akses pertama terhadap hasil karya mereka .

  •  ilustrasi patungan kontibusi. (Pixabay)
    ilustrasi patungan kontibusi. (Pixabay)

    oleh : *Sita Wardhani SE, MSc dan **Cintya, SE

    Masih ingat dengan cerita Koin Peduli Prita? Sebuah kejadian yang terjadi di pertengahan tahun 2008. Bermula dari ketidak puasan Prita terhadap layanan dari sebuah RS bertaraf Internasional, yang berujung pada tuntutan pencemaran nama baik. Pihak RS memenangkan perkara, dan Prita diharuskan membayar denda sebesar Rp204 juta.

    Kasus ini pun menjadi viral dan menggerakan keprihatinan netizen dengan berinisiatif mengumpulkan koin Rp500 untuk membantu Prita. Gerakan yang semula beredar melalui mailing list, kemudian semakin besar cakupannya setelah disebarkan melalui media social, yaitu Facebook dan Twitter, dengan tagar #freeprita.

    Bentuk pengumpulan dana atau crowdfunding inilah yang juga banyak dilakukan oleh pelaku bisnis sebagai alternatif untuk pendanaan. Crowdfunding sudah banyak dilakukan di luar negeri untuk mendanai sebuah proyek yang berorientasi profit.

    Aksi urun dana sudah lama dilakukan, namun lebih banyak dilakukan untuk tujuan sosial. Misalnya urun dana untuk membangun tempat ibadah; urun dana ketika terjadi musibah di suatu tempat, koin peduli Prita, koin peduli Bilqis, dan berbagai aksi sosial pengumpulan koin lainnya yang sudah sering kita dengar.

    Asal Mula Crowdfunding Untuk Pembiayaan Proyek
    Pembiayaan usaha melalui crowdfunding awalnya banyak dilakukan oleh industri kreatif, seperti untuk membiayai pembuatan album musik, pembuatan film atau konser. Bahkan diceritakan bahwa crowdfunding ini sudah dilakukan oleh Beethoven dan Mozart. Kedua komposer ini melakukan crowdfunding untuk membiayai  konser dan pembuatan komposisi, dengan imbalan akses pertama terhadap hasil karya mereka.

    Seiring dengan perkembangan internet dan media sosial, crowdfunding semakin banyak digunakan sebagai alternatif pembiayaan sebuah kegiatan. Proses pengumpulan dana dilakukan melalui platform, sehingga memungkinkan mereka yang membutuhkan dana untuk terhubung dengan investor dalam cakupan yang lebih luas.

    Platform ini merupakan website dimana pemilik ide mempromosikan proyek yang butuh didanai. AS merupakan negara yang telah banyak menggunakan crowdfunding sebagai sumber dana. Platform yang terkenal adalah Indiegogo dan Kickstarter.

    Pelaku bisnis yang ingin mendapatkan pendanaan harus mengirimkan proposal bisnisnya ke platform yang mereka inginkan beserta rincian dana yang mereka butuhkan. Proses selanjutnya adalah pihak dari crowdfunding akan melakukan review atas proposal bisnis yang masuk dan akan menampilkan bisnis yang telah disetujui pada website mereka.

    Jenis-Jenis crowdfunding
    Secara umum urun dana atau crowdfunding ini didefinisikan sebagai kegiatan pencarian dana secara terbuka melalui internet untuk sebuah inisiatif, dimana si pencari dana dapat memberikan atau tidak memberikan imbalan kepada penyumbang dana. Imbalan dapat diberikan dalam bentuk moneter maupun non-moneter.

    Menurut The Economist, di tahun 2014, pendanaan melalui skema crowdfunding mengalami pertumbuhan yang pesat. Sektor yang mendapatkan pendanaan pun tidak melulu di industri kreatif. Bahkan bisnis startup merupakan sektor yang megnalami pertumbuhan pesat untuk pendanaan crowdfunding ini.

