HR Rasuna Said, Singa Betina dari Barat Sumatera

  • Hajjah Rangkayo Rasuna Said. Ist
    Hajjah Rangkayo Rasuna Said. Ist

    JAKARTA- Tanggal 2 November 2017 kemarin, tepat 52 tahun peringatan wafatnya HR Rasuna Said. Buat penduduk Jakarta, nama HR Rasuna Said mungkin sudah sangat akrab ditelinga. Namun, nama tersebut bisa jadi lebih banyak dikenal sebagai salah satu nama jalan utama di ibu kota ketimbang nama seorang pejuang kemerdekaan dan pahlawan nasional wanita.

    Nama lengkapnya, Hajjah Rangkayo Rasuna Said. Ia lahir di Maninjau, Agam, Sumatera Barat, 14 September 1910. Ia keturunan bangsawan Minang. Ayahnya bernama Muhamad Said, seorang pengusaha dan aktivis pergerakan

    Seperti halnya Kartini di Pulau Jawa, sejatinya ia juga ikut memperjuangkan adanya persamaan hak antara pria dan wanita. Hanya saja, nama dan kiprahnya memang tak setenar Kartini yang hari lahirnya diperingati setiap tahun.

    Rasuna Said bukan pemimpin yang muncul mendadak. Ketokohan dan jiwa pergarakannya sudah tertempa sejak kecil. Semasa kecil ia tinggal pada kakak ayahnya yang memimpin keluarganya dan memimpin usaha bersama mereka, yaitu C.V. Tunaro Yunus. Usaha dagangnya berhasil hingga keluarga itu cukup kaya dan terpandang di tengah masyarakat.

    Di umur 6 tahun, Rasuna disekolahkan pada sekolah Desa di Maninjau sampai kelas 5 tamat. Selepas dari Sekolah Dasar, Rasuna dikirim ayahnya untuk belajar di pesantrean Ar Rasyidiyah di Padang Panjang di bawah pimpinan Zainudin Labai El Yunusi, seorang tokoh gerakan Thawalib. Saat itu dia satu-satunya santri perempuan.

    Gerakan Thawalib sendiri adalah gerakan yang dibangun kaum reformis islam di Sumatera Barat. Banyak pemimpin gerakan ini dipengaruhi oleh pemikiran nasionalis-islam Turki, Mustafa Kamal (Kamal Attaturk).

    Di sekolah Rasuna dikenal sebagai siswa cerdas, tangkas, dan pemberani. Saat itu, di tempatnya menimba ilmu, ada kebiasaan murid mengajar di kelas yang lebih rendah. Dengan demikian Rasuna Said mendapat latihan mengajar dan diangkat menjadi pembantu mengajar di sekolah.

    Di samping itu, bersama ibu Rahmah Ei Yunusi pula ia belajar secara pribadi kepada Dr. H. Abdul Karim Amurullah, seorang pemimpin terkemuka dari Kaum Muda di Padang Panjang, ayah pejuang dan pahlawan nasional Haji Abdul Karim Malik Amrullah (HAMKA). Rasuna pun mendapatkan pengajaran soal pentingnya pembaharuan pemikiran Islam dan kebebasan berfikir.

    Rasuna Said tumbuh dewasa di tengah bersemainya gerakan nasionalis, marxisme, dan islam modernis di Sumatera Barat. Saat itu, batasan antara aktivis kiri, nasionalis, dan Islam tidaklah begitu tegas dan tebal. Jamaluddin Tamin, misalnya, dikenal sebagai tokoh gerakan Thawalib, tetapi juga pendiri Sarekat Rakyat (SI-Merah) yang berhaluan marxis.

    Jamaluddin Tamin dikenal sangat dekat dengan tokoh komunis Sumatera Barat, Haji Datuk Batuah. Sedangkan Haji Datuk Batuah merupakan pengikut tokoh Komunis Islam Solo, Haji Misbach. Ia sangat tertarik untuk memadukan antara islam dan marxisme.

    Di “Sekolah Thawalib” tersebut Rasuna Said termasuk murid terpandai. Pelajaran yang menurut jadwal tamat setelah 4 tahun belajar, dapat diselesaikan oleh Rasuna dalam waktu 2 tahun.

     

    Rasuna Said muda. ist

    Partai Politik
    Di tahun 1926, Rasuna Said bergabung Sarekat Rakyat sebagai Sekretaris Cabang. Namun, Rasuna Said tidak lama berjuang bersama Sarekat Rakyat. Pasca pemberontakan PKI di Silungkang, Sumatera Barat, polisi rahasia Belanda mengejar aktivis kiri, baik PKI maupun Sarekat Rakyat.

