Budi Waseso "Ayam Petarung" Penentang Arus

  • ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/pd/17
    ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/pd/17

    JAKARTA - Jenderal Polisi yang satu ini lebih dikenal sebagai sosok yang berkonotasi negatif. Lebih tepatnya dianggap negatif mungkin. Di awal kemunculannya sebagai Kepala Badan Reserse dan Kriminal (Kabareskrim) Mabes Polri, jenderal bintang tiga ini langsung menandai gebrakan pertamanya dengan menyulut perang melawan lembaga yang mungkin paling dicintai rakyat di Ibu Pertiwi ini, Komisi Pemberantasan korupsi (KPK).

    Cap sebagai anti pemberantasan korupsi langsung tersemat kepadanya. Namun ia bergeming. Tak lama berselang, Bareskrim di bawah kepemimpinannya menangani kasus pimpinan KPK lainnya yakni Ketua KPK Abraham Samad dan salah satu penyidik KPK Novel Baswedan.

    Budi Waseso namanya. Di media massa para jurnalis menyebutnya Buwas (Budi Waseso), sapaan akrab yang identik dengan sepak terjangnya yang buas, termasuk menangkap salah satu pimpinan KPK, Bambang Widjojanto terkait kasus dugaan menyuruh saksi memberikan keterangan palsu pada sidang Mahkamah Konstitusi (MK) tahun 2010.

     “Public enemy”, itulah sosok Buwas di mata masyarakat yang mengagung-agungkan KPK. Namun Buwas pun memiliki keyakinanan dalam setiap tindakannya. Proses hukum terhadap Bambang, Samad, dan Novel baginya adalah murni penegakan hukum, bukan kriminalisasi, dan karena itu ia tetap melakukan tugasnya sebagai mana mestinya.

    Sikapnya yang konsisten dalam penegakan hukum ditunjukkannya dalam kasus-kasus lain. Ia siap berhadapan dengan siapapun, meski itu adalah pejabat pemerintah sekalipun. Sejumlah kasus besar seperti kasus korupsi pengadaan uninterrutible power suply (UPS) Dinas Pendidikan DKI Jakarta dan terakhir dugaan korupsi di Pelindo II membuat namanya kian melambung.

    Tanpa pandang bulu ia mentersangkakan Dirut Pelindo II RJ Lino yang kemudian membuat heboh pembeeritaan di media massa. Pasalnya Lino yang merasa dirinya “untouchable” justru digoyang oleh Buwas.

    Taka ada gading yang tak retak, sikapnya yang ceplas-ceplos dan terkesan tak bisa diatur justru membuat lulusan Akademi Kepolisian tahun 1984 dianggap pembuat gaduh. Tudingan yang diyakini banyak pihak membuat Buwas dilengserkan dari posisinya sebagai kabareskrim. Sebagai gantinya Buwas diberi tugas memimpin Badan Narkotika Nasional (BNN) menggantikan Komisaris Jenderal Anang Iskandar yang justru bertukar jabatan sebagai kabareskrim.

    Seolah mengamini tudingan Buwas adalah ‘si pembuat gaduh’, sebagai Kepala BNN ia kembali melontarkan pernyataan kontroversial. Mengkritisi kebijakan rehabilitasi pecandu narkoba yang digagas Kabareskrim Komjen Anang Iskandar sewaktu masih menjabat sebagai Kepala BNN, Buwas menyebut pentingnya penindakan hukum ketimbang rehabilitasi.

    Namun Buwas punya alasan atas ucapannya. Ia beranggapan rehabilitasi yang diberikan kepada pengguna narkoba justru menjadi peluang oknum penegak hukum untuk “bermain”. Pendapat Buwas yang terkesan tidak terlalu menginginkan rehabilitasi ini berbanding terbalik dengan upaya yang sebelumnya dilakukan BNN di bawah kepemimpinan Komisaris Jenderal Anang Iskandar.

    Tak berhenti di situ, Buwas juga sempat bersitegang dengan Basuki Tjahaja Purnama yang saat itu menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta terkait pemberian sanksi bagi tempat hiburan malam yang kedapatan transaksi narkoba di dalamnya. Sepertinya memang pria yang mengklaim dirinya sebagai keturunan “ayam petarung” ini memang senang berhadapan dengan siapapun.

