Lelang Enam Seri SUN, Pemerintah Raup Rp23,4 Triliun

Penyerapan SUN tersebut untuk memenuhi sebagian pembiayaan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara

  •  Ilustrasi Surat Hutang Negara (SUN). Validnews/Agung Natanael
    Ilustrasi Surat Hutang Negara (SUN). Validnews/Agung Natanael

    JAKARTA- Pemerintah menyerap dana Rp23,4 triliun dari lelang enam seri Surat Utang Negara (SUN). Serapan pemerintha tersebut sekitar separuh dari penawaran mencapai Rp46,4 triliun.

    Dalam keterangan yang diterima Validnews, Selasa (13/3), Direktur Surat Utang Negara, Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, kementerian Keuangan Loto Srinata Ginting menyebutkan, penyerapan SUN tersebut untuk memenuhi sebagian pembiayaan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Ia menyebutkan lelang kali ini memenuhi target indikatif yang ditetapkan Rp17 triliun.

    Jika dirinci, dari lelang tersebut, jumlah yang dimenangkan untuk seri SPN03180614 mencapai Rp5 triliun dengan imbal hasil rata-rata tertimbang 4,2035%. Penawaran untuk obligasi yang jatuh tempo pada tanggal 14 Juni 2018 ini mencapai Rp6,5 triliun. Imbal hasil terendah yang masuk untuk seri obligasi dengan tingkat kupon diskonto ini mencapai 4,14% dan imbal hasil tertinggi yang masuk sebesar 4,9%.

    Untuk seri SPN12190314, jumlah yang dimenangkan mencapai Rp5 triliun dengan imbal hasil rata-rata tertimbang 5,03161%. Penawaran untuk obligasi yang jatuh tempo pada tanggal 14 Maret 2019 mencapai Rp8,4 triliun. Imbal hasil terendah yang masuk untuk seri obligasi dengan tingkat kupon diskonto ini mencapai 4,94 % dan imbal hasil tertinggi yang masuk sebesar 5,5%.

    Adapun untuk seri FR063, jumlah nominal yang dimenangkan mencapai Rp1,4 triliun dengan imbal hasil rata-rata tertimbang 6,15958%. Penawaran untuk obligasi yang jatuh tempo pada tanggal 15 Mei 2023 mencapai Rp6,2 triliun. Imbal hasil terendah yang masuk bagi seri obligasi yang mempunyai tingkat kupon 5,625 % ini mencapai 6,15% dan imbal hasil tertinggi yang masuk sebesar 6,34%.

    Lalu untuk seri FR064, jumlah nominal yang dimenangkan mencapai Rp7,8 triliun dengan imbal hasil rata-rata tertimbang 6,74998%. Penawaran untuk obligasi yang jatuh tempo pada tanggal 15 Mei 2028 mencapai Rp17,06 triliun. Imbal hasil terendah yang masuk bagi seri obligasi yang mempunyai tingkat kupon 6,125% ini mencapai 6,72% dan imbal hasil tertinggi yang masuk sebesar 7,0%.

    Kemudian untuk seri FR075, jumlah nominal yang dimenangkan mencapai Rp3,7 triliun dengan imbal hasil rata-rata tertimbang 7,33990%. Penawaran untuk obligasi yang jatuh tempo pada tanggal 15 Mei 2038 mencapai Rp7,19 triliun. Imbal hasil terendah yang masuk bagi seri obligasi yang mempunyai tingkat kupon 7,5% ini mencapai 7,28% dan imbal hasil tertinggi yang masuk sebesar 7,49%.

    Sedangkan untuk seri FR076, jumlah nominal yang dimenangkan mencapai Rp0,5 triliun dengan imbal hasil rata-rata tertimbang 7,38451%. Penawaran untuk obligasi yang jatuh tempo pada tanggal 15 Mei 2048 mencapai Rp0,97 triliun. Imbal hasil terendah yang masuk bagi seri obligasi yang mempunyai tingkat kupon 7,375% ini mencapai 7,37% dan imbal hasil tertinggi yang masuk sebesar 7,6%.

    Sebelumnya, dalam lelang lima seri SUN pada hari Selasa (27/2), Pemerintah berhasil menyerap dana sebesar Rp23,1 triliun dari total penawaran yang masuk Rp41,08 triliun.

     

     

    Minat Tinggi
    Seperti dikutip Antara, Selasa (13/3), Analis pasar modal Lucky Bayu Purnomo menilai, minat investor terhadap instrumen surat utang atau obligasi masih cukup tinggi. Terlebih di tengah kondisi pasar saham yang cenderung menurun.

    "Instrumen itu dapat dijadikan sebagai alat lindung aset mengingat sifatya yang defensif. Di tengah kondisi pasar saham yang sedang menurun maka obligasi dapat menjadi pilihan," ujar Lucky Bayu Purnomo yang juga analis dari Danareksa Sekuritas.

    Ia menambahkan, investor cenderung meminati obligasi bertenor di atas 5 tahun karena yield yang ditawarkan cukup menarik dan lebih likuid untuk ditransaksikan di pasar sekunder. "Minat investor terhadap obligasi juga dipicu karena fundamental perekonomian nasional masih solid," tuturnya.

    Menurut dia minat investor yang cukup baik terhadap obligasi akan memicu penerbitan obligasi di dalam negeri marak. Apalagi, didukung dengan perinkat layak investasi (investment grade).

    Sementara itu, Direktur Utama Maybank Kim Eng Sekuritas Wilianto Ie mengemukakan, pihaknya menargetkan dapat menangani penerbitan obligasi sebanyak 10-15 obligasi korporasi dengan target nilai emisi sebesar Rp3 triliun.

    Menurutnya, saat ini makin banyak perusahaan yang tertarik untuk menerbitkan obligasi guna memenuhi kebutuhan pendanaannya meski dibayangi sentimen eksternal terkait kenakan suku bunga The Fed.

    "Risikonya adalah bunga yang akan didaftarkan menjadi lebih tinggi karena ada tekanan eksternal. Tetapi saya tidak melihat bahwa tekanan obligasi di Indonesia itu akan sekuat di AS," katanya.

    Ia pun berharap, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2018 ini tetap terjaga dan mencapai target yang dicanangkan di kisaran 5,3-5,4%. Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi akan terus mendukung pertumbuhan pasar modal dan obligasi.

    "Itu yang kita butuh, pertumbuhan ekonomi terjaga, pertumbuhan bisnis ada ketika pertumbuhan ekonomi itu juga ada," ucapnya. (Faisal Rachman)