    Sementara itu, sejumlah aktivis Sarekat Rakyat yang tidak setuju dengan pemberontakan, telah mengubah organisasi ini menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) pada tahun 1930-an.

    Kemudian pada tahun 1932, sebagian tokoh-tokoh gerakan Thawalib mendirikan organisasi baru bernama Persatuan Muslimin Indonesia (PERMI). Rasuna bergabung dengan PERMI, organisasi politik yang berhaluan anti-kolonialisme.

    Di PERMI, Rasuna ditempatkan di seksi propaganda. Pekerjaan inilah yang mendekatkan dirinya dengan koran dan orasi politik. Rasuna dikenal sebagai seorang orator hebat. Seorang tokoh islam, H Hasymi, pernah menggambarkan kehebatan kemampuan pidato Rasuna. “Pidato-pitato Rasuna laksana petir di siang hari. Kata-katanya tajam membahana,” serunya.

    Perhatian PERMI lebih banyak kepada soal-soal politik, bahkan akhirnya dalam tahun 1932 menyatakan dirinya sebagai partai politik dan berubah menjadi ”Partai Muslimin Indonesia” dengan haluan radikal non-koperasi (tidak bekerjasama dengan Pemerintah Hindia Belanda). Pemimpin utamanya H. Muchtar Luthfi, keluarga Universitas Al Azhar di Mesir.

    Karena PERMI menjadi partai politik dan PSII pun suatu partai politik, maka Rasuna Said yang menjadi anggota dari kedua partai itu menetapkan pilihannya pada PERMI. Di PERMI Rasuna terlihat amat menonjol. Ia pun memberikan kursus-kursus, antara lain pelajaran berpidato dan berdebat sebagai latihan ketajaman pikiran.

    Dimana-mana ia memberikan ceramah untuk para anggota PERMI dan berpidato dimuka umum membentangkan azas dan tujuan partainya, yaitu: Kebangsaan (Nasionalisme) yang berjiwa Islam, dan berhaluan non-koperasi untuk mencapai Indonesia Merdeka.

    Selain itu, ia juga mendirikan sekolah rakyat bernama “Sekolah Menyesal”, yang fokus pada pemberantasan buta huruf di kalangan rakyat jelata. Rasuna berpandangan, untuk memajukan rakyat, mereka harus bisa dibuat pandai membaca dan menulis. Ia juga mendirikan kursus-kursus putri untuk memajukan kesadaran sosial dan politik kaum perempuan.

     

    Rumah HR. Rasuna Said di Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Ist

    Penjara
    Pidatonya yang berani, tajam, dan berdaya gugat benar-benar menghunjam tatanan kolonial. Tidak heran, lantaran pidatonya itu, Rasuna sering berurusan dengan Politike Inlichtingen Dienst (PID) atau  polisi rahasia Belanda.

    Hingga akhirnya pada waktu ia berpidato di rapat umum PERMI di Payakumbuh dalam tahun 1932, ia dilarang meneruskan pidatonya, kemudian ditangkap, ditahan dalam penjara, diajukan ke muka Pengadilan Kolonial. Ia dijatuhi hukuman 1 tahun 2 bulan dengan tuduhan delik mimbar (spreekdelict) dan diasingkan ke Semarang, Jawa Tengah.

    Di tempat pengasingannya itu, ia masuk penjara Wanita Bulu, dalam kota Semarang. Di dalam penjara yang sama itu wanita pemimpin terkemuka, Surastri Karma (S.K) Trimurti, tokoh pers dan bekas Menteri Perburuhan R.I berkali-kali dijebloskan karena tulisan-tulisannya yang tajam yang dianggap oleh penguasa menghasut rakyat menentang penjajah.

    Setelah selesai menjalani hukuman, ia pulang ke Sumatera Barat dan tinggal di Padang. Ia meneruskan pendidikannya di Islamic College pimpinan KH Mochtar Jahja dan Dr Kusuma Atmaja, Jaksa Agung RI yang pertama. Dalam hal menuntut ilmu, Rasuna Said berpegang teguh pada ajaran Islam.

    Di tahun 1935, Ia terpilih sebagai pemimpin redaksi majalah ”Raya” yang diterbitkan oleh para murid Islamic College. Pena Rasuna terkenal tajam hingga majalah tersebut dikenal radikal. Namun PID mempersempit ruang gerak Rasuna dan kawan-kawan.

