MENJAGA KESINAMBUNGAN "TAMBANG EMAS HIJAU"

Usulan 'Replanting' Sawit Terus Bertambah

Hingga kini pemerintah daerah masih menerima usulan peremajaan tanaman kelapa sawit dari petani. Setelah ini usulan tersebut diteruskan ke pemerintah pusat

  •  Presiden Joko Widodo saat menanam sawit dalami program 'replanting' di Desa Kota Tengah, Dolok Masihul, Serdang Bedagai, Sumatera Utara, Senin (27/11). (Dok.BNI)
    Presiden Joko Widodo saat menanam sawit dalami program 'replanting' di Desa Kota Tengah, Dolok Masihul, Serdang Bedagai, Sumatera Utara, Senin (27/11). (Dok.BNI)

    MUKOMUKO- Sejumlah petani kelapa sawit di Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu mengusulkan peremajaan atau replanting komoditas perkebunan yang tidak produktif. Sejumlah usulan pun terus berdatangan dan berharap diteruskan ke pemerintah pusat.

    "Petani yang mengusulkan peremajaan tanaman kelapa sawit itu tersebar pada sejumlah kecamatan di daerah ini" kata Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Mukomuko, Bengkulu Wahyu Hidayat, di Mukomuko, Rabu (27/12) seperti dikutip Antara.

    Sebenarnya, pemerintah Kabupaten Mukomuko tahun 2018 mendapat jatah peremajaan atau replanting kebun kelapa sawit tidak produktif, seluas 3.000 hektare dari pemerintah pusat. Namun, hingga sekarang ini instansinya masih terus menerima berkas usulan peremajaan tanaman kelapa sawit tidak produktif dari petani setempat.

    "Berkas usulan peremajaan sawit tidak produktif disertai kartu tanda penduduk, kartu keluarga dan surat keterangan tanah atau sertifikat tanah," ujarnya.

    Ia melanjutkan, pihaknya hingga kini masih menerima usulan peremajaan tanaman kelapa sawit dari petani. Setelah ini usulan tersebut diteruskan ke pemerintah pusat.

    Langkah ini sejatinya juga melibatkan kepala desa untuk mendata kebun kelapa sawit yang memiliki produktivitas rendah, yaitu tanaman kelapa sawit berusia di atas 25 tahun. Kemudian, produksi tandan buah segar kelapa sawit sebesar 10 ton per hektare/tahun.

    Ia menargetkan, minimal seluas 1.400 hektare kebun kelapa sawit tua dan produktivitas rendah yang terdata di instansi itu, diusulkan mendapatkan program peremajaan sawit dari pemerintah pusat. Karena itu, ia mendorong kepala desa segera menyerahkan data lahan perkebunan kelapa sawit tidak produktif di wilayahnya sampai akhir bulan Desember tahun ini.

     

    Replanting perkebunan sawit merupakan program nasional dan mulai dilaksanakan pada 2017 yang dibuka langsung Presiden Joko Widodo di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumsel, belum lama ini. Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution pun mengatakan peremajaan kelapa sawit (replanting) sudah sangat mendesak untuk dilakukan. Saat ini sudah banyak pohon kelapa sawit rakyat yang usianya lebih dari 25 tahun.

    “Dari total 470 ribu hektare sawit perkebunan rakyat, seluas 350 ribu hektare telah berusia tua, sehingga produktivitasnya menjadi rendah yaitu kurang dari 10 ton per Tandan Buah Segar (TBS) pertahun dan tidak dapat menikmati hasil yang baik,” ujar Darmin.

    Darmin menjelaskan, dari total luas perkebunan kelapa sawit seluas 11,9 juta hektare, sekitar 41% atau 4,6 juta hektare merupakan kebun kelapa sawit rakyat. Berdasarkan data perkebunan, kebun kelapa sawit rakyat yang dikelola oleh 2,3 juta kepala keluarga memiliki beberapa kekurangan.

    Masalah yang dihadapi saat ini hingga butuh tersentuh program replanting adalah umur tanaman yang sudah lebih dari 25 tahun. Kemudian, produktivitas yang rendah, penggunaan bibit yang buruk, lahan yang tidak jelas status hukumnya, serta Agriculture Practice yang tidak baik.

    “Tugas besar untuk meremajakan kelapa sawit seluas 4,6 juta hektare ini harus dilakukan secara bersama-sama. Apabila 4,6 juta ha dibagi dengan 25 tahun, maka setiap tahun kita harus meremajakan 185 ribu hektare," tuturnya.

    Pemerintah optimistis total lahan seluas 9.109,29 hektare yang diajukan untuk replanting mendapatkan dana bantuan peremajaan sawit rakyat tersebut tidak masuk kawasan hutan atau masuk lahan APL (Area Penggunaan Lain).

    Sebelumnya, Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Bambang mendorong, Sumatera Selatan untuk meremajakan perkebunan kelapa sawit lebih luas lagi karena daerah ini cukup siap dan sudah berhasil melaksanakan.

    "Sumsel telah berhasil melaksanakan peremajaan sawit di Kabupaten Musi Banyuasin sehingga program tersebut harus dimaksimalkan lagi," katanya.

     

    Petani menyiram bibit sawit yang telah disertifikasi di Desa Desa Alue Piet, Kecamatan Panga, Kabupaten Aceh Jaya, Aceh, Rabu (2/3). Sertifikasi benih kelapa sawit guna meningkatkan kualitas hasil produksi serta mencegah beredarnya bibit palsu. ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/aww/16.

    Penjualan Benih
    Maraknya program replanting saat ini berimbas pada penjualan benih maupun bibit unggul siap tanam kelapa sawit nasional yang pada tahun depan diprediksi meningkat.

    "Pada tahun 2018, program peremajaan kelapa sawit rakyat di dalam negeri masih cukup luas," ujar Direktur Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan, Hasril Hasan Siregar.

    Menurutnya, Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian dengan dukungan BPDPKS (Badan Pengelolaan Dana Perkebunan Kelapa Sawit), misalnya, merencanakan mendanai peremajaan seluas 185.000 hektare sawit petani pada tahun 2018. Untuk program itu, dibutuhkan sekitar 30 juta benih atau bibit unggul.

    Selain peremajaan perkebunan kelapa sawit rakyat, kata Hasril, juga ada peremajaan oleh perkebunan negara dan swasta yang membutuh sekitar 80 juta hingga 90 juta benih atau bibit unggul.

    "Jadi, diprediksi kebutuhan bibit sawit nasional 2018 sekitar 110 juta hingga 120 juta benih," ujarnya.

    Dengan tren meningkatnya permintaan, bisnis perusahaan pembenihan pun dinilai menggairahkan. PPKS Medan sendiri mengaku berupaya terus meningkatkan produksi dan meningkatkan kualitas benih agar tanaman sawit Indonesia makin bagus.

    Ketua Asosiasi Petani Sawit Indonesia (Apkasindo) Sumut Gus Dalhari Harahap mengatakan, pihaknya berkeinginan agar program peremajaan berlangsung lebih cepat dan luas. Menurut dia, sebagian besar luasan sawit rakyat merupakan tanaman tua dan dengan produktivitas rendah akibat dahulunya ditanam dengan bibit asalan. (Faisal Rachman)