'Wanita Besi' Perenggut Nyawa Jenderal Michiels

  • Dewa Agung Istri Kanya. Ist
    Dewa Agung Istri Kanya. Ist

    JAKARTA- Perang Puputan Margarana merupakan salah satu pertempuran bersejarah antara Indonesia dan Kolonial Belanda yang terjadi di Bali pada masa Perang Kemerdekaan Indonesia yang menewaskan seorang pahlawan nasional bernama Kolonel I Gusti Ngurah Rai pada 20 November 1946.

    Kita juga mengenal pahlawan nasional asal Bali lainnya bernama I Gusti Ketut Jelantik (1846 – 1849), seorang patih Kerajaan Buleleng yang berperang melawan Belanda hingga akhir riwayatnya.

    Satu nama yang hampir terlupakan oleh sejarah adalah Ida I Dewa Agung Istri Kanya. Seorang perempuan tangguh dari Kerajaan Klungkung yang karena keberaniannya tidak hanya berani mengangkat senjata melawan Belanda, namun juga berhasil membunuh Jenderal AV Michiel dalam sebuah pertempuran yang dikenal dengan Perang Kusamba.

    Tanpa mengecilkan peran dan perjuangan para pahlawan asal Bali, capaian Ida I Dewa Agung Istri Kanya adalah prestasi yang belum mampu di raih oleh pejuang laki-laki asal Pulau Dewata itu.

    Ida I Dewa Agung Istri Kanya adalah seorang putri tunggal dari pasangan Raja Ida I Dewa Agung Putra Kusamba I dengan permaisuri Ida Anak Agung Istri Ayu Made Karang dari Puri Karangasem.

    Ia dilahirkan di Puri Karangasem tempat asal ibunya dengan nama Ida I Dewa Istri Muter. nama Ida I Dewa Agung Istri Kanya dipergunakan sebagai nama kebesaran setelah ia resmi menjadi Raja Klungkung, sebagaimana ditulis I Gusti Ayu Cahayaningsih dalam Biografi Ida I Dewa Agung Istri Kanya (Wirawan, 2002: 26 & 56; Suryawati, 2010: 73 & 137, Udara, 1987: 13.

    Dibesarkan di lingkungan Istana Semarapura, layaknya keturunan bangsawan Ida I Dewa Agung Istri Kanya ditempa ilmu dan pengetahuannya oleh Bhagawanta istana. Sejak kecil Ia dibekali ilmu ketatanegaraan, ilmu etika, ilmu moral, ilmu keagamaan, dan ilmu kepemimpinan.

    Adalah Ida Pedande Wayan Pidada dan Ida Pedande Gde Made Rai yang menjadi mentor dalam membentuk sosok Ida I Dewa Agung Istri Kanya kelak menjadi seorang raja yang tangguh. Terlebih ia adalah sosok yang gemar membaca lontar yang berisi sejarah Ramayana dan Mahabharata serta pintar menulis.

    Berbekal ilmu yang mumpuni itu pula nantinya Ida I Dewa Agung Istri Kanya menjadi sosok raja yang disegani musuh dan disayang rakyatnya. Semasa menjadi raja, ia membentuk konfrensi yang melahirkan “Paswaran Astaguna” perjanjian delapan kerajaan di Bali. Ia juga melakukan kerja sama ekonomi dengan Mads Lange, seorang berkebangsaan Denmark. Bahkan tanpa ragu ia mengirimkan utusan ke Batavia untuk memperingatakan Belanda, serta meminta maaf atas terbunuhnya Jenderal Micheils. (Suryawati, 2010: 111; Wirawan, 2002: 7).

    Selain ketangkasannya di medan tempur Ida I Dewa Agung Istri Kanya juga berperan besar pada karya sastra klasik di Bali. Karya sastra diciptakannya berupa kidung Pralambang Bhasa Wewatekan dan Kidung Padem Warak yang mengisahkan peristiwa-peristiwa penting, seperti gugurnya sang ayaj hingga upacara besar mengantar roh leluhur ke alam suci.

