MENGALAP SURGA DEVISA PARIWISATA

MENGAJAK WISATAWAN DOMESTIK BERMAIN DI NEGERI SENDIRI

Ketika berbicara mengenai pariwisata Indonesia, maka yang terpikir adalah wisatawan mancanegara. Padahal wisatawan domestik, atau istilah yang digunakan Kementerian Pariwisata adalah wisatawan nusantara (Wisnus), potensinya besar.

  • Sejumlah penari mementaskan sendratari kolosal Kidung Tengger saat pertunjukan Eksotika Bromo di Lautan Pasir kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Probolinggo, Jawa Timur, Jumat 7 Juli 2017. ANTARA FOTO/Zabur Karuru
    Sejumlah penari mementaskan sendratari kolosal Kidung Tengger saat pertunjukan Eksotika Bromo di Lautan Pasir kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Probolinggo, Jawa Timur, Jumat 7 Juli 2017. ANTARA FOTO/Zabur Karuru

    Oleh: *Sita Wardhani S, SE, MSc

    Sektor pariwisata Indonesia memiliki potensi yang menjanjikan. Berdasarkan Coutry Report yang dirilis oleh World Trade and Torism Council/WTCC (2015), kontribusi sektor pariwisata terhadap PDB Indonesia adalah sebesar 9,3%, ketiga terbesar setelah sektor pertanian dan sektor pertambangan, dan lebih besar dibandingkan sektor finansial, retail dan bahkan manufaktor. Meski angka ini kemudian di tahun 2016 turun menjadi 6,2% dan di tahun 2017 menjadi 4,3% (WTCC, 2017). Dari segi penyerapan tenaga kerja pun, sektor pariwisata memiliki peran yang besar. Sektor ini menyerap hingga 6,7 juta tenaga kerja di tahun 2016. Di tahun 2014, kemampuan sektor ini menyerap tenaga kerja lebih besar dibandingkan sektor-sektor lainnya, dan hanya lebih rendah dibandingkan sektor pendidikan, retail dan pertanian (WTCC, 2015).

    Peran yang besar dari sektor pariwisata di Indonesia tentu tidak mengherankan, sebab Indonesia memiliki bentang alam yang kaya, sebagai destinasi wisata. Indonesia memiliki garis pantai yang panjang, membentang sepanjang 54.716 km, terpanjang kedua, setelah Kanada. Selain itu, letak Indonesia dalam bentangan ring of fire dunia, di satu sisi membawa bencana, namun di sisi lain membawa potensi wisata pegunungan dan tanah yang subur dan kaya akan sumber daya alam dan dapat dinikmati wisatawan. 

    Keragaman budaya Indonesia yang berbeda dari sabang sampai merauke juga dapat menarik wisatawan, tidak hanya mancanegara, tapi juga domestik. Budaya yang berbeda ini dapat mendorong wisatawan domestik untuk memahami adat istiadat dari suku lainnya. Sebagai contoh, bagi wisatawan domestik, selain menikmati keindahan alam, adalah menikmati kuliner dari daerah lain di Indonesia.

    Ketika berbicara mengenai pariwisata Indonesia, maka yang terpikir adalah wisatawan mancanegara. Padahal wisatawan domestik, atau istilah yang digunakan Kementerian Pariwisata adalah wisatawan nusantara (Wisnus), potensinya besar. Dengan jumlah penduduk yang besar, maka penduduk Indonesia dapat menjadi sasaran promosi pariwisata dalam negeri.

    Jika membandingkan jumlah perjalanan wisnus dengan jumlah kedatangan wisatawan mancanegara, maka jumlah perjalanan wisman jauh lebih banyak dibandingkan kedatangan wisman. Hal ini dapat dilihat pada grafik di bawah ini

    Pola Pengeluaran Wisatawan
    Secara kuantitas, jumlah perjalanan wisatawan domestik jauh lebih besar dibandingkan jumlah kedatangan wisman. Dengan demikian, tentunya pengeluaran yang dilakukan wisnus pun secara total lebih besar dibandingkan wisman. Berdasarkan data yang dirilis oleh Kementerian Pariwisata (Kemenpar), total pengeluaran wisnus di tahun 2015 adalah sebesar Rp224,6 triliun, lebih besar dibandingkan total pengeluaran wisman sebesar Rp 167,73 triliun.

    Proporsi pengeluaran yang dilakukan wisatawan domestik sebagian besar digunakan untuk angkutan domestik, berbeda dengan wisatawan mancanegara, yang proporsi pengeluaran terbesarnya adalah untuk hotel dan akomodasi . Hal ini dapat diduga karena dalam berwisata, wisnus seringkali memilih untuk menginap di sanak saudara atau teman, oleh karena itu proporsi pengeluaran terbesar adalah untuk angkutan.

    Sebagai catatan, dalam pendataan Kementerian Pariwisata terhadap pengeluaran wisatawan, total pengeluaran tidak memasukkan angkutan internasional. Pengeluaran wisatawan hanya memasukkan pengeluaran di Indonesia. Kemudian, jika memasukkan angkutan internasional dalam pengeluaran yang dilakukan wisman maka total pengeluaran wisman adalah sebesar Rp175.71 triliun.

