Leisure Economy, Antara Perubahan Konsumsi, Disrupsi dan Potensi

Sebanyak 93% pelancong Indonesia pun lebih suka menyiapkan rencana liburannya berdasarkan rekomendasi dari media sosial. Lebih tinggi dari rata-rata dunia yang berencana dengan cara ini sebesar 76%

  • Sejumlah wisatawan di pantai Kuta, Bali. Validnews/Don Peter
    Sejumlah wisatawan di pantai Kuta, Bali. Validnews/Don Peter

    JAKARTA – Melambatnya konsumsi oleh beberapa pihak disebut sebagai salah satu realitas yang menunjukkan menurunnya daya beli masyarakat. Di sisi lain, belakangan ada kecenderungan terjadi perubahan pola hidup masyarakat yang memengaruhi preferensi dalam mengkonsumsi suatu barang dan jasa.

    Perlu diingat bahwa konsumsi masyarakat (rumah tangga) masih menjadi kontributor utama Produk Domestik Bruto (PDB), sekitar 54%. Jika ada perlambatan di sektor ini, tentu berpotensi besar mempengaruhi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

    Beragam hipotesis sampai prediksi-prediksi sederhana pun belakangan muncul. Semuanya berusaha membaca kondisi sebenarnya yang membuat konsumsi masyarakat tumbuh melemah.

    Prediksi terkait dengan gaya hidup yang lebih menyukai asupan sehat, makin giat berolahraga, hingga memilih menghabiskan uang untuk segala sesuatu yang sifatnya rekreasi, saat ini makin sering disebut sebagai penyebab berkurangnya konsumsi ritel di masyarakat. Bahasa pakar ekonominya, ada shifting yang terjadi, jika sebelumnya orang Indonesia gemar berbelanja, di zaman now orang lebih menggemari leisure economy.

    Shifting pola konsumsi ini sebenarnya lebih masuk akal menjadi alasan, ketimbang melulu menyalahkan e-commerce di balik menurunnya konsumsi rumah tangga di gerai-gerai ritel. Sebab dalam publikasi Nielsen Retail Measurement Services yang bertajuk Perlambatan Pertumbuhan Ritel dalam Fast Moving Consumer Good (FMCG) Indonesia, pangsa pasar online untuk FMCG hanya 1% dari total penjualan ritel yang nilainya berkisar Rp450 triliun pada tahun 2016.

    Ekonom yang sekaligus Staf Khusus Kemenko Kemaritiman, Purbaya Sadewa pun menyetujui bahwa ritel online bukanlah penyebab melambatnya konsumsi masyarakat Indonesia. Bagaimanapun mengenai konsumsi sendiri, ada banyak faktor yang memengaruhinya.

    “Misalnya tingkat penghasilan, kekhawatiran ekonomi jelek, mereka juga memilih untuk menurunkan konsumsi. Lalu kalau ada tren PHK, biasanya juga konsumsi melambat. Bisa juga bunga (bank) yang terlalu tinggi, maka cost of money-nya lebih tinggi,” ucapnya kepada Validnews, Senin (13/11).

    Mengenai melambatnya gerak konsumsi masyarakat, ekonom Faisal Basri pun mengamininya. Selain karena memang faktor pendapatan hingga keterjangkauan, terjadi pula perubahan pola konsumsi masyarakat. Di mana saat ini rata-rata kalangan menengah lebih mendorong porsi belanjanya ke sektor non-makanan. Perubahan teknologi menjadi salah satu pemicunya.

    “Misalnya pergeseran pola konsumsi dari kebutuhan non-leisure ke leisure. Menurut BPS, non-leisure meliputi makanan dan apparel; sedangkan leisure meliputi hospitality (hotel dan restoran) serta rekreasi dan budaya (recreation and culture),” ungkapnya seperti dilansir dalam situs pribadinya.

    Pertumbuhan kelas menengah sendiri, kata Faisal, juga ikut memegang andil dalam perubahan pola konsumsi ini. Ekonom ini menyebutkan, setidaknya pada tahun ini jumlah kelas menengah nusantara telah mencapai 60% dari total masyarakat.

    Adanya sektor ekonomi rekreasi yang melingkupi hospitality, rekreasi, dan budaya ini sejatinya diakui pula oleh Kepala BPS Suhariyanto. Menurutnya, saat ini masyarakat cenderung lebih menyukai menghabiskan uangnya untuk kegiatan waktu luang (leisure) dibandingkan membeli barang-barang konsumsi yang tidak primer.