    Ida I Dewa Agung Istri Kanya juga melahirkan tembang-tembang wirama seperti Wirat Jagatnatha, Sragdhara, Sarddhula, Bhasanta, Asualalita, Merddhu Komala, Pratitala dan Sronca, Wairat, Cikarini, Reng Lalita, Tebusol.

    Begitulah Ida I Dewa Agung Istri menghabiskan masa hidupnya mengabdi untuk kerajaan dan rakyat yang dicintainya, sampai ia melupakan urusan pribadi, berkaitan dengan keturunannya. Ia bahkan tak pernah mengenal apa itu cinta hingga memutuskan tidak menikah seumur hidupnya.

    Karena itu pula label “Kanya” yang terselip di namanya tak lain menggambarkan pilihannya sebagai perempuan yang tidak menikah. “Kanya” bermakna perempuan yang masih gadis, dan itu dijaganya hingga meninggal dunia di usia tua pada 1871

    Perang Kusamba
    Kerajaan Klungkung merupakan salah satu kerajaan besar di Bali. Untuk menguasai Bali, Belanda mau tak mau harus menaklukkan kerajaan-kerajaan yang tersebar di Pulau Dewata itu. Kerajaan Klungkung yang tidak mau tunduk kepada kolonial terpaksa mempertahankan wilayah kekuasaannya dari jajahan Belanda, sehingga terlibat dalam beberapa pertempuran. Perang Kusamba adalah salah satunya.

    Kusamba merupakan sebuah desa di timur Semarapura, yang dikenal sebagai sebuah pelabuhan penting Kerajaan Klungkung. Begitu pentingnya Kusamba dari sisi geografis sehingga roda pemerintahan dijalankan dari istana yang dibangun di desa itu, Istana Kusanegara namanya.

    Belanda yang melihat keuntungan dari posisi Kusamba sebagai pelabuhan penting pun berniat menguasainya. Niat ini terasa mudah diwujudkan, terlebih setelah Belanda menaklukkan Buleleng di Bali Utara, dan mengetahui Kerajaan Klungkung dipimpin oleh seorang perempuan.

    Mendapat restu dari Batavia, Mayor Jenderal AV Michiels melanjutkan agresinya ke kerajaan Klungkung. Serangan pertama dilakukan pada tangal 24 Mei 1849. Kala itu hari masih pagi dan pasukan Belanda menyergap Kusamba melewati daerah perbukitan di perbatasan kerajaan Klungkung dan Karangasem. Tak kurang seribuan pasukan Belanda menggempur wilayah Klungkung.

    Dengan perlengkapan tempur yang jauh lebih unggul Belanda berhasil menaklukkan Puri Kusamba, gerbang timur Kerajaan Klungkung. Belum sepenuhnya Klungkung dikuasi Belanda, apalagi peta wilayah kekuasaan Kerajaan Klungkung tak dikuasai penjajah.

    Jenderal Michiels pun memutuskan mengistirahatkan pasukannya sembari mengatur strategi guna kembali menyerang keesokan harinya. Sang jenderal bersama pasukannya memilih bermalam di Puri Kusamba.

    Kesempatan itu dimanfaatkan Ida I Dewa Agung Istri Kanya. Ia tahu pasukan Belanda dilanda kelelahan setelah seharian bertempur.
    Jenderal Andreas Victor Michiels. Ist

    Taktik Bumi Hangus
    Dewa Agung Istri Kanya adalah seoarang raja dan juga ahli strategi perang. Segera ia mengumpulkan pasukannya berani matinya yang terkenal dengan sebutan Prajurit Pamating. Kala itu malam masih menggelayut menggelapi hari. Kesunyian malam itu tiba-tiba pecah dengan teriakan lirih tanda satu per satu pasukan Belanda menemui ajalnya.

    Pasukan Pamating dibawah kendali Ida I Dewa Agung Istri Kanya kesetanan menebas musuh tanpa ampun. Pasukannya diuntungkan oleh minimnya pengetahuan musuh atas wilayah mereka.

    Dalam keadaan panik Belanda menembakkan lichtkogel, senjata yang ditembakkan ke udara dan berfungsi menerangi medan pertempuran. Keputusan itu justru semakin menguntungkan para pejuang Klungkung. Pijaran cahaya di udara itu menerangi keberadaan Jenderal Michiels.