    Intimidasi yang dilakukan pemerintah Hindia Belanda terhadap PERMI akhirnya membuat PERMI terpakasa membubarkan diri pada tanggal 28 Oktober 1937. Ia pun meninggalkan Sumatera Barat, tanah kelahirannya yang penuh kenangan duka dan suka ke kota Medan, Sumatera Utara.

    Di Medan ia merintis jalannya sendiri, yaitu melaksanakan rencana yang meliputi 2 bidang, yaitu,  pendidikan dengan mendirikan ”Perguruan Puteri”, dan Jurnalistik dengan menerbitkan media massa ”Menara Poeteri”.

    Ia banyak berbicara soal perempuan. Meski begitu, sasaran pokoknya adalah memasukkan kesadaran pergerakan, yaitu antikolonialisme, di tengah-tengah kaum perempuan. Rasuna Said menulis di rubrik Pojok dan kerap menggunakan nama samara, Seliguri, yang konon kabarnya merupakan nama sebuah bunga.

    Sebuah koran di Surabaya, “Penyebar Semangat”, pernah menulis perihal Menara Poetri ini, "Di Medan ada sebuah surat kabar bernama Menara Poetri; isinya dimaksudkan untuk jagad keputrian. Bahasanya bagus, dipimpin oleh Rangkayo Rasuna Said, seorang putri yang pernah masuk penjara karena berkorban untuk pergerakan nasional."

    Sayangnya, Akan tetapi, koran Menara Poetri tidak berumur panjang. Persoalannya, sebagian besar pelanggannya tidak membayar tagihan korannya. Konon, hanya 10% pembaca Menara Poetri yang membayar tagihan. Karena itu, Menara Poetri pun ditutup.

    Rasuna Said tinggal dan berjuang di Kota Medan hingga Pemerintah Hindia Belanda bertekuk lutut pada Jepang. Pada permulaan jaman lepang ia kembali ke Padang dan tidak berhenti berjuang.

    Bersama dengan Chotib Sulaeman ia mendirikan ”Pemuda Nipon Raya” untuk mempersatukan pemuda-pemuda di Sumatera Barat. Pada lahirnya, perkumpulan itu bekerjasama dengan Pemerintah Jepang, namun hakekatnya membentuk kader-kader perjuangan Kemerdekaan.

    Pada suatu saat ia berhadapan dengan pembesar Jepang, Mishimoto dan mengungkapkan isi hatinya. ”Boleh tuan menyebut Asia Raya, karena tuan menang (perang), tetapi Indonesia Raya pasti ada di sini”. Berkata demikian ia menunjuk pada dadanya sendiri.

    Jepang yang akhirnya mengetahui cita-cita yang sebenarnya dari ”Pemuda Nipon Raya”, maka membubarkan perkumpulan tersebut. Pemimpin-pemimpin rakyat di Sumatera Barat yang tak luntur keyakinannya, terus berjuang. Setelah di Jawa dibentuk Heiho dan PETA (Pembela Tanah Air), maka para pemimpin rakyat di Sumatera Barat mengusulkan kepada pemerintah Jepang untuk membentuk Laskar Rakyat yang disebut ”Gya Gun”.

    Usui tersebut diterima. Gya Gun dibentuk dan sebagai pelaksanaannya ditunjuk Chotib Sulaeman, sedang Rasuna Said duduk memimpin bagian puteri dengan nama: ”Tubuh Ibu Pusat Laskar Rakyat”. Rasuna Said giat pula didalam propaganda, khususnya dengan tujuan membentuk kader perjuangan bangsa.

    Jalan Rasuna Said, Jakarta. Ist

    Karir Politik
    Pada tanggal 13 Agustus 1945 Rasuna Said bersama-sama dengan tokoh-tokoh dan pemimpin-pemimpin lainnya membentuk ”Komite Nasional Indonesia” (KNI). Sumatera Barat sebagai Badan yang pertama-tama didirikan di Sumatera Barat untuk memantapkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang sudah di proklamasikan oleh Bung Karno dan Bung Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945 di Jakarta.

    Rasuna Said giat sekali dan melebarkan sayap KNI Sumatera Barat dengan membentuk KNI Kawedanan dan Nagari. Untuk itu ia mengunjungi daerah-daerah untuk menggembleng rakyat.

    Pada waktu dibentuk ”Panitya Pembentukan Dewan Perwakilan Nagari” yang bersama-sama Wali Nagari (Kepala Daerah) jasanya cukup besar dalam pembentukan Dewan Perwakilan Nagari itu.