    Fakta lain terkait crowdfunding ini adalah di tahun 2014, total dana yang didapatkan melalui crowdfunding mencapai US$16.2 miliar. Asia mengalami pertumbuhan tertinggi, sebesar 320% (dana yang terkumpul US$3.4 miliar), dan AS merupakan negara dengan jumlah pendanaan melalui crowdfunding tertinggi.

    Crowdfunding menjadi alternatif pendanaan bagi pelaku yang kesulitan mengkases pinjaman dari bank, atau tidak memiliki akses ke modal ventura atau angel investor.

    Crowdfunding dapat dibedakan menjadi 4 kategori utama, yaitu (Husain & Root, 2015):

    1. Donation-based

    Dalam model crowdfunding ini, uang dikumpulkan untuk tujuan donasi. Pemberi dana atau investor tidak mengharapkan imbal hasil baik dalam bentuk finansial maupun non-finansial. Kebanyakan crowdfunding model ini digunakan untuk mendanai kegiatan sosial.

    2. Reward-based

    Dalam crowdfunding jenis ini, pemberi dana akan mendapatkan imbalan dalam bentuk non-finansial. Bentuk reward yang diberikan dapat berupa barang-barang, seperti kaos dan sticker. Selain itu, salah satu bentuk reward yang sering diberikan kepada investor adalah mereka bisa membeli produk dari bisnis yang didanai sebelum diluncurkan ke pasar dengan harga yang lebih murah atau dengan keuntungan lainnya. Tipe imbalan seperti ini banyak digunakan untuk kegiatan usaha yang menghasilkan teknologi inovatif, hardware, makanan, desain, dan berbagai produk-produk inovatif lainnya. Salah satu aktivitas crowdfunding jenis ini yang sedang berlangsung di Indonesia adalah proyek pesawat R80 melalui kitabisa.com.

    3. Lending-based

    Jika kedua model crowdfunding sebelumnya merupakan model crowdfunding tanpa imbal hasil finansial, lending-based crowdfunding menjanjikan imbal hasil finansial. Lending-based crowdfunding merupakan model crowdfunding dimana para investor akan meminjamkan sejumlah dana kepada individu maupun bisnis dengan imbal hasil berupa pembayaran pokok utang beserta dengan bunga. Tingkat bunga yang dikenakan untuk peminjam akan disesuaikan dengan profil risiko masing-masing. Model crowdfunding ini juga sering disebut dengan peer-to-peer lending (P2P lending). Hal yang membedakan konsep crowdfunding ini dengan kredit perbankan adalah bahwa permintaan dan penawaran akan dana terjadi pada sebuah online platform.

    4. Equity-based

    Selain lending-based crowdfunding, equity-based crowdfunding juga merupakan model crowdfunding yang memberikan imbal hasil finansial. Konsep dari equity-based crowdfunding ini adalah investor melakukan investasi pada sebuah bisnis dengan harapan akan mendapatkan imbal hasil finansial seiring dengan kesuksesan bisnis. Model crowdfunding ini dinilai sebagai model yang paling cocok untuk pendanaan bisnis startup karena para pemilik bisnis dapat memiliki akses untuk mendapatkan modal yang lebih luas, dan para investor akan memiliki kesempatan untuk berinvestasi pada bisnis startup yang mereka anggap potensial. Berkembangnya model crowdfunding ini mendorong para regulator di berbagai negara untuk mengembangkan penggunaan crowdfunding. Namun di sisi lain pihak regulator juga mengupayakan adanya peraturan yang jelas mengatur equity-based crowdfunding.

    Model equity-based crowdfunding ini masih belum terlalu banyak dikenal di Indonesia. Satu-satunya platform equity-based crowdfunding di Indonesia adalah Akseleran, yang baru diluncurkan pada awal tahun 2017 yang lalu.