    Serta merta I Seliksik memuntahkan peluru panas ke arah sang jenderal. I seliksik adalah sebutan untuk senapan laras panjang pusaka Kerajaan Klungkung yang konon diyakini tak pernah meleset karena mencari korbannya sendiri.

    Jenderal Michiels terpekik kesakitan. Peluru I Seliksik menghantam paha kanannya dan tumbang berlumuran darah. Pasukan belanda semakin kocar-kacir dan akhirnya kabur membawa lari komandan yang terluka ke kapal komando yang lepas jangkar di Padang Cove.

    Panglima perang itu kehabisan banyak daerah. Saran untuk mengamputasi kaki ditolaknya. Alhasil kondisinya semakin buruk dan di malam itu juga ajal menjemputnya, tepat sehari setelah pasukannya menguasai Puri Kusamba.

    Jenderal Michiels merupakan panglima perang Belanda yang tak pernah gagal menaklukkan dan menguasai wilayah yang diincarnya. Sejumlah pertempuran melawan kerajaan-kerajaan nusantara selalu dimenanginya.

    Kali ini langkahnya terhenti di tangan seorang raja perempuan bernama Ida I Dewa Agung Istri Kanya. Dengan menggunakan kapal jasadnya dibawa ke Batavia, meninggalkan pasukannya yang terdesak oleh serangan puputan khas Bali yang tak kenal takut

    Tanpa kendali seorang panglima, pasukan Belanda ternyata memilih terus bertempur di bawah kendali Letkol van Swieten. Keputusan ini membuat salah satu perwira di pasukan Belanda bernama Kapten H Everste mengikuti nasib jenderalnya yang lebih dahulu tewas.

    Letkol van Swieten sadar bahwa taktik perang bumi hangus yang diterapkan pasukan Ida I Dewa Agung Istri Kanya membuat pasukannya semakin terdesak dan kucar-kacir. Signal berunding darinya dibaikan pasukan Klungkung yang tak berhenti menerjang. Hasilnya pelabuhan utama Klungkung itu pun direbut kembali.

    Situasi ini membuat amarah Kolonel Van Swieten geram. Ia segera mengirimkan surat peringatan kepada Ida I Dewa Agung Istri Kanya untuk segera menyerah. Surat itu disampaikan oleh pemimpin laskar Lombok bernama Gusti Gede Rai yang berkhianat dan bersekutu dengan Belanda,

    Bunyi surat itu berupa ancaman bila dalam delapan hari Kusamba tidak menyerah maka Belanda meluluhlantakkan Kusamba.

    Ancaman itu tak direspon Sang Raja Klungkung. Ia justru meminta si kolonel datang menghadap dan meminta maaf karena menyerang Kusamba.

    Ida I Dewa Agung Istri Kanya sadar siasat Belanda. Oleh karenanya ia memerintahkan seluruh pasukannya menjada wilayah kekuasaan hingga darah terakhir. Disebutkan bahwa setidaknya 16 ribu pasukan Tabanan dan Badung telah siap mengahalau Belanda.

    Benar saja dugaan perempuan tangguh itu. Belanda ternyata menambahkan bala bantuan dan perlengkapan perang yang dilengkapi 130-140 ribu peluru, termasuk laskar Lombok.

    Pertumpahan darah sepertinya tak dapat terhindarkan. Di saat-saat genting itu muncullah Mads Lange, seorang pebisnis dan agen Belanda namun juga dekat dengan raja-raja Bali. Mads Lange menyarankan si kolonel mengurungkan niatnya. Ia menyampaikan bahwa pasukan Klungkung sudah siap tempur.

    Nyali Kolenel van Swieten ciut. Niat pertumpahan darah itu dibatalkannya.

    Upaya Belanda menguasai Klungkung baru terwujud pada 1908 atau sekitar setengah abad lamanya sejak perang Kusamba yang dipimpin Ida I Dewa Agung Istri Kanya itu menggagalkan invasi si bangsa penjajah.(Rafael Sebayang)