    Sedangkan bagi wisman, kecenderungannya adalah mereka datang untuk mengunjungi satu daerah, dan tidak banyak menggunakan angkutan untuk berpindah lokasi. Untuk komponen-komponen lainnya, dapat dikatakan proporsi pengeluaran yang dilakukan wisnus dibandingkan wisman tidak berbeda jauh. Hal ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini

    Namun dari segi pengeluaran, di tahun 2015, secara rata-rata untuk satu kali perjalanan seorang wisman akan mengeluarkan sebesar Rp632.520,  jauh lebih kecil dibandingkan pengeluaran rata-rata per kedatangan dari seorang wisman yang mencapai Rp21,59 juta. Namun jumlah pengeluaran wisman ini pun tidak berbeda jauh dengan pengeluaran yang dilakukan wisatawan indonesia di luar negeri. Hasil survey yang diadakan UOB pada tahun 2016, dengan judul “Study on Attitudes and Behaviours of Emerging Affluent 2016” menemukan bahwa rata-rata pengeluaran wisatawan nasional adalah sebesar Rp26,5 juta. Sebagai catatan, wisatawan nasional adalah istilah yang digunakan oleh Kementerian Pariwisata bagi wisatawan indonesia yang berlibur ke luar negeri.

    Biaya Transport Dalam Negeri Tinggi
    Pengeluaran yang dilakukan oleh wisatawan mancanegara memang jauh lebih besar dibandingkan pengeluaran wisnus. Namun demikian secara kuantitas, total pengeluaran wisnus masih lebih besar dibandingkan wisman. Selain itu, dapat kita lihat dari grafik 2, pengeluaran untuk makanan, cinderamata, jasa seni budaya dan rekreasi, dan komponen lainnya yang dilakukan oleh wisman dan wisnus tidak berbeda jauh, dan komponen-kompenen pengeluaran inilah yang memiliki dampak langsung terhadap daerah tujuan wisata. Hal ini menjadikan indikasi perlunya program dan promosi untuk mendorong agar wisman menjelajahi juga daerah wisata di Indonesia. 

    Promosi wisata daerah-daerah Indonesia saat ini banyak terbantu oleh media sosial. Kegemaran masyarakat Indonesia untuk mengunggah aktivitasnya membuat orang mengetahui daerah-daerah menarik untuk dikunjungi di dalam negeri. Bahkan muncul istilah lokasi yang “instagramable”, yang berarti lokasi yang bagus untuk diambil karena panoramanya, atau lokasi yang bagus untuk berfoto dengan latar belakang yang baik, untuk diunggah di aplikasi instagram. Instagram sendiri merupakan aplikasi untuk mengunggah foto, oleh karena itulah muncul istilah instagramable. Promosi wisata saat ini mudah dilakukan dengan memanfaatkan media sosial. Namun permasalahan lain yang muncul adalah biaya.

    Indonesia yang terdiri atas kepulauan, membuat transportasi menjadi salah satu komponen yang besar dalam berwisata di dalam negeri. Hal ini terbukti pada komponen angkutan domestikyang telah dijelaskan diatas, sebagai komponen terbesar dalam pengeluaran wisnus. Besarnya komponen transportasi ini pula yang seringkali menjadi faktor pendorong bagi masyarakat indonesia untuk memilih berwisata ke negeri tetangga, seperti malaysia, Singapura, atau Thailand. Dengan alasan biaya pesawat yang lebih murah, maka pilihan wisata luar negeripun dipilih, alih-alih berwisata di dalam negeri. Padahal, dengan berwisata ke luar negeri, maka belanja yang kita lakukan menjadi pendaptan bagi negara tujuan.

    Saat inipun sudah banyak kegiatan ataupun festival yang bersifat tahunan, dan dapat mengundang minat wisnus. Kegiatan-kegiatan seperti menikmati kehangatan musik jazz di pegunungan yang dingin seperti Festival Jazz Bromo ataupun Festival Jazz Ijen, ataupun parade fashion pada Festival Banyuwangi. Selain itu, saat ini gaya hidup pun dapat dimanfaatkan menjadi acara wisata, diantaranya lomba lari ataupun balap sepeda. Borobudur 10K merupakan kolaborasi Pemerintah Jawa Tengah dengan salah satu media nasional Indonesia, atau Tour de Singkarak yang pertama kali diadakan pada tahun 2009, dan menjadi ajang tahunan mulai tahun 2011. Borobudur Run maupun Tour De Singkarak telah menjadi ajang internasional dan bergengsi yang tentunya akan menarik pula minat wisatawan nusantara.

    Untuk itu, pemerintah pusat dan pemerintah daerah dapat bekerja sama dengan sektor privat lainnya, untuk mengadakan program yang dapat mendorong minat masyarakat indonesia untuk berwisata di dalam negeri. Selain festival-festival daerah, pemerintah dapat mengadakan pameran wisata yang mempromosikan daerah wisata di dalam negeri untuk masyarakat Indonesia yang memberikan potongan harga untuk biaya transportasi dan akomodasi.

    Referensi
    WTCC. (2015). Benchmark Report-Indonesia. World Travel and Tourism Council.

    WTCC. (2017). The Economic Impact of Travel and Tourism. World Travel and Toursm Councsil.