BI Tepis Kekhawatiran Rupiah Longsor ke Level Rp15.000

BI pun memproyeksikan, pelemahan rupiah akan segera berakhir pasca-The Fed mengeluarkan kebijakan suku bunganya pada 20 Maret nanti

  • Petugas menata tumpukan uang rupiah dan dolar Amerika di Cash Center Bank Mandiri, Jakarta, Rabu (7/3). ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
    Petugas menata tumpukan uang rupiah dan dolar Amerika di Cash Center Bank Mandiri, Jakarta, Rabu (7/3). ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

    JAKARTA-  Bank Indonesia menepis pendapat yang menyatakan nilai tukar rupiah berpotensi menembus level Rp15.000 per Dolar AS. Bank sentral mengaku belum melihat adanya potensi depresiasi rupiah sampai ke level batas psikologis tersebut.

    Sebaliknya, BI pun memproyeksikan, pelemahan rupiah akan segera berakhir pasca-The Fed mengeluarkan kebijakan suku bunganya pada 20 Maret nanti. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Doddy Zulverdi di Jakarta, Rabu (14/3) menuturkan, saat ini fundamental ekonomi Indonesia cukup terjaga baik.

    Ia menyebut sejumlah indikator yang menujukan hal tersebut, di antaranya laju inflasi di sasaran 2,5-4,5% (tahun ke tahun/yoy), defisit neraca transaksi pembayaran yang dijaga di 2,-2,5% PDB dan juga prospek pemulihan pertumbuhan ekonomi.

    Menurut Doddy, jikapun ada proyeksi dari lembaga di luar BI mengenai depresiasi rupiah yang dalam, angka yang muncul dinilai hanya merupakan angka psikologis berdasarkan uji ketahanan (stress test).

    "Tidak melihat risiko ke arah sana, dari sisi nilai tukar. Dengan kondisi fundamental sekarang, berapapun yang angka psikologis yang muncul, secara fundamental, tidak akan terjadi," kata Doddy.

    Sebelumnya, lembaga rating Standard and Poor’s (S&P) memprediksi rupiah bakal melemah ke level Rp 15.000 per dollar Amerika Serikat (AS). S&P mengingatkan Indoensia agar mewaspadai gejolak di sektor moneter.

    Titik episentrum gejolak moneter sendiri menurut S&P adalah kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve AS sampai empat kali. Langkah bank sentral AS ini dinilai bakal menyedot dana asing di Indonesia, serta menaikkan beban bunga utang. Efeknya, rupiah akan melemah dan bisa menguncang daya tahan ekonomi Indonesia.

    Namun, Doddy mengatakan angka depresiasi tersebut bukan sebuah proyeksi. Angka yang muncul dari uji ketahanan biasanya berdasarkan pengalaman depresiasi yang pernah terjadi.

    "Siapapun bisa bicara. Nilai tukar sensitif bagi ekonomi. Level itu semacam psikologis dan kami memandang berapapun level itu, itu adalah level psikologis yang mengacu ke kejadian sebelumnya, ke angka tertinggi yang pernah terjadi," tuturnya.

    Saat ini posisi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berada di kisaran Rp13.700-an per dolar AS. Menurut Doddy, nilai tersebut sudah tidak mencerminkan fundamental perekonomian Indonesia.

    "Level sekarang menurut penilaian kami bukan sesuai fundamental. Bisa menguat harusnya, sekarang sudah menguat tapi belum sesuai fundamental. Harus lebih kuat dari posisi sekarang," ujarnya.

     

     

    Lebih Terjaga
    Untuk diketahui, sejak 1 Maret hingga 14 Maret, kurs rupiah terdepresiasi sebesar 0,27% (month to date). Jika dihitung sejak 1 Januari hingga 1 Maret 2018, rupiah terdepresiasi 1,5%.

    "Rupiah memang masih sedikit melemah. Namun, dibandingkan negara high yield country, pelemahan Rupiah ini masih cukup minim dan lebih terjaga," kata Doddy.

    Dirinya mengatakan, hanya Afrika Selatan yang pelemahan mata uangnya lebih rendah dari Indonesia yaitu hanya 0,17 %. Sementara negara lainnya seperti Turki mata uangnya telah melemah 0,32 %, Brazil 0,28 %, dan Rusia 0,49 %. Bahkan sejumlah negara volatilitas mata uangnya mencapai hampir 10% seperti, won (Korea Selatan) 9%, peso (Filipina) 9,7%, serta baht Thailand sebesar 10%.

    Nilai tukar rupiah dalam transaksi antarbank di Jakarta pada Rabu (14/3) pagi bergerak naik empat poin menjadi Rp 13.731 per dolar AS dari Rp 13.735 per dolar AS.

    Anjloknya nilai mata uang Garuda di awal tahun ini menyedot cadangan devisa (cadev) yang ada di Bank Indonesia (BI). Jika pada Januari posisi cadev masih sebesar US$131,98 miliar, pada akhir Februari angkanya tergerus US$3,9 miliar menjadi US$128,06 miliar.

    Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada mengatakan, optimisme pemerintah terhadap perekonomian ini pun yang memberi harapan positif pada pelaku pasar di dalam negeri. Pada akhirnya, akan berimbas ke stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

    "Pernyataan BI dan Kementerian Keuangan terhadap optimisme kian membaiknya ekonomi Indonesia memberikan imbas positif pada bertahannya rupiah di area penguatan," ucap Reza.

    Ia berpandangan, pergerakan rupiah masih berpotensi fluktuatif karena kenaikan suku bunga Bank Sentral AS atau The Fed. Selain itu, limbungnya rupiah tak bisa dipisahkan dari efek kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengeluarkan aturan terkait pajak untuk baja dan aluminium.

    "Meski belum terjadi, namun ini memberi sentimen positif bagi dolar AS," imbuh analis ini.

    Sementara itu, Ekonom Samuel Sekuritas, Ahmad Mikail melihat, laju dolar AS tertahan hingga rupiah bisa sedikit menguat merupakan akibat masih rendahnya inflasi di AS. Rendahnya inflasi ini meredakan kekhawatiran bahwa bunga The Fed akan naik lebih dari tiga kali.

    "Data inflasi di AS naik tipis di Februari sebesar 2,2% (yoy) dibandingkan bulan Januari sebesar 2,1 % (yoy)," tandasnya.

    Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyatakan, fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sejak awal tahun lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal. "Sebetulnya ada asal mula dari luar, sehingga jangan terlalu khawatir," kata Darmin.

    Darmin yakin, fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih dalam keadaan baik. Sehingga penyebab pergerakan rupiah belum mengkhawatirkan, apalagi IHSG masih dalam keadaan stabil. "Kalau masih sebentar, kurs baik, IHSG masih baik, itu belum konsisten dia memburuk," tuturnya. (Teodora Nirmala Fau, Faisal Rachman)