Suhariyanto, Ide Liar Pecinta Buku dan Kebun

  •  

    JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) belakangan kerap menampilkan kejutan. Jika rilis angka inflasi dan ekspor impor dan data ekonomi lainnya sudah menjadi pekerjaan reguler, riset spesifik dengan tema tertentu belakangan kerap jadi pilihan BPS. Seringkali tema yang tak biasa, dirilis BPS sebagai institusi resmi.

    Rilis mengenai kekerasan terhadap perempuan yang ada di Indonesia misalnya. Dikatakan berbeda lantaran hasil survei yang dilakukan BPS ternyata cukup mengejutkan. Dari rilis itu disebutkan satu dari tiga perempuan di sepanjang hidupnya pasti pernah mengalami kekerasan, baik secara fisik, seksual, ekonomi, maupun psikis.

    Tak hanya menimbulkan pembicaraan di dalam negeri, penelitian BPS tersebut nyatanya menjadi sorotan dunia. Bahkan, delegasi Mongolia pun menyempatkan diri bertamu ke kantor BPS di kawasan Pasar Baru, Jakarta, demi bisa berguru mengenai teknik dan metode BPS dalam melakukan survei kekerasan terhadap perempuan.

    Sosok Kepala BPS Suhariyanto sendiri, tidak dapat dilepaskan dari perilisan isu yang tergolong sensitif ini. Menjabat sebagai orang nomor satu di BPS sejak September 2016, banyak hal yang sebenarnya telah dilakukan olehnya. Perilisan data statistik mengenai kekerasan terhadap perempuan hanya salah satu ide liar pria asli Blitar, Jawa Timur ini.

    Khusus untuk isu tersebut, Kecuk- panggilan akrab Suhariyanto, memang bermaksud ingin meningkatkan kesadaran masyarakat akan masalah yang harus dicermati. Kecuk mengaku gemas terhadap angka pasti mengenai perempuan yang pernah mendapat kekerasan dalam bentuk apapun, tak tersedia dengan jelas.

    Kerancuan data mengenai isu ini terjadi salah satunya memang kebanyakan karena sang korban merasa malu akan kekerasan yang diterimanya, sehingga tidak berani melaporkan. Sejumlah trik untuk mendapat hasil survei yang akurat dan khusus pun harus diterapkannya.

    Misalnya dengan mewajibkan pencacah survei dari isu ini haruslah perempuan, Kemudian tidak boleh ada pendampingan kepada responden dari suami ataupun keluarga lainnya. “Karena ini pertama, kemarin total sampelnya paling 10.000, tidak seluruh kabupaten. Mungkin separuh dari kabupaten (di seluruh Indonesia),” ujarnya kepada Validnews di ruang kerjanya, di  Jakarta, beberapa waktu lalu.

    Data Harus Genit

    Lulus dari Akademi Ilmu Statistik pada tahun 1983 (Angkatan 22), Suhariyanto mengawali karir di Bagian Statistik Agro Industri. Selanjutnya, di tahun 1985-1988 ia melanjutkan S-1 di Universitas Indonesia (UI). Di tahun 1989-1991 ia pun langsung mengejar gelar S2, Master of Science in Applied Statistics di University of Guelph, Canada.

    Sepulang dari Canada, ia menjabat Kepala Subbagian Perkebunan (Direktorat Pertanian). Jalur pendidikan S3, Ph.D. in Agricultural Economics dari University of Reading, Inggris kembali diperoleh melalui bea siswa dari BPPT, pada tahun 1996-1999. Dalam menyelesaikan S3-nya di University of Reading, Inggris, dirinya menargetkan waktu untuk menulis desertasi hanya dalam waktu sekitar 5 bulan.

    Kembali dari London, di tahun 2003-2005, Suhariyanto menjabat Kepala Subdirektorat (Kasubdit) Tanaman Pangan. Karirnya terus melaju. Hingga pada periode 2005-2010, dirinya memegang amanah sebagai Kasubdit Analisis Statistik. Lompatan karir berikutnya, di tahun 2010-2012, dipercaya sebagai Direktur Analisis dan Pengembangan Statistik.

    Ketika menjadi Direktur Analisis dan Pengembangan Statistik, pria yang awalnya memilih Sekolah Tinggi Ilmu Statistik dengan alasan bebas biaya tersebut, juga diberi amanah untuk melakukan reformasi birokrasi di lembaga tempatnya berkarya itu.

    Beragam ide ‘liar’ pun diimplementasikannya untuk membuat BPS tampil lebih profesional, berintergritas dan amanah sesuai dengan landasan dasar badan tersebut. Ia juga membuat lagu khusus untuk mendengungkan ketiga nilai tersebut dan membuat aturan yang sempat banyak menuai protes, yakni penilaian dari bawah ke atas.

    “Wah, suaranya (kontroversi) sudah luar biasa. Saya bilang, kalau saya saja mau dievaluasi sama anak buah saya, kenapa kamu yang di bawah saya menolak? Kecuali ya, saya menerapkan, tapi saya tidak mau dievaluasi. Orang saya juga dievaluasi, kok,” tutur pria yang berhasil meraih gelar doktornya di Reading University, Inggris, ini meyakinkan.

    Kreativitas penyuka diskusi ini makin meningkat tatkala dirinya menjabat sebagai deputi dan Kepala BPS. Misalnya saja menyajikan data-data statistik yang buat sebagian orang membosankan, menjadi lebih ‘genit’ dengan menyajikannya dalam bentuk infografis yang memikat.

    Terbukti, dengan penyajian data statstik dalam bentuk yang kekinian, traffic pengunjung ke website BPS pun makin tinggi. Bisa dibilang, langkah tersebut efektif meningkatkan ketertarikan masyarakat akan data.