    "Memang ada shifting menuju ke sana, entah bagian gaya hidup atau karena masyarakat sudah penat dan ingin take a break," ujar pria yang akrab disapa Kecuk ini, seperti dilansir Antara.

     

    Pilih Rekreasi
    Lebih memprioritaskan dana yang dimiliki untuk berwisata dibandingkan guna membeli barang-barang di luar kebutuhan utama dialami setidaknya oleh Nathalie Depari. Ia mengungkapkan lebih senang memakai gajinya untuk kegiatan jalan-jalan ke berbagai tempat pada saat waktunya senggang.

    Bahkan ia menargetkan untuk rutin melakukan perjalanan wisata 2—3 bulan sekali. “Sekali travelling itu sekitar 20% gaji. Tapi, itu travelling yang kecil-kecil. Kalau travelling yang gede-gede setahun sekali, mungkin satu bulan full gaji,” aku karyawan di usaha rintisan start-up Foodora yang berdomisi di Austria ini kepada Validnews, Selasa (14/11).

    Tiap bulannya ia pun rutin menyisihkan pendapatan untuk membiayai perjalanan-perjalanan yang diimpikannya. Atha, biasa ia disapa, pun tidak terlalu banyak membeli produk konsumsi sekunder, seperti baju ataupun sepatu, jika memang tidak benar-benar diperlukan. Dengan gaya hidup tersebut, hingga saat ini ia telah melanglang buana ke-24 negara.

    Selaras dengan Atha, Tris Febriana pun memiliki tabungan khusus untuk membiayai keinginannya berjalan-jalan. Bagi perempuan yang baru saja lulus pendidikan pascasarjana tersebut rekreasi rutin harus ada dalam agendanya setidaknya sekali dalam sebulan.

    Itupun hanya untuk tujuan domestik. Untuk traveling ke mancanegara, ia bertekad untuk melakukannya minimal sekali dalam setahun.

    “Setiap bulan 20% dari gaji gue ya ditabung buat jalan-jalan nantinya. Gue sih enggak terlalu tertarik buat shopping soalnya. Jalan-jalan lebih seru. Pikiran fresh, dapat kenangan, dapat foto-foto keren juga,” ucapnya kepada Validnews, Selasa (14/11).

    Tak heran, tingginya minat orang untuk berekrasi berdampak pula kepada sektor pariwisata Indonesia. Pertumbuhan kinerja yang signifikan terhadap sektor ini terjadi sejak kuartal kedua tahun 2015. Hingga kuartal III 2017, keunggulan pertumbuhan sektor leisure dibandingkan konsumsi rumah tangga masih tampak jelas.

    Berdasarkan data BPS, leisure economy yang di antaranya mencakup akomodasi dan restoran bertumbuh sebesar 5,52% secara year on year. Pertumbuhan ini melonjak cukup tajam dibandingkan pada kuartal III 2016 yang persentase perkembangannya sebesar 5,01%.

    Sementara itu, konsumsi rumah tangga hanya tumbuh 4,93% pada kuartal III 2017. Menurun dibandingkan pertumbuhannya pada kuartal 2016 sebesar 5,01%.

    Kecenderungan mengelola penghasilannya untuk kebutuhan yang sifatnya rekreasi tidak hanya terjadi di Indonesia. Berdasarkan survei dari Nielsen pada 2015, sejak tahun 2013 sudah ada kecenderungan masyarakat Asia-Pasifik untuk lebih banyak mengelola dananya dalam bentuk tabungan ataupun kegiatan lain yang bersifat rekreasi.

    Porsi untuk menabung sendiri sebenarnya yang paling besar, setidaknya 66% masyarakat mengaku menyediakan dana berlebih untuk kegiatan menabung. Sementara itu, kebutuhan jalan-jalan dianggap krusial oleh 44% penduduk Asia Pasifik.

    Rekreasi di luar rumah pun diidamkan oleh 42% penduduk wilayah regional ini. Sementara penduduk yang memilih menghabiskan lebih banyak dananya untuk membeli baju baru sendiri mencapai 42%.

    Berdasarkan studi yang sama, di Indonesia diketahui bahwa 46% konsumennya lebih royal menghabiskan uangnya untuk kebutuhan yang bersifat gaya hidup maupun pengalaman. Makan di luar rumah, berekreasi, memanjakan diri di salon, hingga berwisata ke destinasi menarik menjadi prioritas dibandingkan membeli barang-barang kebutuhan sekunder.

