'Pengganda Uang' Berujung Di Penjara

Pelaku penipuan ini mengaku menyasar mereka yang tegah terbelit hutang

  • Ilustrasi Dukun Cabul. Pixabay
    Ilustrasi Dukun Cabul. Pixabay

    KUDUS – Mau untung? Ya nabung. Bukan ke dukun. Ini rasanya pas jika dialamatkan kepada banyak orang yang ingin mencari jalan singkat peroleh keuntungan berlipat ganda. Hampir semua yang mempercayakan dukun untuk melipatgandakan uang, justru kehilangan uangnya.

    Salah satunya, adalah Kartini, warga Desa Grobogan, Kecamatan Grobogan, Kabupaten Grobogan. Ia mempercayai Teguh Adreng Panggayuh warga Kroyo, Kecamatan Karangmalang, Kabupaten Sragen bisa menambah isi koceknya. Namun, karena ia tak punya uang, Jumadi yang warga Kudus, diperkenalkannya kepada Teguh, sang dukun.

    Berkat laporan Kartini dan Jumadi, aparat Kepolisian Resor Kudus, Jawa Tengah, menangkap Teguh,  seorang dukun gadungan yang mengaku bisa menggandakan uang atas laporan korbannya yang mengalami kerugian hingga puluhan juta.

    Kapolres Kudus AKBP Agusman Gurning di Kudus, Kamis (17/5), diberitakan Antara,  menjelaskan, penangkapan pelaku dilakukan pada 15 Mei 2018 atas laporan korbannya bernama Jumadi warga Bae, Kabupaten Kudus. "Korban diminta mencari hotel yang menghadap ke selatan untuk mengadakan ritual penggandaan uang," urai AKBP Agusman menjelaskan salah satu ritual yang mesti dijalankan klien Teguh.

    Diceritakan, usai menerima laporan korban  jajaran Polres Kudus melakukan penyelidikan. Akhirnya Teguh bisa ditangkap, meski satu lagi rekannya pelaku penipuan ini, masih buron.

    Sasar Yang Berhutang
    Kasus ini sendiri berihwal dari pertemuan Kartini, kawan korban, dengan pelaku. Teguh mengaku dukun yang bisa melipatgandakan uang. Kartini tertarik akan kebisaan itu. Namun, ia mengaku tidak memiliki uang. Selanjutnya pelaku diperkenalkan dengan Jumadi warga Kudus.

    Singkat cerita, terjadi kesepakatan. Jumadi siap menyerahkan uang sebesar Rp30 juta dan tersangka menjanjikan untuk digandakan menjadi Rp2,5 triliun. Kemudian, pelaku sempat mendatangi rumah korban untuk melakukan ritual penggandaan uang, namun batal karena situasi rumah yang ramai.

    Pada 13 April 2018, akhirnya dilakukan ritual penggandaan uang di hotel Surya Kencana di Jalan Lingkar Selatan Jati, Kudus. Polisi menceritakan, untuk mengelabuhi korbannya, saat ritual penggandaan uang lampu penerangan di kamar hotel dimatikan ketika korbannya menyerahkan uang senilai Rp30 juta.

    "Korbannya memang sempat diminta melihat uang yang ditata korbannya di atas kardus yang untuk meyakinkan bahwa uang telah digandakan menjadi satu kardus," tutur Agusman Gurning.

    Namun, saat korbannya diminta memejamkan mata untuk berdoa dengan kondisi lampu kamar gelap, ternyata pelaku mengambil uang korban. Tak lama, ia mengaku harus pergi dengan alasan memandikan patung kereta dan ular berkepala manusia.

    Curiga dengan pelaku yang tidak kunjung kembali, mereka mencoba membuka isi kardus. Di dalam kardus, uang tak didapat. Yang ada hanya dua buah kelapa dan kain berwarna hijau.

    Pelaku, di hadapan petugas mengakui perbuatannya menipu korbannya dengan mengaku-aku bisa menggandakan uang. Ia menyasar orang yang ingin menggandakan uang karena tengah berhutang. "Saya memang mencari korbannya yang sedang menghadapi permasalahan hutang," ujarnya.

    Dalam melakukan penipuan tersebut, dia mengaku, tidak sendirian. Ada teman yang juga berperan mencari benda-benda unik untuk meyakinkan korbannya, seperti jenglot buatan, patung emas kereta dan ular berkepala manusia.

    Nah, kini Teguh meringkuk di balik jeruji. Atas perbuatannya itu, pelaku diancam dengan hukuman penjara empat tahun karena melakukan penipuan dan melanggar pasal 378 KUHP.

    Dukun Cabul
    Di Bali, cerita dukun palsu berujung pidana juga mengemuka. Jaksa Penuntut Umum dari Kejaksaan Negeri Denpasar, Bali, menuntut seorang kakek bernama A. Hilmi Asni (69), selama sembilan tahun penjara, karena karena telah mengaku mencabuli anak di bawah umur berinisial PA, KI dan KT.

    Jaksa Penuntut Umum (JPU) Peggy E Bawengan, dalam sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Gde Ginarsa di PN Denpasar, Rabu  (16/5), menuntut kakek yang mengaku sebagai dukun itu juga dikenakan tuntut membayar denda Rp1 miliar, subsider enam bulan kurungan.

    Jaksa mengatakan terdakwa terbukti melakukan tindak pidana perlindungan anak dan melanggar Pasal 76 E jo Pasal 82 Ayat 1 UU No 35 Tahun 2014 tentang perubahan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002.

    Perbuatan terdakwa dilakukan secara berlanjut pada Desember 2017, terdakwa melakukan tipu muslihat terhadap korban PA (11) yang sedang berbelanja di warung milik I Nyoman Kerna. Kakek Hilmi mengaku bisa membuat korbannya lebih pintar dengan mau ikut terapi otak .

    Di rumah pelaku, korban diminta agar berbaring di atas tempat tidur dengan tidak mengenakan baju. Sebagai bantalnya, korban wajib menyangga kepalanya dengan menggunakan buku pelajaran matematika dan bahasa Inggris yang dibawanya.

    Tidak hanya itu, terdakwa juga membujuk korban untuk membuka celana korban dan terjadilah hal serupa dimana korban menggosokkan batu keseluruh tubuh korban hingga ke bagian yang sensitif korban. Usai melakukan terapi itu, terdakwa memberikan uang Rp5 ribu kepada korban dan mengancam kepada korban agar tidak memberitahu kepada orang lain.

    Korban juga diimbali uang. Dan, dimintakan membawa teman lainnya. Belakangan, mereka merasa ditipu. Keluarga korban memperkarakan si dukun cabul. (Rikando Somba)