    Menurutnya, pemahaman mengenai statistik harusnya memang mulai ditanamkan sejak usia dini. Karena itu pula, ia mulai menggulirkan beragam produk data yang ramah terhadap kaum muda dan anak-anak. Misalnya saja dengan membuat komik-komik maupun permainan yang menarik tanpa menghilangkan esensinya dalam menyajikan data-data statistik. 

     

    Diprotes 10 Bupati

    Reformasi yang dilakukan oleh Suhariyanto untuk lembaganya sebenarnya mengarah kepada tujuan untuk menghasilkan data-data statistik yang objektif dan independen. Dengan pengembangan sumber daya manusia yang tepat, pria yang tiap harinya selalu berangkat pagi dari rumahnya di Kampung Rambutan itu yakin, data-data yang dihasilkan lembaganya mampu berada dalam enam kerangka kualitas yang diharapkannya.

    Keenam kerangka yang berfungsi sebagai kontrol kualitas BPS tersebut meliputi, relevansi, akurasi, ketepatan waktu, kemudahan untuk dicerna, kemudahan akses, dan keterbandingan. Pemberian 150 beasiswa kepada para pegawai tiap tahunnya dan training-training pun diaplikasikan untuk mencapai tujuan tersebut.

    Ia sadar, lembaga yang dipimpinnya berfungsi vital untuk dijadikan sebagai dasar pengambilan keputusan atau kebijakan. Karena itu pula, ia selalu menjadikan dirinya sendiri contoh untuk menjaga kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan data BPS.

    Tidak melulu soal hal-hal besar. Percontohan tersebut ia perlihatkan dengan datang tepat waktu, melakukan presensi, hingga menolak intervensi pihak lain yang ingin mengusik data BPS.

    Ia berkisah, suatu waktu dirinya disambangi 10 bupati dari wilayah timur Indonesia. Kedatangan ternyata mengintikan protes terhadap data kemiskinan hasil rilisan BPS. Namun, ia mengaku bergeming. Suhariyanto meyakinkan mereka akan hasil kinerja lembaganya. Karena data-data statistik tersebut diyakininya sebagai potret utuh keadaan di kawasan tersebut.

    “Jadi ada yang pernah meminta, pak tolong angka kemiskinannya dibuat tinggi supaya saya dapat bantuan, atau Pak ini mau akhir tahun nih, tolong angka kemiskinan dibikin rendah. Kalau diikuti, mau jadi apa negara ini?” ucapnya blak-blakan.

    Kepemimpinan Suhariyanto berimbas kepada kinerja BPS yang semakin membaik. BPS di bawah kepemimpinannya kerap dicontoh oleh lembaga-lembaga statistik lain di berbagai negara lain seperti Mongolia, Nepal dan Banglades. Hal ini pula yang membuat Suhariyanto dianggap sebagai pionir keberhasilan BPS dan didapuk menjadi Chief Commite Statistic Asia-Pasific.

    Dari dalam negeri, apresiasi terhadap output dan pelayanan BPS pun berbuah manis. BPS dinyatakan sebagai lembaga dengan pelayanan terbaik untuk tiga tahun berturut-turut. Salah satu pelayanan BPS yang patut diacungi jempol adalah soal kecepatan lembaga ini merilis angka-angka perekonomian.

    “BPS itu salah satu yang tercepat mengeluarkan data inflasi dan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi kita rilis 35 hari, Australia saja harus 70 hari,” bangga pria berusia 55 tahun ini.

    Mencegah Gila

    Di luar tanggung jawab dan profesionalitasnya sebagai Kepala BPS, Suhariyanto atau Kecuk dikenal sebagai pribadi yang ramah dan bersahabat. Ia tidak menyukai birokrasi yang ribet. Misalnya saja, ia lebih senang dengan hal-hal yang lebih bersifat informal atau casual seperti soal panggilan dalam berinteraksi dengan pegawai BPS. Alhasil, ini membuat rekan kerja atau bawahannya tidak pernah segan kepadanya dan selalu menunggu untuk beragam diskusi yang menarik.

    Jabatan sebagai Kepala BPS sendiri diakuinya membuat jadwalnya semakin padat. Pada tiga bulan di awal memimpin BPS, sering pulang larut malam karena harus rapat dengan kementerian maupun DPR pada dirasakannya terasa berat dan menjenuhkan. Padahal ia merasa harus memiliki waktu untuk dirinya sendiri.

    Pria dengan tinggi badan 178 cm ini nyatanya juga banyak menuangkan karya-karyanya lewat tulisan. Sejumlah karya tulisan dengan beragam seperti fiksi, percintaan, sosial/kemanusian, nasionalisme, hingga tema perjuangan kebangsaan pernah dilahirkannya.

    Karena keahilannya, Suhariyanto bahkan pernah diundang Presiden Soeharto untuk menerima penghargaan menulis buku cerita. Ia dinilai sangat lihai mempresentasikan dan menjelaskan suatu topik.

    Selain menulis dan membaca, Suhariyanto pun mengisi waktu luangnya berkebun. Tiap akhir pekan, ia selalu menyediakan waktu khusus untuk sekadar mengurus berbagai macam tanaman yang tertata di pekarangan rumahnya. Hobinya tersebut bahkan kerap dikomentari para tetangganya yang kagum dengannya.

    “Bukannya rajin, namun bagi saya itu adalah waktu untuk menjaga jarak dengan statistik, kalau tidak saya bisa gila,” selorohnya. (Teodora Nirmala, M. Bachtiar Nur, Jenda Munthe)