    Tak jarang guna mengurangi pengeluaran konsumsi rumah tangga, generasi milenial di Indonesia kerap melakukan kepemilikan bersama untuk produk-produk yang memungkinkan. Contohnya menggunakan sampo dalam kemasan secara bersama-sama di dalam keluarga atau indekos.

    Selisih dari pengeluaran yang bisa disimpan itu kemudian cenderung dialihkan untuk konsumsi yang lebih sarat pengalaman, seperti menonton film di bioskop ataupun nongkrong di kafe.

     

     

    Media Sosial
    Kecenderungan masyarakat yang mulai beralih ke konsumsi yang bersifat leisure, menurut peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus, sedikit banyak dipengaruhi media sosial.

    Rasa ingin tampil dan eksis di dunia maya akhirnya mendorong masyarakat untuk mengunjungi berbagai lokasi tertentu yang dianggap mampu menghasilkan foto-foto keren untuk dipajang di akun mereka. Lokasi yang instagramable pun jadi buruan.

    “Terus juga banyak artis yang pakai media sosial, jalan-jalan ke suatu tempat, lalu foto. Akhirnya, para fansnya juga mau ikut jalan-jalan ke situ untuk foto juga,” imbuhnya kepada Validnews, Selasa (14/11).

    Banyaknya referensi di media sosial terkait destinasi wisata menarik yang memengaruhi keinginan berlibur masyarakat diakui juga oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya, beberapa waktu lalu.  Ia menyebutkan bahkan lewat media sosial, efek pengaruhnya empat kali lebih besar dibandingkan promosi lewat media konvensional.

    Di samping itu, kemajuan teknologi yang memampukan orang-orang untuk melakukan pembelian secara online, tak ayal membuat masyarakat bisa lebih berhemat untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan konsumsi rumah tangganya. Maklum saja, harga barang yang ditawarkan situs belanja online biasanya lebih murah dan irit ongkos.   

    “Jadinya mereka kini setelah membeli barang-barang pokok memiliki uang sisa lebih banyak. Beberapa masyarakat menggunakan uang ini untuk memenuhi kebutuhan lainnya, salah satunya leisure,” ujarnya.

    Kemajuan teknologi ini pula membuat kebutuhan akan persiapan leisure lebih mudah dan lebih murah. Misalkan saja, saat ini untuk membeli tiket moda transportasi bisa dilakukan hanya lewat aplikasi. Memesan akomodasi pun dapat dilakukan jauh-jauh hari hanya dengan bermodalkan ponsel pintar dan jaringan internet.

    Begitu bergantungnya kegiatan wisata dengan digital terungkap pula dalam kajian Travelport, sebuah platform travel niaga terkemuka di dunia, seperti dilansir Antara. Diketahui wisatawan Indonesia cenderung menggunakan alat digital di setiap bagian dan proses perjalanan.

    Managing Director Asia Pacific Travelport Mark Meehan mengatakan, pemanfaataan alat digital pelancong Indonesia untuk kegiatan leisure ini menempati peringkat tiga besar dunia. China dan Indonesia berada di puncak klasemen sebagai negara dengan pelancong paling bergantung pada alat digital di seluruh dunia.

    Sebanyak 93% pelancong pun lebih suka menyiapkan rencana liburannya berdasarkan rekomendasi dari media sosial. Lebih tinggi dari rata-rata dunia yang berencana dengan cara ini sebesar 76%.

    "Temuan ini menunjukkan pentingnya alat digital bagi wisatawan sepanjang perjalanan mereka. Kami mengidentifikasi, adanya kebutuhan bagi industri perjalanan dan perhotelan global senilai US$7,6 triliun, untuk beradaptasi secara terus-menerus memberikan layanan yang responsif, relevan, dan tepat waktu bagi pelanggan," paparnya.

    Selain kian cukupnya memenuhi kebutuhan dasar dan lebih mudah dan murahnya merencanakan wisata, faktor tingkat stres juga ikut menyumbang tingginya minat masyarakat untuk melakukan kegiatan yang bersifat rekreatif.

    Pakar pemasaran Yuhwohandy seperti dikutip dalam situs pribadinya mengatakan, suasana yang kian kompetitif di tempat kerja pada akhirnya membuat orang-orang membutuhkan waktu sejenak untuk lepas dari rutinitas. Ini semata-mata agar kepenatan mereka tidak memuncak.

    “Dari sisi demand, beban kantor yang semakin berat dan lingkungan kerja yang sangat kompetitif menjadikan tingkat stress kaum pekerja (white collar) kita semakin tinggi. Hal inilah yang mendorong kebutuhan leisure,” ujarnya.