    Prinsip Buwas, dimanapun ia ditempatkan harus bekerja profesional dan maksimal sebagai abdi negara. Demikian juga di BNN, walau lembaga yang dipimpinnya memiliki keterbatasan sarana dan prasarana yang minim, hal itu bukan menjadi alasan untuk tidak maksimal memerangi narkoba.

    “Karena saya kan abdi negara saya dilahirkan sebagai abdi negara, abdi itu tugasnya pengabdian, jadi keikhlasan. Maka bekerjanya harus nothing to lose,” ucap Buwas saat berbincang dengan Validnews pekan lalu.

    Diakuinya, dalam menjalankan tugas sebagai abdi, kelelahan pun menghampirinya. Namun ia sadar itu adalah konsekuensi atas pilihan hidupnya menjadi abdi negara. Bahkan menurutnya, ketika sudah menetapkan pilihan sebagai abdi negara, maka orang tersebut harus bertahan pada apa yang sudah dipilihnya, kepada sumpah jabatan yang sudah diucapkan.

    Penyalur Semangat

    Narkoba merupakan godaan besar bagi penegak hukum karena uang melimpah yang melatarbelakanginya. Khususnya terkait tugas penindakan di lapangan, diakui Buwas resiko ancaman ataupun godaan akan iming-iming dari bandar narkoba begitu kuat dan intensif.

    Mengantisipasi potensi itu Buwas selalu menjadikan dirinya sebagai contoh kepada bawahannya. Baginya, sebagai kepala, sebagai komandan, ataupun atasan, dia adalah keteladanan yang dilihat oleh anggotanya di lapangan. Karena itu pula dia harus konsisten, konsekuen dan berkomitmen menjalankan tugas dan jabatannya.

    “Kalo saya ini menginginkan (anggota) bersih maka saya harus bersih. Saya tidak berhubungan dengan pengusaha, hiburan malam, saya tidak berhubungan dengan pengusaha yang mungkin ada hubungannya dengan jaringan narkotika. Tentu selain itu saya juga tetap memberikan semangat pada anggota, dengan memantau mereka saat bertugas,” jelas dia.

    Buwas adalah sosok pemimpin yang proporsional dan professional dalam menilai kinerja bawahannya. Reward and punishment (penghargaan-sanksi) adalah mutlak diberikan kepada jajarannya. Menurutnya setiap petugas di BNN bahkan termasuk dirinya sendiri sudah menandatangani pakta integritas yang intinya siap dicopot dari jabatan atau bahkan dipecat jika terbukti melakukan pelanggaran.

     “Tidak ada ada instansi lain yang seperti itu kecuali di BNN. Nyawa tidak bisa dihargai dengan berapapun nilainya. Coba satu nyawa mau dinilai berapa harganya? Maka ini kalau dalam agama Islam, jihad. Karena itu kita bukan abdi negara lagi, abdi Tuhan. Kita bekerja untuk kepentingan pencipta, karena kita menyelamatkan ciptaan Tuhan, itu yang saya bilang ke anggota,” terang Buwas.

    Penghargaan yang diberikan kepada anggota pun menurutnya sudah diterapkan. salah satunya dengan kenaikan pangkat kepada anggota yang berprestasi.

    “Di sini ada (anggota) latar belakangnya bintara bisa jadi jenderal? Saya menghadap Presiden, menghadap semua, (saya katakan) ini harus dapat reward, karena saya tidak bisa berikan apa-apa. Karena dia baik, dia berhasil, dia sukses, dia sudah melakukan penyelamatan pada generasi muda kita, generasi bangsa dan negara sehingga layak dihargai,” ungkap Buwas.

    Disadari Buwas pekarjaannya bukanlah sesuatu yang mudah. Perlu orang-orang yang memiliki komitmen kuat dan rasa cinta akan profesinya untuk menjalankan tugas pemberantasan narkoba secara konsisten, ya, tugas sebagai abdi negara seperti dirinya. (Jenda Munthe, M Bachtiar Nur, MG-Afif, MG-Irfan)