    Kelanjutan dari pada usaha tersebut, pada tanggal 17 April 1946 dibentuk Dewan Perwakilan Sumatera (DPS) dan Rasuna Said terpilih mewakili daerah Sumatera Barat, bersama-sama dengan Iain-lain tokoh seluruh Sumatera.

    Karir Rasuna Said dalam politik terus meningkat. Pada sidang Pleno KNI Sumatera Barat yang ke 8 pada tanggal 4-6 Januari 1947 ia terpilih menjadi salah seorang dari 15 orang anggota yang mewakili Sumatera untuk duduk di dalam KNI Pusat di Jakarta.

    Dari 15 orang itu akhirnya 12 orang yang diangkat menjadi anggota KNI Pusat 11 orang lainnya dari Sumatera Barat mengikuti sidang KNIP di Malang dalam tahun 1847, suatu sidang yang bersejarah karena menetapkan (meratifikasi) Perjanjian Linggarjati.

    Selanjutnya di dalam segala hal mengenai Sumatera Barat, Rasuna Said tidak pernah ditinggalkan. Atas anjuran Bung Hatta dibentuklah ”Front Pertahanan Nasional” (FPN) yang diketuai oleh Hamka. FPN itu beranggotakan seluruh kekuatan yang ada di dalam masyarakat, baik parta-partai politik, maupun organisasi massa serta kekuatan sosial ekonomi. Dalam kegiatan ini Rasuna Said duduk pula sebagai anggota pengurus seksi wanita.

    Kemudian Rasuna Said diangkat menjadi anggota Badan Pekerja (BP) KNIP yang berkedudukan di Yogyakarta. Dengan terbentuknya Republik Indonesia Serikat (RIS) sebagai hasil Konferensi Meja Bundar, Rasuna Said ditunjuk menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia Serikat.

    Paska kemerdekaan 17 Agustus 1945, di dalam DPR sementara Rasuna Said ditunjuk menjadi anggotanya. Kemudian pada tanggal 11 Juli 1957 ia ditunjuk menjadi anggota Dewan Nasional dan setelah Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959 ia ditunjuk sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung.

    Rasuna sendiri adalah pendukung setia Bung Karno. Pada saat pemberontakan PRRI-Permesta meletus, Rasuna merupakan salah satu tokoh pejuang Sumatera Barat yang memihak NKRI dan Bung Karno. Banyak kawan akrabnya, bahkan bekas suaminya, menjadi pendukung PRRI-Permesta.

    Tak banyak memang cerita soal pribadi dan kehidupan rumah tangga Rasuna. Beberapa cerita hanya mengatakan lantaran terlalu sibuk meleburkan diri dalam pergerakan, Rasuna jarang bertemu dengan suaminya dan akhirnya bercerai. Rasuna dikabarkan sempat menikah lagi dengan seorang aktivis kiri, Bariun AS. Akan tetapi, pernikahan dengan orang Medan ini juga tidak berumur panjang.

    Dalam menghadapi pemberontak PRRI di Sumatera Barat, ia pun berterus terang kepada Akhmad Husein, pemimpin tertinggi PRRI dengan mengingatkannya, agar jangan memberontak membawa-bawa rakyat Sumatera Barat.

    Rasuna pernah diundang untuk menghadiri pidato Soekarno pada tanggal 18 Maret 1958 di Bandung. Soekarno bahkan memuji Rasuna. “Tokoh pahlawan sekaliber HR Rasuna Said saja tetap mendukung, dan membantu jalannya revolusi, serta tegaknya Republik Indonesia yang telah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945,” ujar Soekarno.

    Karena keaktifannya di dunia politik dan pergerakan, Rasuna pun kurang memperhatikan kesehatannya sendiri. Ia baru diketahui mengidap penyakit kanker darah ketika sudah terlanjur parah. Rasuna akhirnya meninggal dunia pada 2 November 1965 pada umur 55 tahun.

    Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Karena perjuangannya untuk kemerdekaan bangsa, tanggal 13 Desember 1974 Rasuna digelari Pahlawan Nasional dengan SK Presiden No 084/TK/Tahun 1974. Namanya pun tak hanya abadi di daerah Minang, tapi juga di kawasan Kuningan, Jakarta. Sebagai nama jalan yang akan terus mengenang sosok Singa Betina dari Sumatera. (Faisal Rachman, Dituliskan kembali dari berbagai sumber)