    Cukup besarnya shifting economy ini secara sadar atau tidak ikut memengaruhi pertumbuhan pariwisata di Indonesia. Di tahun ini hingga bulan Agustus, pariwisata Indonesia tumbuh 25,68%. Bandingkan dengan rata-rata pertumbuhan pariwisata dunia yang berada di kisaran 6%.

     

     

    Fenomena Global
    Fenomena shifting ke leisure economy memang sudah menjadi fenomena global. Setidaknya, berdasarkan publikasi BPS, total wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia pada September 2017 naik 20,47% secara year on year. Dari 1,01 juta kunjungan pada September 2016 menjadi 1,21 juta kunjungan pada September 2017.

    Secara kumulatif (Januari-September) 2017, jumlah kunjungan wisman ke Indonesia mencapai 10,46 juta kunjungan. Angka ini pun naik 25,05% dibandingkan kunjungan wisman pada periode yang sama tahun sebelumnya yang berjumlah 8,36 juta kunjungan.

    Kenaikan jumlah kunjungan tidak hanya terjadi di segi wisatawan mancanegara. Sektor wisatawan nusantara pun berpotensi besar seiring dengan berubahnya pola konsumsi ke arah leisure.

    Setidaknya, hal tersebutlah yang diungkapkan Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kementerian Pariwisata Dadang Rizki Rahman kepada Validnews. Arus wisatawan lokal bahkan bisa mencapai 265 juta perjalanan hingga akhir tahun. Angka ini naik sekitar 15 juta kunjungan dibandingkan jumlah perjalanan wisatawan nusantara pada 2015.

    “Lihat kunjungan ke beberapa destinasi, itu kecenderungannya naik. Itu tandanya sebetulnya bisa dilihat juga di weekend yang sering penuh. Coba saja weekend di beberapa daerah, pasti selalu penuh,” tukasnya.

    Untuk diketahui, jumlah perjalanan wisatawan nusantara pada 2016 mencapai 263,68 juta. Jumlah wisatawan mancanegaranya sendiri mencapai 1,202 kunjungan.

    Kementeriannya, kata Dadang, terus menggenjot pertumbuhan sektor ini dengan memanfaatkan peralihan pola konsumsi masyarakat. Hingga 2019, diharapkan Indonesia mendapat kedatangan wisman sebanyak 20 juta kunjungan dalam setahun.

    Promosi, pengembangan destinasi baru, hingga peningkatan kualitas pelayanan menjadi strategi pemerintah untuk merealisasikan asa tersebut.  Jenis -jenis wisata yang disukai para pelancong tak luput dipetakan oleh Kementerian Pariwisata.

    Didapati bahwa 60% dari wisatawan cenderung lebih memilih wisata budaya ketika mendatangi berbagai objek wisata. Kemudian sekitar 35%-nya lebih menyukai wisata alam dan 5%-nya memilih wisata buatan. Untuk itulah, kementerian membuat banyak program alias diversifikasi produk agar semua yang diminati wisatawan dapat tertampung di destinasi-destinasi wisata Indonesia.

    “Tapi, tetap harus ditata juga wisata alam dan lain sebagainya. Untuk apa? Untuk menambah long of stay-nya mereka. Jadi kalau lengkap misalnya, sehari di wisata budaya, sehari di wisata alam. Bisa lebih dari berapa hari,” ucapnya.

     

    Kontribusi ke Pertumbuhan
    Berdasarkan Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Pariwisata Indonesia 2016, diketahui sektor pariwisata mampu berkontribusi terhadap pendapatan domestik bruto sebesar Rp500,19 triliun pada tahun 2016. Ini setara dengan 4,03% total PDB harga berlaku pada tahun tersebut yang bernominal Rp12.406,81 triliun. Sumbangsih ini diprediksi terus meningkat sekitar Rp176 riliun-Rp184 triliun tiap tahunnya.

    Terlihat besar memang, namun kenyataannya sumbangsih ini sangat minim dibandingkan kontribusi konsumsi rumah tangga untuk PDB. Setidaknya dalam lima tahun terakhir, nilai konsumsi rumah tangga kerap menyumbang di kisaran 55% dari total PDB.

    Dari kemampuan menghasilkan lapangan pekerjaan, sektor pariwisata kerap disebut-sebut kurang mampu menyerap banyak tenaga kerja. Namun, hal ini langsung ditampik oleh Dadang. Menurutnya, pariwisata mampu memberikan lapangan kerja dan rezeki bagi banyak pihak. Sektor ini pun bisa dibilang cukup padat karya.