    Saat ini, terdapat dua bisnis yang sedang mengumpulkan pendanaan melalui Akseleran. Bisnis yang pertama adalah Tambak Udang Vaname yang akan dikelola oleh Baba Rafi Group. Jumah modal yang dibutuhkan untuk bisnis ini adalah sebesar Rp2,7 miliar dengan jumlah kepemilikan yang ditawarkan sebesar 50%. Hingga bulan Oktober 2017, sudah terdapat 3 investor dengan total dana sebesar Rp712,5 juta. Dari ketiga investor tersebut, jumlah investasi paling kecil adalah Rp225 juta. Bisnis kedua adalah bisnis usaha waralaba otomotif yang menjual aki, oli, shock breaker, dan aksesoris untuk kendaraan roda empat. Bisnis ini membutuhkan modal sebesar Rp500 juta dengan menawarkan kepemilikan sebesar 70%. Saat ini kebutuhan modal sudah 100% terpenuhi dari 8 investor. Jumlah minimum investasi pada bisnis ini adalah sebesar Rp100 ribu.

    Untung Rugi Skema Crowdfunding
    Skema pendanaan crowdfunding ini memungkinkan masyarakat untuk melakukan investasi secara online karena mereka dapat memilih untuk mendanai proyek atau ide bisnis melalui website crowdfunding. Modal yang dikumpulkan dari masing-masing individu biasanya dalam jumlah yang kecil, namun karena crowdfunding melibatkan individu dalam jumlah yang besar, maka total keseluruhan dana yang bisa didapatkan oleh sebuah platform crowdfunding dapat menjadi pendanaan bisnis dalam jumlah yang signifikan.

    Crowdfunding dapat menjadi alternatif pendanaan ketika pemiliki ide kesulitan mendapatkan dana dari sumber pendanaan konvensional. Meskipun bisnis belum berjalan namun proposal menjadi kunci utama untuk meyakinkan investor untuk terlibat dalam pendanaan. Hal ini pula menjadi kekurangan dari crowdfunding. Bagaimana investor dapat mengetahui bahwa proyek akan berhasil dan kualitas produk dapat berfungsi secara sempurna. Namun, platform crowdfunding dapat juga menjadi indikator dari pengaju skema pendanaan. Semakin banyak proyek yang sukses mendapat dana dan berhasil menciptakan produknya, maka platform tersebut dapat dipercaya sebagai mediator.

    Menurut Mollick  (2014) faktor yang mendorong kesuksesan sebuah proyek yang didanai melalui crowdfunding sangat tergantung dari kesiapan terhadap bisnis yang ditawarkan. Hal ini dapat digambarkan dari proposal bisnis yang diajukan. Selain itu terciptanya kesempatan interaksi antara pengaju dana dan pemberi dana sangat penting, untuk memastikan bahwa proyek yang ditawarkan bukan merupakan proyek palsu, yang dilakukan oleh penipu untuk mendapatkan uang saja. Tetapi tingkat pemalsuan proyek menurut studi (Mollick, 2014) masih rendah. Peran platform crowdfunding sangat besar dalam mencegah terjadinya penipuan proyek.

    Di Indonesia, skema crowdfunding masih baru. Platform penyedia crowdfunding sudah banyak, namun skema equity based masih sedikit. Crowdfunding merupakan skema yang mengandalkan kerjasama dan peran serta masyarakat untuk menjalankan sebuah proyek. Bagi masyarakat Indonesia yang memiliki prinsip gotong royong, hal ini dapat menjadi alternatif untuk mendorong pertumbuhan entrepreneur-enterpreneur baru. Namun perlu ada kerjasama antara pemerintah dan penyedia platform crowdfunding, dalam hal edukasi terutama untuk mencegah proposal palsu.

    *Peneliti Utama VISI TELITI SAKASAMA dan Staf Pengajar FEB UI

    ** Asisten Dosen FEB UI

    Referensi:

    Mollick, E. (2014). The dynamics of crowdfunding: An exploratory study. Journal of Business Venturing, 1-16.

    Husain, S., & Root, A. (2015). Crowdfunding for Entrepreneurship. AlliedCrowds. London: AlliedCrowds.