    “Untuk hotel, kalau ada 100 kamar itu paling sedikit 150—160 pekerja di sana. Coba restoran juga, satu restoran sudah ada berapa rata-rata pekerjanya, 20 ada. Itu yang sedang-sedang ya. Padat karyanya di situ. Jadi usaha yang langsung nyata mempekerjakan orang itu akomodasi sama restoran,” tuturnya.

    Jumlah tersebut belum terhitung orang yang akhirnya mampu berwirausaha dengan memanfaatkan keramaian dari lokasi wisata di suatu tempat.

    Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Suahasil Nazara pun memandang sektor pariwisata bisa membuat geliat ekonomi untuk ekonomi kreatif. Yang pada akhirnya, membuka peluang pula untuk penyerapan tenaga kerja yang tidak sedikit.

    “Kan ada demand yang meningkat untuk barang-barang rekreasi, tourism, seperti itu. Yang kemudian connect dengan barang-barang kerajinan, barang-barang manufaktur,” ujarnya kepada Validnews, Senin (13/11).

    Namun ia mengingatkan, pola perubahan konsumsi ini bukannya bersifat permanen. Perubahan sangat mungkin terjadi lagi ke depannya bergantung tren di masyarakat. Untuk itulah, pemerintah mesti senantiasa memantau selera masyarakat untuk bisa mengoptimalkan sektor yang memang tengah menjadi hits.

    Apalagi, shifting ke leisure economy menurut pelaku usaha justru tak terlalu dirasa signifikan. Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani mengatakan, sejauh ini belum ada lonjakan berarti pada tingkat okupansi hotel.

    "Kami tidak menemukan terjadi shifting ke hotel, dan kami juga tanya ke temen-temen taman rekreasi juga tidak terlihat lonjakan signifikan. Juga temen-temen travel agent yang mengelola outbond," tuturnya.

    Disrupsi Ekonomi
    Menurut Haryadi, pada semester I-2017 memang sempat terjadi lonjakan cukup signifikan terhadap okupansi hotel. Namun, hal itu tak terlepas dari adanya libur panjang Idul Fitri dan beberapa libur panjang di akhir pekan.

    Menurut data dari Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), ada kurang lebih 2.300 hotel berbintang di Indonesia (bintang satu sampai lima), yang mempunyai hampir 290.000 kamar. Sementara itu, menurut angka dari Badan Pusat Statistik (BPS) ada lebih dari 16.000 hotel non-bintang di Indonesia dan memiliki total kamar sekitar 285.000 jumlah kamar.

    Meskipun okupansi hotel seluruh Indonesia sepanjang 2016 masih lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya, sektor hotel dan pariwisata sebenarnya tengah menghadapi tantangan yang cukup berat tahun ini. Soalnya, ada kondisi kelebihan pasokan kamar (oversupply) yang terjadi di beberapa kota besar.

    Berdasarkan data BPS, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel klasifikasi bintang di Indonesia pada September 2017 mencapai rata-rata 58,42 persen atau naik 4,26 poin dibandingkan TPK September 2016 yang sebesar 54,16 persen. Demikian juga, jika dibanding dengan TPK Agustus 2017 yang tercatat 58,00 persen, TPK September 2017 mengalami kenaikan sebesar 0,42 poin.

    Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengatakan, disrupsi digital (digital disruption) juga mempengaruhi industri perhotelan dan dampaknya bisa positif dan negatif. Menurutnya, industri perhotelan tidak bisa memungkiri kalau okupansi hotel sangat terbantu oleh jasa yang disediakan dari online travel agency.

    "Kalau dilihat jumlah kamarnya, Indonesia ini yang terbesar di kawasan Asia Tenggara. Kita tidak ada lawannya kita di Asia Tenggara. Angka tadi itu belum termasuk dari jumlah kamar yang tersedia melalui konsep ekonomi berbagi (sharing economy)," ujar Hariyadi.

    Hariyadi mengatakan para pemilik dan operator hotel saat ini harus bisa beradaptasi dengan tuntutan dari online travel agency, yang meminta komisi lebih tinggi dari travel agency konvensional. "Komisinya mereka itu cukup tinggi, antara 15—30%," ucapnya.

    Namun, bukan hanya itu Hariyadi, yang juga menjabat Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyoroti dengan serius masalah perpajakan terkait Online Travel Agency asing, terutama terkait Pajak Penghasilan Pasal 26 (Pph Pasal 26). (Teodora Nirmala Fau, Rizal, Fin Harini, Faisal Rachman)